alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Janji Mengabdi untuk Ibu Pertiwi

   DI Sampang, tiga perempuan berasal dari dapil berbeda resmi jadi anggota DPRD. Srikandi parlemen itu berjanji akan mengabdi untuk ibu pertiwi.

Pertama, Sri Rustiana dari dapil III yang mencakup Kecamatan Sreseh, Tambelangan, dan Jrengik. Dia merupakan pendatang baru dari fraksi Demokrat.

Perempuan yang akrab disapa Tia ini lahir di Sampang, 8 Mei 1989. Sebelum terjun ke dunia politik, dia lebih dikenal sebagai tenaga kesehatan. Selama enam tahun, dari 2011–2017, dia merupakan tenaga keperawatan di Puskesmas Tambelangan.

Latar belakang inilah yang juga menjadi pemacu semangatnya untuk maju di parlemen. Tia ingin memperjuangkan hak-hak kesehatan warga, khususnya perempuan. Sebab, selama ini kesadaran perempuan atau ibu terhadap kesehatan masih rendah.

Termasuk bidang pendidikan terhadap perempuan juga akan menjadi garapannya. Sebab sampai saat ini, menurutnya, masih banyak anak-anak perempuan di pelosok desa yang langsung dinikahkan setelah lulus sekolah. ”Saya ingin perempuan juga mengenyam pendidikan yang tinggi, sama seperti laki-laki,” katanya kemarin (25/8).

Srikandi kedua yang juga duduk di kursi DPRD Sampang yakni Kumala Puspita Hadi. Perempuan yang akrab disapa Nonik ini merupakan anggota dewan incumbent dari dapil III yang meliputi Kecamatan Kedungdung dan Robatal. Pada periode 2014–2019 dia juga duduk di parlemen dari Demokrat.

Sebagai legislator incumbent, Nonik mengaku lebih mudah dalam bekerja. Sebab, dia tinggal melanjutkan dari yang sudah dikerjakan selama lima tahun ke belakang. Dalam lima tahun ke depan, dia ingin bekerja lebih optimal, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Nonik lahir di Surabaya, 23 September 1991. Dia merupakan perempuan yang menggandrungi dunia seni, budaya, dan pariwisata. Dia juga merupakan pemilik sapi karapan Hajar Boss Predator yang kerap menjuarai lomba tingkat regional dan nasional.

Baca Juga :  Pembahasan┬áTatib DPRD Terkendala SOTK

”Karena saya sukanya di bidang pariwisata, maka saya dari kemarin-kemarin memang fokus menyuarakan kebijakan di bidang kepariwisataan,” paparnya.

Wakil rakyat ketiga yakni Suhuvil Mukarromah. Perempuan kelahiran Jember, 31 Desember 1996 ini maju dari dapil 4 yang meliputi Kecamatan Ketapang dan Banyuates. Dia merupakan pendatang baru yang maju menggunakan kendaraan PDI Perjuangan.

Suhuvil Mukarromah merupakan salah satu legislator muda di Sampang. Saat ini dia masih berstatus sebagai mahasiswa fakultas hukum di salah satu universitas swasta di Surabaya. Dia juga merupakan lulusan Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Solo.

”Saya mencalonkan anggota DPRD karena ingin memperjuangkan kesejahteraan untuk masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak,” tegasnya.

”Kedua, memberikan perubahan untuk Sampang lebih baik dan ingin membuktikan bahwa kaum milenial itu bisa diperhitungkan dalam perpolitikan Sampang,” tukasnya.

Sementara di Kota Keris, ada ada empat perempuan yang sudah dilantik menjadi anggota DPRD Sumenep, Rabu (21/8). Mereka adalah Nia Kurnia dari PDIP, Siti Hosana PAN, Nur Aini Demokrat, dan Melly Sufianti dari partai Hanura.

Dalam perhelatan pemilihan legislatif (pileg) 17 April lalu, srikandi-srikandi itu mendapatkan dukungan suara yang tidak sedikit. Bahkan, ada yang mengungguli dari caleg lama.

Saat ditemui RadarMadura.id kemarin, Nia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang masyarakat berikan. ”Saya ingin turut berkontribusi di pemerintahan untuk memperjuangkan keinginan masyarakat yang di bawah,” terangnya.

Baca Juga :  Mengunjungi RKH. Fuad Amin Imron di Lapas Kelas I Sukamiskin

Bermodal pengalaman menjadi wakil ketua PKK Kabupaten Sumenep, Nia banyak tahu kebutuhan masyarakat yang disampaikan saat dirinya turun ke lapangan. Dia berkomitmen untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat.

”Dengan saya ada di dewan, semakin luas lagi ruang gerak saya dibandingkan hanya menjadi Wakil Ketua PKK,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Melly Sufianti mengaku tidak main-main terjun di kancah perpolitikan. Keinginan itu timbul lantaran dirinya suka bergaul dengan masyarakat dari berbagai golongan. Dengan begitu, dia tahu kebutuhan masyarakat saat ini. ”Dalam kontestasi politik kami tidak hanya ingin meramaikan,” tuturnya.

Melly menyadari, tanggung jawab sebagai anggota dewan sangat berat. Bahkan, kerja nyatanya untuk masyarakat sangat ditunggu. ”Saya akan bekerja sepenuh hati untuk masyarakat,” janji politikus dari dapil V itu.

Siti Hosana menyampaikan alasannya terjun ke dunia politik. Di antaranya ingin mengabdi kepada masyarakat, khususnya dapil III. Dengan menjadi anggota dewan, dia akan memiliki kesempatan untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya.

”Mengutamakan hubungan sosial antara saya dan masyarakat sehingga tercipta relasi yang kuat di antara kami,” kata Hosana.

Sementara Nur Aini mengutarakan, sengaja mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Alasannya, dia menilai banyak masyarakat yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. ”Saya ingin turun sendiri,” ucapnya.

Di samping itu, kata dia, banyak anggota dewan yang tutup mata setelah terpilih. Dan, terkesan hanya ingin memperkaya diri sendiri. Dia berjanji akan menghilangkan budaya itu dengan menunjukkan kerja nyata untuk beberapa tahun ke depan.

”Banyak yang lupa setelah terpilih dan mencari rakyat ketika menjelang pemilihan lagi,” pungkasnya. (jup)

- Advertisement -

   DI Sampang, tiga perempuan berasal dari dapil berbeda resmi jadi anggota DPRD. Srikandi parlemen itu berjanji akan mengabdi untuk ibu pertiwi.

Pertama, Sri Rustiana dari dapil III yang mencakup Kecamatan Sreseh, Tambelangan, dan Jrengik. Dia merupakan pendatang baru dari fraksi Demokrat.

Perempuan yang akrab disapa Tia ini lahir di Sampang, 8 Mei 1989. Sebelum terjun ke dunia politik, dia lebih dikenal sebagai tenaga kesehatan. Selama enam tahun, dari 2011–2017, dia merupakan tenaga keperawatan di Puskesmas Tambelangan.


Latar belakang inilah yang juga menjadi pemacu semangatnya untuk maju di parlemen. Tia ingin memperjuangkan hak-hak kesehatan warga, khususnya perempuan. Sebab, selama ini kesadaran perempuan atau ibu terhadap kesehatan masih rendah.

Termasuk bidang pendidikan terhadap perempuan juga akan menjadi garapannya. Sebab sampai saat ini, menurutnya, masih banyak anak-anak perempuan di pelosok desa yang langsung dinikahkan setelah lulus sekolah. ”Saya ingin perempuan juga mengenyam pendidikan yang tinggi, sama seperti laki-laki,” katanya kemarin (25/8).

Srikandi kedua yang juga duduk di kursi DPRD Sampang yakni Kumala Puspita Hadi. Perempuan yang akrab disapa Nonik ini merupakan anggota dewan incumbent dari dapil III yang meliputi Kecamatan Kedungdung dan Robatal. Pada periode 2014–2019 dia juga duduk di parlemen dari Demokrat.

Sebagai legislator incumbent, Nonik mengaku lebih mudah dalam bekerja. Sebab, dia tinggal melanjutkan dari yang sudah dikerjakan selama lima tahun ke belakang. Dalam lima tahun ke depan, dia ingin bekerja lebih optimal, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Nonik lahir di Surabaya, 23 September 1991. Dia merupakan perempuan yang menggandrungi dunia seni, budaya, dan pariwisata. Dia juga merupakan pemilik sapi karapan Hajar Boss Predator yang kerap menjuarai lomba tingkat regional dan nasional.

Baca Juga :  Perombakan Kurikulum Jangan Abaikan Kearifan Lokal

”Karena saya sukanya di bidang pariwisata, maka saya dari kemarin-kemarin memang fokus menyuarakan kebijakan di bidang kepariwisataan,” paparnya.

Wakil rakyat ketiga yakni Suhuvil Mukarromah. Perempuan kelahiran Jember, 31 Desember 1996 ini maju dari dapil 4 yang meliputi Kecamatan Ketapang dan Banyuates. Dia merupakan pendatang baru yang maju menggunakan kendaraan PDI Perjuangan.

Suhuvil Mukarromah merupakan salah satu legislator muda di Sampang. Saat ini dia masih berstatus sebagai mahasiswa fakultas hukum di salah satu universitas swasta di Surabaya. Dia juga merupakan lulusan Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Solo.

”Saya mencalonkan anggota DPRD karena ingin memperjuangkan kesejahteraan untuk masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak,” tegasnya.

”Kedua, memberikan perubahan untuk Sampang lebih baik dan ingin membuktikan bahwa kaum milenial itu bisa diperhitungkan dalam perpolitikan Sampang,” tukasnya.

Sementara di Kota Keris, ada ada empat perempuan yang sudah dilantik menjadi anggota DPRD Sumenep, Rabu (21/8). Mereka adalah Nia Kurnia dari PDIP, Siti Hosana PAN, Nur Aini Demokrat, dan Melly Sufianti dari partai Hanura.

Dalam perhelatan pemilihan legislatif (pileg) 17 April lalu, srikandi-srikandi itu mendapatkan dukungan suara yang tidak sedikit. Bahkan, ada yang mengungguli dari caleg lama.

Saat ditemui RadarMadura.id kemarin, Nia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang masyarakat berikan. ”Saya ingin turut berkontribusi di pemerintahan untuk memperjuangkan keinginan masyarakat yang di bawah,” terangnya.

Baca Juga :  Suhu Politik Kian Panas

Bermodal pengalaman menjadi wakil ketua PKK Kabupaten Sumenep, Nia banyak tahu kebutuhan masyarakat yang disampaikan saat dirinya turun ke lapangan. Dia berkomitmen untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat.

”Dengan saya ada di dewan, semakin luas lagi ruang gerak saya dibandingkan hanya menjadi Wakil Ketua PKK,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Melly Sufianti mengaku tidak main-main terjun di kancah perpolitikan. Keinginan itu timbul lantaran dirinya suka bergaul dengan masyarakat dari berbagai golongan. Dengan begitu, dia tahu kebutuhan masyarakat saat ini. ”Dalam kontestasi politik kami tidak hanya ingin meramaikan,” tuturnya.

Melly menyadari, tanggung jawab sebagai anggota dewan sangat berat. Bahkan, kerja nyatanya untuk masyarakat sangat ditunggu. ”Saya akan bekerja sepenuh hati untuk masyarakat,” janji politikus dari dapil V itu.

Siti Hosana menyampaikan alasannya terjun ke dunia politik. Di antaranya ingin mengabdi kepada masyarakat, khususnya dapil III. Dengan menjadi anggota dewan, dia akan memiliki kesempatan untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya.

”Mengutamakan hubungan sosial antara saya dan masyarakat sehingga tercipta relasi yang kuat di antara kami,” kata Hosana.

Sementara Nur Aini mengutarakan, sengaja mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Alasannya, dia menilai banyak masyarakat yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. ”Saya ingin turun sendiri,” ucapnya.

Di samping itu, kata dia, banyak anggota dewan yang tutup mata setelah terpilih. Dan, terkesan hanya ingin memperkaya diri sendiri. Dia berjanji akan menghilangkan budaya itu dengan menunjukkan kerja nyata untuk beberapa tahun ke depan.

”Banyak yang lupa setelah terpilih dan mencari rakyat ketika menjelang pemilihan lagi,” pungkasnya. (jup)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/