alexametrics
27.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Tidak Ada Rute di Maps hingga Ban Hancur

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – ”Jangankan orang Balai Bahasa, saya yang sudah pernah sampai ke rumah Mbak Muna masih bingung,” kata Novi Kamalia, usai sampai ke rumah Muna Masyari di Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, siang kemarin (30/10).

”Saya pakai Google Maps, justru diarahkan ke Blumbungan,” sambung penggerak komunitas literasi Sivitas Kotheka itu dengan raut wajah heran. ”Untung tadi minta petunjuk sambil teleponan dan sinyal tidak hilang,” tambahnya.

Ya, begitulah rute menuju rumah penerima Anugerah Sutasoma 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT) itu. Rumahnya benar-benar di pelosok. ”SMS, so’-maso’,” celetuk doktor Ilmu Sosial Unair Surabaya itu.

Tidak hanya Novi yang kerap tidak ingat jalan menuju rumah cerpenis itu. Tapi, juga teman-teman Muna yang lain. Meski beberapa kali ke sana, teman-temannya juga mengaku tidak benar-benar mengingat rutenya.

Apalagi, orang baru dan bukan warga Madura. Seperti Yulitin Sungkowati. Peneliti ahli madya bidang sastra BBJT itu sampai ke rumah Muna menggunakan jasa ”tukang ojek dadakan” cerpenis Zainul Muttaqin.

Baca Juga :  Pasca Syafii Ditetapkan, Demokrat Enggan Bahas Calon Wabup

Mereka ke sana dengan novelis Royyan Julian yang juga menaiki sepeda motor. Tanpa mereka berdua, mungkin Yulitin tidak akan pernah sampai. Sebab, kedatangan perempuan berkerudung itu baru kali pertama. Selain itu, warga sekitar banyak tidak mengenal Muna Masyari.

Beda lagi dengan Lukman Hadi. Dia menuju ke sana dengan menaiki mobil. Bersama rombongan pegiat literasi meluncur dari Arek Lancor ke arah Pasar Kolpajung. Lalu, menukik ke kiri. Lalu kanan menuju Kelurahan Kowel.

Dari kelurahan ini, mobil masuk ke utara. Ke area jalan sempit berkerikil. Lalu menikung kiri di jembatan yang hanya bisa dilalui satu mobil. Kemudian berbelok kiri dan menikung ke kanan memasuki jalan sempit yang juga berkerikil.

Mobil terus melaju ke arah utara. Hingga bertemu dengan pemakaman di sisi kanan jalan. Makam itu salah satu penanda bahwa rumah cerpenis bernama asli Munawaro M itu sudah dekat. Mobil terus melaju ke utara hingga bertemu pertigaan.

Baca Juga :  Dwi Laily Sukmawati, Pegawai Balai Bahasa Jawa Timur

Di pertigaan yang sedikit menanjak itu, ban kiri belakang mobil Hadi pecah. Namun tidak diketahui seketika itu juga. Mobil pun terus dikendarai hingga sampai di rumah Muna dengan kondisi hancur lebur. ”Karena jalan berbatu,” kata Hadi.

Baik Hadi, Zainul, Royyan, dan Novi, berkunjung ke rumah Muna dalam rangka menghadiri undangan tasyakuran. Sebab, kumpulan cerpennya yang berjudul Rokat Tase’ menjadi pemenang Penghargaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori cerpen.

Sementara Yulitin hadir untuk kepentingan tugas dari Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT). Dia sedang menyusun buku pengayaan sastra Indonesia. Dia di Pamekasan sejak 26 Oktober lalu.

Dia akan menyusun buku biografi dan proses kreatif tiga penulis Pamekasan. Yakni Muna Masyari, Zainul Muttaqin, dan Royyan Julian. ”Ini program dari Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Badan Bahasa Jakarta,” terangnya. ”Namun, yang mengerjakan wilayah Jawa Timur,” sambung Yulitin. 

 

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – ”Jangankan orang Balai Bahasa, saya yang sudah pernah sampai ke rumah Mbak Muna masih bingung,” kata Novi Kamalia, usai sampai ke rumah Muna Masyari di Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, siang kemarin (30/10).

”Saya pakai Google Maps, justru diarahkan ke Blumbungan,” sambung penggerak komunitas literasi Sivitas Kotheka itu dengan raut wajah heran. ”Untung tadi minta petunjuk sambil teleponan dan sinyal tidak hilang,” tambahnya.

Ya, begitulah rute menuju rumah penerima Anugerah Sutasoma 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT) itu. Rumahnya benar-benar di pelosok. ”SMS, so’-maso’,” celetuk doktor Ilmu Sosial Unair Surabaya itu.


Tidak hanya Novi yang kerap tidak ingat jalan menuju rumah cerpenis itu. Tapi, juga teman-teman Muna yang lain. Meski beberapa kali ke sana, teman-temannya juga mengaku tidak benar-benar mengingat rutenya.

Apalagi, orang baru dan bukan warga Madura. Seperti Yulitin Sungkowati. Peneliti ahli madya bidang sastra BBJT itu sampai ke rumah Muna menggunakan jasa ”tukang ojek dadakan” cerpenis Zainul Muttaqin.

Baca Juga :  Satlantas Matangkan Penanganan TPTKP

Mereka ke sana dengan novelis Royyan Julian yang juga menaiki sepeda motor. Tanpa mereka berdua, mungkin Yulitin tidak akan pernah sampai. Sebab, kedatangan perempuan berkerudung itu baru kali pertama. Selain itu, warga sekitar banyak tidak mengenal Muna Masyari.

Beda lagi dengan Lukman Hadi. Dia menuju ke sana dengan menaiki mobil. Bersama rombongan pegiat literasi meluncur dari Arek Lancor ke arah Pasar Kolpajung. Lalu, menukik ke kiri. Lalu kanan menuju Kelurahan Kowel.

Dari kelurahan ini, mobil masuk ke utara. Ke area jalan sempit berkerikil. Lalu menikung kiri di jembatan yang hanya bisa dilalui satu mobil. Kemudian berbelok kiri dan menikung ke kanan memasuki jalan sempit yang juga berkerikil.

Mobil terus melaju ke arah utara. Hingga bertemu dengan pemakaman di sisi kanan jalan. Makam itu salah satu penanda bahwa rumah cerpenis bernama asli Munawaro M itu sudah dekat. Mobil terus melaju ke utara hingga bertemu pertigaan.

Baca Juga :  170 Ribu Rumah Ditempeli Stiker PCC Gratis

Di pertigaan yang sedikit menanjak itu, ban kiri belakang mobil Hadi pecah. Namun tidak diketahui seketika itu juga. Mobil pun terus dikendarai hingga sampai di rumah Muna dengan kondisi hancur lebur. ”Karena jalan berbatu,” kata Hadi.

Baik Hadi, Zainul, Royyan, dan Novi, berkunjung ke rumah Muna dalam rangka menghadiri undangan tasyakuran. Sebab, kumpulan cerpennya yang berjudul Rokat Tase’ menjadi pemenang Penghargaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori cerpen.

Sementara Yulitin hadir untuk kepentingan tugas dari Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT). Dia sedang menyusun buku pengayaan sastra Indonesia. Dia di Pamekasan sejak 26 Oktober lalu.

Dia akan menyusun buku biografi dan proses kreatif tiga penulis Pamekasan. Yakni Muna Masyari, Zainul Muttaqin, dan Royyan Julian. ”Ini program dari Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Badan Bahasa Jakarta,” terangnya. ”Namun, yang mengerjakan wilayah Jawa Timur,” sambung Yulitin. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/