alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Pilkada, Budayawan Ajak Berpolitik Santun

PAMEKASAN – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dipastikan menguras tenaga. Di Madura hanya Sumenep yang tidak menggelar pesta demokrasi lima tahunan ini. Meski kompetisi menjadi pemimpin itu akan ketat, namun masyarakat diminta berpolitik secara santun.

Demikian disampaikan Budayawan Kadarisman Sastrodiwirjo Rabu (27/9). Mantan wakil bupati (Wabup) Pamekasan dua periode itu menyampaikan pesan penting kepada masyarakat dan para tokoh. Menurut dia, para tokoh harus siap menjalankan politik santun.

Politisi tidak seharusnya saling menghujat satu sama lainnya. ”Berkompetisilah secara damai agar masyarakat tidak terkoyak-koyak. Masing-masing figur harus berkompetisi dengan baik,” terangnya.

Kompetisi politik tidak boleh menyebabkan perpecahan masyarakat. Masing-masing kompetitor saling menghormati. Sebab, setiap calon dipastikan memiliki kelemahan.

”Saya minta para tokoh tidak hanya mempunyai keinginan untuk menjadi bupati atau wakil bupati. Setelah jadi harus bisa merangkul semua potensi yang ada dan membawa perubahan yang lebih baik,” terangnya.

Baca Juga :  Pasangan Latif-Mohni Dukung Akfar Yannas Husada

Pada dasarnya, para tokoh dituntut bisa meningkatkan beberapa aspek. Khususnya yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Seperti dalam bidang politik, pendidikan, dan ekonomi. Para pemimpin harus banyak turun dan bicara langsung dengan rakyat. 

”Saya tidak menggurui, tidak. Tapi ini adalah pengalaman saya saat mengabdi di Pamekasan,” ujarnya saat ditemui di Masjid Jamik As-Syuhada.

Saat ini masyarakat mengharapkan pemimpin yang bisa membawa ke kondisi yang lebih baik dan lebih maju. Yaitu mereka yang mampu menghimpun segala kekuatan-kekuatan masyarakat. ”Perlu pendekatan ke semua kelompok masyarakat. Boleh calon itu didukung oleh A dan B. Tapi, nanti ketika jadi bupati harus merangkul A, B, C, D, dan seterusnya. Harus bisa merangkul semuanya,” tegasnya.

Pemimpin juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat. Berdasarkan teori administrasi, lanjut pria yang akrab disapa Dadang itu, maksud memberdayakan adalah membuka akses masyarakat ke pusat pengambil keputusan. Sebab masyarakat banyak yang tidak memiliki akses.

Baca Juga :  Delapan Masalah Harus Diatasi Pemkab

”Misalkan tukang becak, nelayan, mereka tidak bisa memiliki akses langsung. Karenanya, diperlukan adanya tokoh, partai, LSM, wartawan, dan potensi-potensi lainnya. Harus bisa menyambungkan antara mereka yang tidak memiliki akses ke pusat pengambilan keputusan,” papar Dadang.

Selain itu, pemimpin harus memerhatikan budaya. Kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan tidak mengesampingkan budaya yang sudah tertata dengan baik. Misalkan, budaya santun, budaya religi, dan lain sebagainya.

”Harus membangun masyarakat yang maju, namun tiak mengesampingkan budaya lokal, budaya religi, budaya santun, dan mengorangkan pemimpin,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dipastikan menguras tenaga. Di Madura hanya Sumenep yang tidak menggelar pesta demokrasi lima tahunan ini. Meski kompetisi menjadi pemimpin itu akan ketat, namun masyarakat diminta berpolitik secara santun.

Demikian disampaikan Budayawan Kadarisman Sastrodiwirjo Rabu (27/9). Mantan wakil bupati (Wabup) Pamekasan dua periode itu menyampaikan pesan penting kepada masyarakat dan para tokoh. Menurut dia, para tokoh harus siap menjalankan politik santun.

Politisi tidak seharusnya saling menghujat satu sama lainnya. ”Berkompetisilah secara damai agar masyarakat tidak terkoyak-koyak. Masing-masing figur harus berkompetisi dengan baik,” terangnya.

Kompetisi politik tidak boleh menyebabkan perpecahan masyarakat. Masing-masing kompetitor saling menghormati. Sebab, setiap calon dipastikan memiliki kelemahan.

”Saya minta para tokoh tidak hanya mempunyai keinginan untuk menjadi bupati atau wakil bupati. Setelah jadi harus bisa merangkul semua potensi yang ada dan membawa perubahan yang lebih baik,” terangnya.

Baca Juga :  Pasangan Latif-Mohni Dukung Akfar Yannas Husada

Pada dasarnya, para tokoh dituntut bisa meningkatkan beberapa aspek. Khususnya yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Seperti dalam bidang politik, pendidikan, dan ekonomi. Para pemimpin harus banyak turun dan bicara langsung dengan rakyat. 

”Saya tidak menggurui, tidak. Tapi ini adalah pengalaman saya saat mengabdi di Pamekasan,” ujarnya saat ditemui di Masjid Jamik As-Syuhada.

Saat ini masyarakat mengharapkan pemimpin yang bisa membawa ke kondisi yang lebih baik dan lebih maju. Yaitu mereka yang mampu menghimpun segala kekuatan-kekuatan masyarakat. ”Perlu pendekatan ke semua kelompok masyarakat. Boleh calon itu didukung oleh A dan B. Tapi, nanti ketika jadi bupati harus merangkul A, B, C, D, dan seterusnya. Harus bisa merangkul semuanya,” tegasnya.

Pemimpin juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat. Berdasarkan teori administrasi, lanjut pria yang akrab disapa Dadang itu, maksud memberdayakan adalah membuka akses masyarakat ke pusat pengambil keputusan. Sebab masyarakat banyak yang tidak memiliki akses.

Baca Juga :  Pilkada 2018, Pendaftaran Demokrat Kembali Ditunda

”Misalkan tukang becak, nelayan, mereka tidak bisa memiliki akses langsung. Karenanya, diperlukan adanya tokoh, partai, LSM, wartawan, dan potensi-potensi lainnya. Harus bisa menyambungkan antara mereka yang tidak memiliki akses ke pusat pengambilan keputusan,” papar Dadang.

Selain itu, pemimpin harus memerhatikan budaya. Kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan tidak mengesampingkan budaya yang sudah tertata dengan baik. Misalkan, budaya santun, budaya religi, dan lain sebagainya.

”Harus membangun masyarakat yang maju, namun tiak mengesampingkan budaya lokal, budaya religi, budaya santun, dan mengorangkan pemimpin,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/