alexametrics
21.1 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Badan Hancur, Tiga Jam Baru Dikenali

PAMEKASAN – Korban kapal hilang KM Cahaya Bahari Jaya asal Probolinggo kembali ditemukan. Satu jenazah ditemukan warga di pantai Dusun Penangun Timur, Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Jumat (26/10). 

Saat ditemukan, kondisi jenazah sulit dikenali. Sekujur tubuhnya kaku memutih. Sebagian organ tubuh hancur. Sekitar pukul 09.30, jenazah dievakuasi ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo untuk diidentifikasi.

Proses identifikasi berjalan lamban. Tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polres Pamekasan membutuhkan waktu 3 jam untuk menarik kesimpulan. Alat yang digunakan untuk identifikasi tidak mampu mengenali jenazah yang hilang sejak Jumat pekan lalu itu.

Kapolsek Tlanakan AKP Achmad Soleh mengatakan, kondisi korban sulit dikenali. Sidik jari tidak bisa dikenali. Alat paling canggih yang dimiliki tim inafis tidak mampu mengenali korban.

Dengan demikian, tim sepakat untuk melakukan identifikasi secara manual. Yakni, mencocokkan deoxyribose-nucleic acid (DNA) secara manual. Pengecekan informasi genetik secara manual itu butuh waktu lama. ”Sekitar tiga jam baru bisa menarik kesimpulan,” katanya.

Baca Juga :  Mayat ABK KM Cahaya Bahari Jaya Kembali Ditemukan Mengambang

Berdasarkan kesimpulan, DNA korban identik dengan Maman alias Giman. Tim Inafis Polres Pamekasan mencocokan hasil tes genetik itu dengan data korban lain yang belum ditemukan.

Hasilnya tidak identik. Bahkan, sangat jauh. Sementara yang memiliki kemiripan hanya dengan Maman. Ditambah kecocokan beberapa ciri-ciri fisik yang disampaikan keluarga. ”Maka, kami tarik kesimpulan bahwa (jenazah) itu Maman alias Giman,” katanya.

Korban langsung diserahkan kepada keluarga agar disemayamkan. Pasca diotopsi, jenazah langsung dibawa ke Desa/Kecamatan Mayangan, Kecamatan Probolinggo. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Surabaya, BPBD Pamekasan, Polair Polda Jatim, dan Polsek Tlanakan terus melakukan pencarian. Harapannya, sisa korban yang belum ditemukan segera ditemukan.

Baca Juga :  Hantam Truk, Nyawa Pemuda Melayang

Sejak pencarian pertama, ada lima korban yang ditemukan. Yakni, Rohim, Iwan, Tomi, dan Maman. Kemudian, jenazah Windi juga ditemukan. Hanya, jenazah nakhoda itu tidak diotopsi di Pamekasan.

Nelayan yang menemukan langsung membawa ke Probolinggo dan diserahkan kepada keluarga. Masih tersisa anak buah kapal (ABK) yang belum ditemukan. Yakni, Marwan, Samsul Alam dan Wahyu.

Supervisor Pusdalops BPBD Pamekasan Budi Cahyono mengimbau kepada nelayan dan masyarakat jika menemukan jenazah tidak perlu takut. Mereka diminta untuk segera melapor ke pihak berwajib.

Laporan itu akan ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi. Sebab, masih ada korban yang belum ditemukan. ”Kalau menemukan mayat di tengah laut, segera melapor kepada kami,” pinta Budi. 

 

PAMEKASAN – Korban kapal hilang KM Cahaya Bahari Jaya asal Probolinggo kembali ditemukan. Satu jenazah ditemukan warga di pantai Dusun Penangun Timur, Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Jumat (26/10). 

Saat ditemukan, kondisi jenazah sulit dikenali. Sekujur tubuhnya kaku memutih. Sebagian organ tubuh hancur. Sekitar pukul 09.30, jenazah dievakuasi ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo untuk diidentifikasi.

Proses identifikasi berjalan lamban. Tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polres Pamekasan membutuhkan waktu 3 jam untuk menarik kesimpulan. Alat yang digunakan untuk identifikasi tidak mampu mengenali jenazah yang hilang sejak Jumat pekan lalu itu.


Kapolsek Tlanakan AKP Achmad Soleh mengatakan, kondisi korban sulit dikenali. Sidik jari tidak bisa dikenali. Alat paling canggih yang dimiliki tim inafis tidak mampu mengenali korban.

Dengan demikian, tim sepakat untuk melakukan identifikasi secara manual. Yakni, mencocokkan deoxyribose-nucleic acid (DNA) secara manual. Pengecekan informasi genetik secara manual itu butuh waktu lama. ”Sekitar tiga jam baru bisa menarik kesimpulan,” katanya.

Baca Juga :  Sudah Turun Hujan, Dropping Air Berlanjut

Berdasarkan kesimpulan, DNA korban identik dengan Maman alias Giman. Tim Inafis Polres Pamekasan mencocokan hasil tes genetik itu dengan data korban lain yang belum ditemukan.

Hasilnya tidak identik. Bahkan, sangat jauh. Sementara yang memiliki kemiripan hanya dengan Maman. Ditambah kecocokan beberapa ciri-ciri fisik yang disampaikan keluarga. ”Maka, kami tarik kesimpulan bahwa (jenazah) itu Maman alias Giman,” katanya.

Korban langsung diserahkan kepada keluarga agar disemayamkan. Pasca diotopsi, jenazah langsung dibawa ke Desa/Kecamatan Mayangan, Kecamatan Probolinggo. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Surabaya, BPBD Pamekasan, Polair Polda Jatim, dan Polsek Tlanakan terus melakukan pencarian. Harapannya, sisa korban yang belum ditemukan segera ditemukan.

Baca Juga :  Tahun 2020, Bupati Pamekasan Targetkan 178 Desa Memiliki Tema

Sejak pencarian pertama, ada lima korban yang ditemukan. Yakni, Rohim, Iwan, Tomi, dan Maman. Kemudian, jenazah Windi juga ditemukan. Hanya, jenazah nakhoda itu tidak diotopsi di Pamekasan.

Nelayan yang menemukan langsung membawa ke Probolinggo dan diserahkan kepada keluarga. Masih tersisa anak buah kapal (ABK) yang belum ditemukan. Yakni, Marwan, Samsul Alam dan Wahyu.

Supervisor Pusdalops BPBD Pamekasan Budi Cahyono mengimbau kepada nelayan dan masyarakat jika menemukan jenazah tidak perlu takut. Mereka diminta untuk segera melapor ke pihak berwajib.

Laporan itu akan ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi. Sebab, masih ada korban yang belum ditemukan. ”Kalau menemukan mayat di tengah laut, segera melapor kepada kami,” pinta Budi. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/