alexametrics
23 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Tidak Mau Dipimpin, Tidak Mau Kompromi

”Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” 

DEMIKIAN petikan tulisan berjudul Bahasa Indonesia Tabrani di kolom Kepentingan koran Hindia Baroe edisi 11 Februari 1926. Dalam catatan Maryanto, sebelumnya pria bernama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro itu juga menulis kolom Kasihan edisi 10 Januari 1926 di media yang sama. Tulisan berjudul Kasihan menjadi gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Catatan itu disajikan pada acara ziarah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di makam M. Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, 18 Juli 2019 (badanbahasa.kemendikbud.go.id). Tabrani lahir di Pamekasan pada 10 Oktober 1904 atau 116 tahun yang lalu. Dia adalah ketua Kongres Pemuda pertama di Jakarta 1926. Gagasannya tentang bahasa Indonesia itu kemudian diikrarkan dalam Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda Kedua 1928.

Pada momentum Sumpah Pemuda tahun ini Jawa Pos Radar Madura berupaya menyajikan Liputan Khusus Berseri tokoh berjasa tersebut. Penelurusan jejak-jejak tokoh itu di Pamekasan tidak semudah yang dibayangkan. Kali pertama JPRM menghubungi Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo. ”Ke Pak Sulaiman Sadik,” ungkapnya memberi saran Rabu (7/10).

Keesokan harinya, Kamis (8/10), JPRM menghubungi seorang pegiat kebudayaan di Pamekasan Suparman Rumanto. Dia juga menyarankan JPRM untuk menemui Sulaiman Sadik. ”Dia sejarawan dan budayawan,” tuturnya.

Baca Juga :  Pj Bupati Fattah Jasin Buka Bersama OPD-Forpimda

Pada Jumat (9/10), JPRM menghubungi mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Sonny Budiharto. Dia juga sebagai salah satu Tim Ahli Cagar Budaya di Pamekasan. Sonny juga mengaku kurang paham tentang Tabrani.

”Sepengetahuan saya, bukan pencetus, tapi ikut dalam bagian kelompok pemuda yang menggelar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” katanya.

Dari Sonny, JPRM memperoleh petunjuk bahwa rumah Tabrani di Jalan Sersan Mesrul, Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan. Namun, dia tidak tahu penghuni rumah itu keluarga Tabrani atau bukan.

Senin (12/10), JPRM menemui Sulaiman Sadik di rumahnya, di Jalan Balai Kambang, Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Kota Pamekasan. Dia menulis buku berjudul Mengenal Madura dalam Gambar dan Catatan. Sayangnya, buku tebal itu belum diterbitkan.

Di halaman 332 buku itu, terdapat foto rumah tempat tinggal Tabrani ketika masih kecil. Foto itu diambil pada 20 Maret 2006. ”Rumah itu sudah digusur, Jalan Sersan Mesrul Nomor 1,” ungkapnya.

Sulaiman Sadik menceritakan, Tabrani suka menulis. Sempat menjadi wartawan dan memimpin sejumlah media massa. Salah satu media yang dipimpinnya Sekolah Kita di Pamekasan pada 1932–1936. Sekolah Kita juga nama sekolah yang pernah didirikan Tabrani di Pamekasan.

Baca Juga :  Bupati Wacanakan Penghargaan Khusus

”Sekolah itu terletak di Jalan Veteran. Namun, sekolah itu kemudian dijadikan rumah para veteran,” sambung lelaki kelahiran 1935 tersebut. Sebagai pendiri sekolah, Tabrani juga merupakan guru di sekolah tersebut.

Pada masa-masa menjadi guru saat itu, Tabrani diundang pemerintah Belanda yang berkedudukan di Pamekasan untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina. Pada saat upacara, Tabrani tak mau menyanyikan lagu kebangsaan Belanda.

Dia pun ditahan di rumah sakit jiwa. Pengacara yang mengawal Tabrani mengatakan bahwa kleinnya orang gila. Padahal, itu hanya siasat agar Tabrani tak masuk sel.

Pada saat itu, Tabrani disarankan pengacaranya untuk memperjuangkan gagasannya di luar Pamekasan. Itu terjadi sebelum tercetus Kongres Pemuda Pertama 1926. Akhirnya, Tabrani pun mulai berkarir di Bandung.

”Tabrani orang yang tidak mau dipimpin, tidak mau kompromi. Karena itu, Muhammad Yamin yang terus-menerus dipanggil untuk melayani pemerintah yang saat itu masih berkotak-kotak,” terangnya.

Sejak saat itu Tabrani berkarir di Jakarta. Pulang ke Pamekasan hanya beberapa waktu saja. ”Kalau tidak ada Tabrani, tidak ada yang menggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu,” ungkapnya. (ky/luq)

Edisi cetak terbit di Jawa Pos Radar Madura pada Minggu, 25 Oktober 2020.

”Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” 

DEMIKIAN petikan tulisan berjudul Bahasa Indonesia Tabrani di kolom Kepentingan koran Hindia Baroe edisi 11 Februari 1926. Dalam catatan Maryanto, sebelumnya pria bernama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro itu juga menulis kolom Kasihan edisi 10 Januari 1926 di media yang sama. Tulisan berjudul Kasihan menjadi gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.

Catatan itu disajikan pada acara ziarah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di makam M. Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, 18 Juli 2019 (badanbahasa.kemendikbud.go.id). Tabrani lahir di Pamekasan pada 10 Oktober 1904 atau 116 tahun yang lalu. Dia adalah ketua Kongres Pemuda pertama di Jakarta 1926. Gagasannya tentang bahasa Indonesia itu kemudian diikrarkan dalam Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda Kedua 1928.


Pada momentum Sumpah Pemuda tahun ini Jawa Pos Radar Madura berupaya menyajikan Liputan Khusus Berseri tokoh berjasa tersebut. Penelurusan jejak-jejak tokoh itu di Pamekasan tidak semudah yang dibayangkan. Kali pertama JPRM menghubungi Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo. ”Ke Pak Sulaiman Sadik,” ungkapnya memberi saran Rabu (7/10).

Keesokan harinya, Kamis (8/10), JPRM menghubungi seorang pegiat kebudayaan di Pamekasan Suparman Rumanto. Dia juga menyarankan JPRM untuk menemui Sulaiman Sadik. ”Dia sejarawan dan budayawan,” tuturnya.

Baca Juga :  JKN – KIS Harapan Bagi Para Pasien Cuci Darah

Pada Jumat (9/10), JPRM menghubungi mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Sonny Budiharto. Dia juga sebagai salah satu Tim Ahli Cagar Budaya di Pamekasan. Sonny juga mengaku kurang paham tentang Tabrani.

”Sepengetahuan saya, bukan pencetus, tapi ikut dalam bagian kelompok pemuda yang menggelar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” katanya.

Dari Sonny, JPRM memperoleh petunjuk bahwa rumah Tabrani di Jalan Sersan Mesrul, Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan. Namun, dia tidak tahu penghuni rumah itu keluarga Tabrani atau bukan.

Senin (12/10), JPRM menemui Sulaiman Sadik di rumahnya, di Jalan Balai Kambang, Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Kota Pamekasan. Dia menulis buku berjudul Mengenal Madura dalam Gambar dan Catatan. Sayangnya, buku tebal itu belum diterbitkan.

Di halaman 332 buku itu, terdapat foto rumah tempat tinggal Tabrani ketika masih kecil. Foto itu diambil pada 20 Maret 2006. ”Rumah itu sudah digusur, Jalan Sersan Mesrul Nomor 1,” ungkapnya.

Sulaiman Sadik menceritakan, Tabrani suka menulis. Sempat menjadi wartawan dan memimpin sejumlah media massa. Salah satu media yang dipimpinnya Sekolah Kita di Pamekasan pada 1932–1936. Sekolah Kita juga nama sekolah yang pernah didirikan Tabrani di Pamekasan.

Baca Juga :  Tiga Hari Bantu Korban Erupsi Semeru

”Sekolah itu terletak di Jalan Veteran. Namun, sekolah itu kemudian dijadikan rumah para veteran,” sambung lelaki kelahiran 1935 tersebut. Sebagai pendiri sekolah, Tabrani juga merupakan guru di sekolah tersebut.

Pada masa-masa menjadi guru saat itu, Tabrani diundang pemerintah Belanda yang berkedudukan di Pamekasan untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina. Pada saat upacara, Tabrani tak mau menyanyikan lagu kebangsaan Belanda.

Dia pun ditahan di rumah sakit jiwa. Pengacara yang mengawal Tabrani mengatakan bahwa kleinnya orang gila. Padahal, itu hanya siasat agar Tabrani tak masuk sel.

Pada saat itu, Tabrani disarankan pengacaranya untuk memperjuangkan gagasannya di luar Pamekasan. Itu terjadi sebelum tercetus Kongres Pemuda Pertama 1926. Akhirnya, Tabrani pun mulai berkarir di Bandung.

”Tabrani orang yang tidak mau dipimpin, tidak mau kompromi. Karena itu, Muhammad Yamin yang terus-menerus dipanggil untuk melayani pemerintah yang saat itu masih berkotak-kotak,” terangnya.

Sejak saat itu Tabrani berkarir di Jakarta. Pulang ke Pamekasan hanya beberapa waktu saja. ”Kalau tidak ada Tabrani, tidak ada yang menggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu,” ungkapnya. (ky/luq)

Edisi cetak terbit di Jawa Pos Radar Madura pada Minggu, 25 Oktober 2020.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/