Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Luas Lahan Tambak Garam Menyusut

Amin Basiri • Rabu, 26 November 2025 | 20:32 WIB
HASIL PRODUKSI: Buruh garam sedang mengangkut garam menggunakan motor di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Selasa (25/11).
HASIL PRODUKSI: Buruh garam sedang mengangkut garam menggunakan motor di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Selasa (25/11).

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil garam terbesar di Madura.

Namun, seiring berjalannya waktu, luas lahan garam rakyat di Bumi Pamelingan terus mengalami penyusutan.

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Abdul Fata melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Luthfie Asy’ari, menyampaikan bahwa tahun ini luas lahan garam rakyat di Kota Gerbang Salam hanya mencapai 959,7 hektare, berkurang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Pada 2024, luas lahan garam rakyat mencapai 961,6 hektare. Berkurang 1,9 hektare, hampir dua hektare,” ungkap Luthfie.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan berkurangnya luas lahan garam.

Di antaranya, alih fungsi lahan menjadi kawasan budidaya udang maupun perumahan.

Namun, faktor yang paling dominan adalah perubahan lahan garam menjadi tambak udang.

Meski demikian, pihaknya terus berupaya agar penyusutan lahan tidak berdampak signifikan terhadap produksi garam.

Salah satunya melalui dorongan kepada para petani untuk menggunakan teknologi modern dalam proses pengkristalan.

"Sejauh ini, alhamdulillah, luas lahan yang ada masih mendukung capaian produksi. Tetapi yang lebih penting adalah penerapan teknologi, seperti geomembran,” ujarnya.

Luthfie menjelaskan bahwa produksi garam rakyat di Pamekasan tahun ini mencapai 36.570 ton.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 119.700 ton.

Kendati demikian, produksi garam memang tidak memiliki target khusus setiap tahunnya.

"Karena cuaca tahun ini kurang mendukung. Kemarau basah membuat hasil produksi tidak maksimal seperti tahun lalu,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh. Faridi, mendorong pemerintah daerah untuk memberikan perhatian serius kepada para petambak garam.

Ia menilai koordinasi selama ini sering tidak membuahkan hasil dengan alasan bahwa urusan garam merupakan kewenangan Pemprov Jawa Timur.

"Kami menekankan agar petambak diberdayakan. SIPD itu bukan barang mati; nomenklaturnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan,” tegasnya.

Editor : Amin Basiri