alexametrics
20.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Alasan ke Polisi sebelum Habisi Paman, HS Mengaku Tersulut Emosi

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Setelah melakukan penyelidikan secara intensif terhadap Haryadi Sudrajat (HS), polisi akhirnya mengungkap motif kasus penganiayaan yang menewaskan Nairan, 54. Berdasar pengakuan HS, alasan dirinya tega menghabisi nyawa pamannya sendiri karena emosi setelah cekcok perihal jalan setapak menuju rumahnya.

Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Tomy Prambana membenarkan hal tersebut. Dikatakan, sebelum kejadian, korban memasang beberapa material di akses jalan menuju rumah HS. Misalnya batu, bamboo, dan penutup dari anyaman bambu. Akibatnya, jalan menuju rumah HS semakin sempit dan kendaraan roda empat sulit masuk atau keluar.

”Sabtu (25/9) sekitar pukul 15.30 mereka cekcok. HS minta pamannya menyingkirkan batu dan bambu. Sebab, HS hendak keluar mengendarai mobil. Tapi, korban tidak terima dan marah-marah. HS lalu memindah batu dan anyaman bambu di ruas jalan Dusun Taman RT 08, RW 03, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu tersebut,” ucapnya.

Baca Juga :  Polisi Belum Periksa Guru BK

Mengetahui hal itu, sambung Tomy Prambana, korban tersulut emosi. Berdasar keterangan HS, korban sempat memukul tapi meleset. Karena tidak terima, tersangka pulang ke rumah dan mengambil celurit. HS lalu kembali menemui korban dan langsung menyabetkan celurit ke lehernya.

”Korban langsung jatuh tengkurap bersimbah darah dan meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Satu jam setelah kejadian, kita langsung mengamankan HS. Barang bukti yang diamankan polisi berupa celurit sepanjang 65 sentimeter dan pengamannya,” ungkap Tomy Prambana.

Dijelaskan, HS akan dijerat pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP subsider pasal 315 ayat (3) KUHP. Karyawan salah satu apotek di Pamekasan itu dijerat pasal pembunuhan berencana. ”Ancaman hukumannya minimal penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati,” pungkas Tomy Prambana.

Baca Juga :  KPU Tambah Dua Personel Tiap Kecamatan

Sekadar mengingatkan, suasana Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, pada Sabtu sore (25/9) geger. Sebab, Nairan ditemukan tewas tergeletak di depan rumahnya sekitar pukul 16.00. Polisi bergerak cepat dan akhirnya menangkap HS yang tidak jauh dari TKP, sekitar satu jam setelah kejadian.

- Advertisement -

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Setelah melakukan penyelidikan secara intensif terhadap Haryadi Sudrajat (HS), polisi akhirnya mengungkap motif kasus penganiayaan yang menewaskan Nairan, 54. Berdasar pengakuan HS, alasan dirinya tega menghabisi nyawa pamannya sendiri karena emosi setelah cekcok perihal jalan setapak menuju rumahnya.

Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Tomy Prambana membenarkan hal tersebut. Dikatakan, sebelum kejadian, korban memasang beberapa material di akses jalan menuju rumah HS. Misalnya batu, bamboo, dan penutup dari anyaman bambu. Akibatnya, jalan menuju rumah HS semakin sempit dan kendaraan roda empat sulit masuk atau keluar.

”Sabtu (25/9) sekitar pukul 15.30 mereka cekcok. HS minta pamannya menyingkirkan batu dan bambu. Sebab, HS hendak keluar mengendarai mobil. Tapi, korban tidak terima dan marah-marah. HS lalu memindah batu dan anyaman bambu di ruas jalan Dusun Taman RT 08, RW 03, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu tersebut,” ucapnya.

Baca Juga :  Kapolres Tegaskan Anak Buahnya Tidak Memukul Relawan Gusdurian

Mengetahui hal itu, sambung Tomy Prambana, korban tersulut emosi. Berdasar keterangan HS, korban sempat memukul tapi meleset. Karena tidak terima, tersangka pulang ke rumah dan mengambil celurit. HS lalu kembali menemui korban dan langsung menyabetkan celurit ke lehernya.

”Korban langsung jatuh tengkurap bersimbah darah dan meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Satu jam setelah kejadian, kita langsung mengamankan HS. Barang bukti yang diamankan polisi berupa celurit sepanjang 65 sentimeter dan pengamannya,” ungkap Tomy Prambana.

Dijelaskan, HS akan dijerat pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP subsider pasal 315 ayat (3) KUHP. Karyawan salah satu apotek di Pamekasan itu dijerat pasal pembunuhan berencana. ”Ancaman hukumannya minimal penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati,” pungkas Tomy Prambana.

Baca Juga :  Polisi Tangkap DPO Kasus Asusila dan Penganiayaan di Jakarta

Sekadar mengingatkan, suasana Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, pada Sabtu sore (25/9) geger. Sebab, Nairan ditemukan tewas tergeletak di depan rumahnya sekitar pukul 16.00. Polisi bergerak cepat dan akhirnya menangkap HS yang tidak jauh dari TKP, sekitar satu jam setelah kejadian.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/