
Oleh HESBULLAH
PENGEMBANGAN pemikiran holistik siswa yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi acuan sebagai terlaksananya Kurikulum Merdeka di setiap sekolah. Saat ini kurikulum tersebut dapat diterapkan di setiap sekolah guna menyongsong kreativitas dan keaktifan siswa lebih mendalam dengan mengacu pada pendidikan Pancasila yang dijadikan dasar dalam kurikulum ini. Program Kurikulum Merdeka juga membantu pembelajaran agar lebih aktif, interaktif, dan komunikatif. Siswa dapat lebih cepat memahami pembelajaran serta menjadikan suasana pembelajaran berlangsung kreatif, karena dalam kurikulum tersebut menekankan siswa maupun guru harus mampu berkomunikasi yang baik dan berkolaborasi aktif demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu, penting rasanya Kurikulum Merdeka diterapkan karena sangat relevan dengan kehidupan di zaman yang memang sudah serba internet dan mengharuskan siswa mencari bukan menunggu ilmu atau meraih kesempatan demi kesuksesan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak bonus demografi dan perkembangan zaman menjadi sesuatu yg harus diimbangi baik oleh siswa maupun guru. Dalam Kurikulum Merdeka para siswa dan guru tidak lagi menjadi pasif dalam hal penerapannya, namun kurikulum ini menuntut aktif dan mandiri dalam segi implementasinya, sehingga ini bisa menjadi berkesinambungan dengan perkembangan zaman dan ilmu teknologi yang kian melesat jauh perkembangannya.
Kurikulum Merdeka ini pun juga tidak hanya berfokus pada materi pembelajaran saja yang dikembangkan, namun juga berfokus pada pendidikan karakter, dalam hal ini para siswa harus mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam membentuk karakter dan jati diri dari siswa tersebut. Kemampuan berpikir tidak cukup menjadi dasar bagi para siswa untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka, tuntutan akhlak dan karakter yang baik juga harus mereka laksanakan.
Namun, dalam kurikulum ini tidak hanya murid yang dituntut dalam kemampuan berpikir, bersikap, dan berkarakter, guru pun sebagai tenaga pendidik juga wajib memiliki keleluasaan untuk menggunakan perangkat ajar sebagai faktor pendidikan, mampu dan cakap dalam problem solving yang tepat dalam menanggapi siswa selama kurikulum ini diterapkan. Tentunya kurikulum ini memiliki tujuan tersendiri dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, seperti meningkatkan kualitas pembelajaran, penyesuaian pembelajaran dengan minat dan bakat siswa, memudahkan guru dalam menerapkan pembelajaran, dan beberapa tujuan lainnya.
Pada Kurikulum 2013 tidak ada peserta didik yang dominan dalam pembelajaran tertentu, melainkan mengombinasikan tema di kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka, sangat mendukung peserta didik untuk meningkatkan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam penggunaan teknologi. Beberapa contoh perbedaan antara Kurikulum Merdeka dengan kurikulum sebelumnya yakni:
Kurikulum Merdeka
Dalam proses belajar mengajar difokuskan pada kemandirian serta keberagaman dalam belajar. Sedangkan pembelajaran berbasis proyek menekankan pada pembelajaran yang relevan dalam kehidupan nyata yang tidak terlepas dari pengembangan karakter serta memanfaatkan tehnologi dalam setiap pembelajaran serta memberikan kelulusan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Kurikulum Merdeka memiliki visi, yaitu pemberdayaan peserta didik dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan. Tujuannya adalah untuk menghadapi tantangan global dengan menciptakan lulusan yang mandiri, kreatif, dan inovatif.
Kurikulum 2013
Pada Kurikulum 2013 (K-13) tidak ada peserta didik yang dominan dalam pembelajaran tertentu, melainkan mengombinasikan tema di kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada Kurikulum Merdeka, sangat mendukung peserta didik untuk meningkatkan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam penggunaan teknologi.
Kurikulum ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lokal peserta didik serta mendorong peserta didik untuk mandiri. Penyatuan konsep-konsep tematik dengan tema yang lebih besar serta pengembangan karakter berfokus pada karakter yang positif, yang berorientasi pada hasil dan kompetensi, sedangkan penilaian cukup beragam dan yang tak kalah pentingnya adalah pengembangan profesi guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.
Kesimpulan
Hingga saat ini Indonesia terus menjadi negara yang mengembangkan faktor pendidikan guna mempersiapkan keberlanjutan pemuda sebagai penerus bangsa dan menjadikan karakter siswa yang lebih bersinergi dengan pendidikan karakter dalam Pancasila.
Kedua kurikulum ini memiliki perbedaan dalam pendekatan, namun keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia serta menciptakan lulusan yang kompeten, berdaya saing global serta memiliki integritas moral yang tinggi. Sehingga, dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi perkembangan pendidikan dan kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan. (*)
*)Guru SDN Sumedangan 3, Pademawu
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




