alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

PSU Hanya Dihadiri 41 Pemilih

MALAS. Itulah alasan warga tidak mencoblos kembali pada pemungutan suara ulang (PSU). Dari 238 daftar pemilih tetap (DPT), hanya 41 orang yang datang menggunakan hak suaranya lagi.

Partisipasi pemilih yang rendah itu terjadi di TPS 06 Desa Madupat, Kecamatan Camplong, Sampang, kemarin (25/4). Tingkat kehadiran pemilih di TPS ini hanya berkisar 17 persen. Pada pencoblosan pertama (17/4) hanya lima orang yang tidak hadir ke TPS.

Ketua PPS Desa Madupat Nuruddin mengatakan, pihaknya sudah mendistribusikan formulir C6 sehari sebelum PSU. Tingkat kehadiran pemilih rendah itu murni karena kehendak pemilih. ”Mungkin masyarakat sudah males nyoblos lagi,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, pada saat menyebarkan C6, sebagian warga ada yang protes. Mereka bertanya alasan disuruh mencoblos lagi. Bahkan, sebagian ada yang menolak formulir C6. ”Alhamdulillah, PSU terlaksana dengan sukses dan lancar,” terangnya.

Perolehan suara pada PSU pilpres di TPS 06 unggul nomor 01 dengan jumlah 21 suara. Sementara nomor urut 02 memperoleh 19 suara. Satu suara dinyatakan tidak sah. ”Pencoblosan pertama Jokowi hanya dapat satu suara di sini. Sisanya milik Prabowo,” pungkasnya.

Pengawas TPS Rosul menambahkan, partisipasi pemilih turun drastis dibanding yang pertama. Masyarakat lebih memilih menyelesaikan pekerjaan daripada hadir lagi ke TPS untuk mencoblos.

Baca Juga :  Gus Ipul Silaturahmi Bersama Ulama, Kiai, Bu Nyai Se-Madura

Selain itu, pihaknya menyampaikan klarifikasi insiden awal yang menyebabkan TPS 06 Desa Madupat PSU. Yakni, video rekaman yang memperlihatkan oknum panitia mencoblos surat suara pilpres bukan di TPS 06 Desa Madupat. ”Ada yang memfitnah kami para panitia di TPS 06. Kami juga sudah sampaikan kepada panwascam saat dipanggil ke kecamatan kalau itu tidak benar,” paparnya.

Dalam video tersebut oknum panitia beberapa kali mencoblos surat suara nomor 01. Padahal, capres nomor urut 01 di TPS 06 hanya memperoleh satu suara. Sisanya milik capres nomor urut 02. ”Yang dituduhkan kepada kami kan sudah tidak sesuai fakta. Lagian di video itu tidak ada wajah yang ditampakkan,” tegas Rosul.

Sementara kehadiran pemilih pada PSU di TPS 09 Desa Rabasan, Kecamatan Camplong, lebih 50 persen. DPT di TPS tersebut 234 orang, sedangkan yang hadir 172 orang.

Ketua PPS Desa Rabasan Tohar mengatakan, PSU di TPS 09 untuk semua jenis pemilihan. Yaitu, pilpres, DPD RI, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten. ”Kehadiran pemilih di atas lima puluh persen,” katanya.

Baca Juga :  KPU Pastikan Kotak Suara Karton Aman

Calon presiden nomor urut 01 memperoleh 10 suara dan nomor urut 02 memperoleh 158 suara. Sisa 4 suara dinyatakan tidak sah. ”Partisipasi masyarakat masih tinggi karena kelima jenis pemilihan yang diulang,” ungkapnya.

Berbeda dengan PSU di TPS 03 Desa Trapang, Kecamatan Banyuates. Dari DPT 116 orang, hanya satu warga yang tidak hadir ke TPS untuk mencoblos. Surat suara yang terpakai 115 lembar. Namun, ada 4 suara yang dinyatakan tidak sah. ”TPS ini hanya PSU di pemilihan DPRD kabupaten saja,” terang Ketua Panwascam Banyuates Sidiq.

Ketua KPU Sampang Syamsul Muarif mengatakan, seluruh tahapan dalam pelaksanaan PSU yang direkomendasikan Bawaslu sudah dilaksanakan sesuai prosedur. Secara keseluruhan PSU terlaksana cukup baik dan sukses. Meskipun, ada TPS yang kehadiran pemilihnya hanya belasan persen.

Namun, sebagai penyelenggara, pihaknya telah memfasilitasi dan melayani masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada pileg dan pilpres ini. Setelah penghitungan selesai, logistik segera digeser ke kecamatan. ”Sehingga, rekapitulasi suara di TPS yang PSU bisa segera diakumulasikan,” terangnya.

MALAS. Itulah alasan warga tidak mencoblos kembali pada pemungutan suara ulang (PSU). Dari 238 daftar pemilih tetap (DPT), hanya 41 orang yang datang menggunakan hak suaranya lagi.

Partisipasi pemilih yang rendah itu terjadi di TPS 06 Desa Madupat, Kecamatan Camplong, Sampang, kemarin (25/4). Tingkat kehadiran pemilih di TPS ini hanya berkisar 17 persen. Pada pencoblosan pertama (17/4) hanya lima orang yang tidak hadir ke TPS.

Ketua PPS Desa Madupat Nuruddin mengatakan, pihaknya sudah mendistribusikan formulir C6 sehari sebelum PSU. Tingkat kehadiran pemilih rendah itu murni karena kehendak pemilih. ”Mungkin masyarakat sudah males nyoblos lagi,” ungkapnya.


Dia mengungkapkan, pada saat menyebarkan C6, sebagian warga ada yang protes. Mereka bertanya alasan disuruh mencoblos lagi. Bahkan, sebagian ada yang menolak formulir C6. ”Alhamdulillah, PSU terlaksana dengan sukses dan lancar,” terangnya.

Perolehan suara pada PSU pilpres di TPS 06 unggul nomor 01 dengan jumlah 21 suara. Sementara nomor urut 02 memperoleh 19 suara. Satu suara dinyatakan tidak sah. ”Pencoblosan pertama Jokowi hanya dapat satu suara di sini. Sisanya milik Prabowo,” pungkasnya.

Pengawas TPS Rosul menambahkan, partisipasi pemilih turun drastis dibanding yang pertama. Masyarakat lebih memilih menyelesaikan pekerjaan daripada hadir lagi ke TPS untuk mencoblos.

Baca Juga :  Gagal Ikut Pilkada 2018, Rudy: Berhenti Sampai di Sini

Selain itu, pihaknya menyampaikan klarifikasi insiden awal yang menyebabkan TPS 06 Desa Madupat PSU. Yakni, video rekaman yang memperlihatkan oknum panitia mencoblos surat suara pilpres bukan di TPS 06 Desa Madupat. ”Ada yang memfitnah kami para panitia di TPS 06. Kami juga sudah sampaikan kepada panwascam saat dipanggil ke kecamatan kalau itu tidak benar,” paparnya.

Dalam video tersebut oknum panitia beberapa kali mencoblos surat suara nomor 01. Padahal, capres nomor urut 01 di TPS 06 hanya memperoleh satu suara. Sisanya milik capres nomor urut 02. ”Yang dituduhkan kepada kami kan sudah tidak sesuai fakta. Lagian di video itu tidak ada wajah yang ditampakkan,” tegas Rosul.

Sementara kehadiran pemilih pada PSU di TPS 09 Desa Rabasan, Kecamatan Camplong, lebih 50 persen. DPT di TPS tersebut 234 orang, sedangkan yang hadir 172 orang.

Ketua PPS Desa Rabasan Tohar mengatakan, PSU di TPS 09 untuk semua jenis pemilihan. Yaitu, pilpres, DPD RI, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten. ”Kehadiran pemilih di atas lima puluh persen,” katanya.

Baca Juga :  Jumlah TPS Membengkak

Calon presiden nomor urut 01 memperoleh 10 suara dan nomor urut 02 memperoleh 158 suara. Sisa 4 suara dinyatakan tidak sah. ”Partisipasi masyarakat masih tinggi karena kelima jenis pemilihan yang diulang,” ungkapnya.

Berbeda dengan PSU di TPS 03 Desa Trapang, Kecamatan Banyuates. Dari DPT 116 orang, hanya satu warga yang tidak hadir ke TPS untuk mencoblos. Surat suara yang terpakai 115 lembar. Namun, ada 4 suara yang dinyatakan tidak sah. ”TPS ini hanya PSU di pemilihan DPRD kabupaten saja,” terang Ketua Panwascam Banyuates Sidiq.

Ketua KPU Sampang Syamsul Muarif mengatakan, seluruh tahapan dalam pelaksanaan PSU yang direkomendasikan Bawaslu sudah dilaksanakan sesuai prosedur. Secara keseluruhan PSU terlaksana cukup baik dan sukses. Meskipun, ada TPS yang kehadiran pemilihnya hanya belasan persen.

Namun, sebagai penyelenggara, pihaknya telah memfasilitasi dan melayani masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada pileg dan pilpres ini. Setelah penghitungan selesai, logistik segera digeser ke kecamatan. ”Sehingga, rekapitulasi suara di TPS yang PSU bisa segera diakumulasikan,” terangnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/