PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kasus dugaan pemotongan bantuan program keluarga harapan (PKH) di Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan, membuat jajaran pendamping gusar. Mereka harus bolak-balik turun ke lapangan.
Jumat (14/11), Koordinator Wilayah (Korwil) PKH Jawa Timur IV Hanafi dan Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Pamekasan Lukman Hakim kembali mendatangi desa tersebut. Mereka sebenarnya dijadwalkan untuk menghadiri pertemuan kelompok (PK) penerima PKH.
Namun, korban yang diduga bantuannya dipotong tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Karena itu, rombongan memutuskan untuk kembali mendatangi rumah korban di hari yang sama demi memastikan klarifikasi atas kasus dugaan pemotongan PKH itu tetap dilakukan.
Hanafi mengaku pendalaman data masih terus berjalan. Salah satu penerima manfaat yang disebut dalam laporan warga, Rokimah, tercatat menerima bantuan sebesar Rp 725 ribu berdasarkan indeks SIKS-NG.
Meski demikian, dia mengakui belum bertemu secara langsung dengan korban yang diduga mengalami pemotongan bantuan. Pertemuan lanjutan dijadwalkan kembali agar data yang dihimpun tidak simpang siur.
"Kami masih belum bertemu yang bersangkutan. Karena barusan (kemarin, Red) pertemuan kelompok di dua dusun," ungkap Hanafi pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Kasus yang terjadi di Desa Branta Tinggi bermula ketika dua warga, Jumaati dan Rokimah mengaku diminta menyerahkan kartu dan PIN sebelum pencairan dana bantuan. Setelah cair, uang yang diterima keduanya jauh di bawah jumlah seharusnya.
Praktik itu diduga dilakukan oleh oknum pendamping yang sama. Kasus Jumaati mencuat setelah keluarga menemukan transaksi pengiriman Rp 850 ribu ke rekening suami dari pendamping PKH di Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan.
Setelah diperlihatkan bukti, oknum itu mengakui pemotongan tersebut dan mengembalikan nominal yang hilang. Tak berselang lama, Rokimah mengungkap perlakuan serupa. Dia hanya menerima Rp 700 ribu sekali cair.
Padahal dengan komponen bantuan yang terdiri dari balita, siswa SMP, dan siswa SMA, semestinya dua penerima itu mendapatkan bantuan sekitar Rp 1.625.000. Meski Korwil PKH telah memastikan bantuan korban yang tercatat Rp 725 ribu.
Situasi ini membuat Dinsos Jawa Timur juga ikut turun tangan. Tim provinsi sempat mendatangi rumah Jumaati pada Kamis (6/11). Namun, korban sedang tidak berada di lokasi. Sehingga, proses klarifikasi tertunda. Meski begitu, dinsos memastikan dana yang sempat terpotong sudah dikembalikan. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti