alexametrics
25.6 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Jebol, Satu Warga Pamekasan Positif

PAMEKASAN –  Mulai kemarin, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan Pamekasan sebagai zona merah. Dasarnya, salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) di Bumi Gerbang Salam dinyatakan positif Covid-19. Itu setelah hasil swab pasien tersebut dites di laboratorium Balitbangkes Jakarta.

Sebelumnya, pasien yang sudah meninggal tersebut dinyatakan negatif oleh juru bicara Satgas Penanggulangan Bencana Non-Alam dan Pencegahan Covid-19 sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki. Hasil negatif tersebut merujuk pada hasil lab Balitbangkes Surabaya.

Ketua Satgas Internal RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan dr Syaiful Hidayat mengungkapkan bahwa kesemrawutan tes tersebut juga terjadi di beberapa daerah. ”Hasil tes di Balitbangkes Surabaya memang biasanya diuji ulang oleh balitbangkes pusat,” terangnya kemarin (29/3).

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mengungkapkan, baru sekitar pukul 17.00 kemarin (29/3) pasien yang meninggal Jumat (20/3) dinyatakan positif. Keterangan itu berdasar hasil uji laboratorium Balitbangkes Jakarta.

Langkah-langkah satgas berikutnya setelah mengetahui ada PDP meninggal, yang pertama, melakukan rapid test terhadap orang-orang yang pernah kontak langsung dengan pasien. Baru kemudian melakukan stressing dan menyampaikan informasi dari daerah asal.

Pihaknya juga akan melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) terhadap keluarga, dokter, dan perawat yang menangani pasien. Dokter dan perawat yang menangani sementara diistirahatkan dulu. Upaya itu untuk memastikan apakah mereka terpapar atau tidak.

Baca Juga :  LPJU Dibiarkan Mati, Pengendara Nyaris Tabrak Pejalan Kaki

”Sampai hari ini masih sehat. Tidak ada indikasi,” jelas Bupati Baddrut Tamam tadi malam.

Seperti diberitakan sebelumnya, bocah berusia 11 tahun itu diketahui sempat tinggal di Malang. Lalu, pulang ke Pamekasan. Empat hari sebelum masuk rumah sakit, dia mengeluh panas, mual, dan muntah. Kamis siang (19/3), pihak keluarga membawa pasien berumur sebelas tahun itu ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo.

Setelah melalui pemeriksaan tim dokter, pasien perempuan itu ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP). Dengan demikian, perawatan intensif dilakukan.

Namun, nyawa bocah itu tidak terselamatkan. Bocah tersebut meninggal dunia usai salat Jumat (20/3). Hasil tes sebelumnya sempat dinyatakan negatif Covid-19.

Terpisah, seorang perempuan berusia 51 tahun harus diisolasi di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan sejak Sabtu (28/3) sekitar pukul 17.00. Warga Kecamatan Kota Pamekasan itu berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) setelah datang dari Kota Kediri.

Perempuan tersebut tidak berasal dari rujukan puskesmas, melainkan langsung ditangani oleh Tim Satgas Covid-19 ketika diterpa batuk dan sesak napas.

Dia tidak menginap di Kota Kediri (daerah zona merah). Tetapi, pulang-pergi dari Pamekasan ke Kota Kediri dalam waktu sehari. Bepergiannya ke Kota Kediri sekitar dua hari sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Pamekasan.

Baca Juga :  THR untuk PNS Sedot Rp 31 Miliar

Berdasarkan informasi yang diterima Jawa Pos Radar Madura, hasil rontgen medis, pada tubuh pasien tersebut menunjukkan adanya radang paru-paru. Sementara perkembangan pasien belum diketahui karena masih satu hari di ruang isolasi.

Ketua Tim Satgas Internal RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan dr. Syaiful Hidayat menuturkan bahwa hasil swab tenggorokan pasien tersebut sudah dikirimkan ke Balitbangkes Surabaya. ”Hasil lab keluar sekitar lima hari,” terangnya kemarin.

Pasien tersebut sudah ditangani dengan baik. Sudah dilakukan langkah-langkah medis sesuai prosedur penanganan Covid-19. Dia juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tetap menjaga pola hidup bersih.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan sekaligus juru bicara Satgas Penanggulangan Bencana Non-Alam dan Pencegahan Covid-19 Achmad Marsuki menyampaikan bahwa masyarakat harus tetap tenang, cuci tangan setiap saat, tetap waspada dan menjaga jarak aman. ”Kami memang berharap orang yang datang dari luar langsung ke puskesmas atau ke rumah sakit untuk memeriksakan diri,” imbaunya. Sehingga, penanganan Covid-19 yang kemungkinan menyebar melalui mobilitas kunjungan masyarakat ke beberapa daerah cepat tertangani dan terdeteksi. (ky)

 

PAMEKASAN –  Mulai kemarin, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan Pamekasan sebagai zona merah. Dasarnya, salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) di Bumi Gerbang Salam dinyatakan positif Covid-19. Itu setelah hasil swab pasien tersebut dites di laboratorium Balitbangkes Jakarta.

Sebelumnya, pasien yang sudah meninggal tersebut dinyatakan negatif oleh juru bicara Satgas Penanggulangan Bencana Non-Alam dan Pencegahan Covid-19 sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki. Hasil negatif tersebut merujuk pada hasil lab Balitbangkes Surabaya.

Ketua Satgas Internal RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan dr Syaiful Hidayat mengungkapkan bahwa kesemrawutan tes tersebut juga terjadi di beberapa daerah. ”Hasil tes di Balitbangkes Surabaya memang biasanya diuji ulang oleh balitbangkes pusat,” terangnya kemarin (29/3).


Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mengungkapkan, baru sekitar pukul 17.00 kemarin (29/3) pasien yang meninggal Jumat (20/3) dinyatakan positif. Keterangan itu berdasar hasil uji laboratorium Balitbangkes Jakarta.

Langkah-langkah satgas berikutnya setelah mengetahui ada PDP meninggal, yang pertama, melakukan rapid test terhadap orang-orang yang pernah kontak langsung dengan pasien. Baru kemudian melakukan stressing dan menyampaikan informasi dari daerah asal.

Pihaknya juga akan melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) terhadap keluarga, dokter, dan perawat yang menangani pasien. Dokter dan perawat yang menangani sementara diistirahatkan dulu. Upaya itu untuk memastikan apakah mereka terpapar atau tidak.

Baca Juga :  Rp 8,9 M untuk Revitalisasi Pasar

”Sampai hari ini masih sehat. Tidak ada indikasi,” jelas Bupati Baddrut Tamam tadi malam.

Seperti diberitakan sebelumnya, bocah berusia 11 tahun itu diketahui sempat tinggal di Malang. Lalu, pulang ke Pamekasan. Empat hari sebelum masuk rumah sakit, dia mengeluh panas, mual, dan muntah. Kamis siang (19/3), pihak keluarga membawa pasien berumur sebelas tahun itu ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo.

Setelah melalui pemeriksaan tim dokter, pasien perempuan itu ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP). Dengan demikian, perawatan intensif dilakukan.

Namun, nyawa bocah itu tidak terselamatkan. Bocah tersebut meninggal dunia usai salat Jumat (20/3). Hasil tes sebelumnya sempat dinyatakan negatif Covid-19.

Terpisah, seorang perempuan berusia 51 tahun harus diisolasi di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan sejak Sabtu (28/3) sekitar pukul 17.00. Warga Kecamatan Kota Pamekasan itu berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) setelah datang dari Kota Kediri.

Perempuan tersebut tidak berasal dari rujukan puskesmas, melainkan langsung ditangani oleh Tim Satgas Covid-19 ketika diterpa batuk dan sesak napas.

Dia tidak menginap di Kota Kediri (daerah zona merah). Tetapi, pulang-pergi dari Pamekasan ke Kota Kediri dalam waktu sehari. Bepergiannya ke Kota Kediri sekitar dua hari sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Pamekasan.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Berencana Tutup PT Tanjung Odi

Berdasarkan informasi yang diterima Jawa Pos Radar Madura, hasil rontgen medis, pada tubuh pasien tersebut menunjukkan adanya radang paru-paru. Sementara perkembangan pasien belum diketahui karena masih satu hari di ruang isolasi.

Ketua Tim Satgas Internal RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan dr. Syaiful Hidayat menuturkan bahwa hasil swab tenggorokan pasien tersebut sudah dikirimkan ke Balitbangkes Surabaya. ”Hasil lab keluar sekitar lima hari,” terangnya kemarin.

Pasien tersebut sudah ditangani dengan baik. Sudah dilakukan langkah-langkah medis sesuai prosedur penanganan Covid-19. Dia juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tetap menjaga pola hidup bersih.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan sekaligus juru bicara Satgas Penanggulangan Bencana Non-Alam dan Pencegahan Covid-19 Achmad Marsuki menyampaikan bahwa masyarakat harus tetap tenang, cuci tangan setiap saat, tetap waspada dan menjaga jarak aman. ”Kami memang berharap orang yang datang dari luar langsung ke puskesmas atau ke rumah sakit untuk memeriksakan diri,” imbaunya. Sehingga, penanganan Covid-19 yang kemungkinan menyebar melalui mobilitas kunjungan masyarakat ke beberapa daerah cepat tertangani dan terdeteksi. (ky)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/