alexametrics
20.5 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Sarjana Pertanian Tak Dimanfaatkan Pemerintah

PAMEKASANSarjana pertanian masih menjadi ironi di Pamekasan. Mereka yang punya keahlian di bidang tanaman belum dimanfaatkan oleh pemerintah. Alih-alih dilibatkan dalam menata pertanian, diajak kerja sama pun tidak.

Padahal setiap tahun ada puluhan sarjana pertanian yang lulus dari universitas. Di Fakultas Pertanian Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, contohnya. Sejak dibuka fakultas pertanian pada 2002 lalu, sudah ada ratusan sarjana yang dihasilkan.

Ketika lulus, mereka memulai kehidupan baru dengan cara mandiri. Ada yang membuka usaha di bidang pertanian. Ada pula yang mengembangkan bisnis di bidang lain yang bisa menunjang kehidupannya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bekerja di luar bidang kompetensi kesarjanaannya.

Berapa yang direkrut pemkab untuk mengembangkan pertanian di Pamekasan? Dekan Fakultas Pertanian UIM Kustiawati Ningsih mengaku tidak bisa menjelaskannya. Sebab selama ini memang tidak ada kerja sama antara universitas dengan pemkab.

Baca Juga :  Ribuan Nelayan Terdampak Korona

”Mau bekerja sama dengan pemkab itu susah,” ujar perempuan yang menjadi mentor Pamekasan Young Entrepreneur Competition (PYEC) tersebut. ”Saya pernah mengajukan proposal penelitian di bidang pertanian, tapi ruwetnya minta ampun. Akhirnya saya gagalkan dan tidak jadi kerja sama,” tegasnya.

Dijelaskan, sebenarnya jika pemkab terbuka untuk lulusan pertanian, UIM siap memfasilitasi. Di Fakultas Pertanian UIM tersedia tiga program studi (prodi) pertanian. Yakni, Agribisnis, Agribisnis Perikanan, dan Agroteknologi.

”Jumlah lulusannya fluktuatif. Tahun ini ada sekitar 50 mahasiswa pertanian yang siap untuk mengikuti wisuda,” jelasnya. ”Kalau 2016 lalu lulusannya 24 orang dan 2015 43 orang,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Al Anwari menyayangkan tidak adanya kerja sama antara pemkab dengan kampus yang memiliki prodi pertanian. Padahal menurut Anwari, mereka yang memiliki ilmu bidang pertanian penting diajak bekerja sama oleh pemkab.

Baca Juga :  Oknum Bappeda Diduga Mesum, Pemuda Demo Pemkab

”Pamekasan ini mayoritas penduduknya adalah petani. Semestinya, sarjana-sarjana pertanian itu dijadikan penggerak pertanian agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pamekasan Isye Windarti mengaku tidak bisa bekerja sama dengan kampus. Terlebih jika kerja sama itu dalam bentuk mempekerjakan sarjana pertanian.

Sebab di instansinya tidak ada anggaran untuk kegiatan semacam itu. ”Tidak boleh saya merekrut tenaga kerja di bidang pertanian. Nanti siapa yang bayar kalau saya yang merekrut,” katanya. ”Kalaupun ada kerja sama, itu harus melalui kementerian,” tukasnya.

PAMEKASANSarjana pertanian masih menjadi ironi di Pamekasan. Mereka yang punya keahlian di bidang tanaman belum dimanfaatkan oleh pemerintah. Alih-alih dilibatkan dalam menata pertanian, diajak kerja sama pun tidak.

Padahal setiap tahun ada puluhan sarjana pertanian yang lulus dari universitas. Di Fakultas Pertanian Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan, contohnya. Sejak dibuka fakultas pertanian pada 2002 lalu, sudah ada ratusan sarjana yang dihasilkan.

Ketika lulus, mereka memulai kehidupan baru dengan cara mandiri. Ada yang membuka usaha di bidang pertanian. Ada pula yang mengembangkan bisnis di bidang lain yang bisa menunjang kehidupannya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang bekerja di luar bidang kompetensi kesarjanaannya.


Berapa yang direkrut pemkab untuk mengembangkan pertanian di Pamekasan? Dekan Fakultas Pertanian UIM Kustiawati Ningsih mengaku tidak bisa menjelaskannya. Sebab selama ini memang tidak ada kerja sama antara universitas dengan pemkab.

Baca Juga :  Anggaran Bengkak Rp 6 Miliar

”Mau bekerja sama dengan pemkab itu susah,” ujar perempuan yang menjadi mentor Pamekasan Young Entrepreneur Competition (PYEC) tersebut. ”Saya pernah mengajukan proposal penelitian di bidang pertanian, tapi ruwetnya minta ampun. Akhirnya saya gagalkan dan tidak jadi kerja sama,” tegasnya.

Dijelaskan, sebenarnya jika pemkab terbuka untuk lulusan pertanian, UIM siap memfasilitasi. Di Fakultas Pertanian UIM tersedia tiga program studi (prodi) pertanian. Yakni, Agribisnis, Agribisnis Perikanan, dan Agroteknologi.

”Jumlah lulusannya fluktuatif. Tahun ini ada sekitar 50 mahasiswa pertanian yang siap untuk mengikuti wisuda,” jelasnya. ”Kalau 2016 lalu lulusannya 24 orang dan 2015 43 orang,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Al Anwari menyayangkan tidak adanya kerja sama antara pemkab dengan kampus yang memiliki prodi pertanian. Padahal menurut Anwari, mereka yang memiliki ilmu bidang pertanian penting diajak bekerja sama oleh pemkab.

Baca Juga :  Oknum Bappeda Diduga Mesum, Pemuda Demo Pemkab

”Pamekasan ini mayoritas penduduknya adalah petani. Semestinya, sarjana-sarjana pertanian itu dijadikan penggerak pertanian agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pamekasan Isye Windarti mengaku tidak bisa bekerja sama dengan kampus. Terlebih jika kerja sama itu dalam bentuk mempekerjakan sarjana pertanian.

Sebab di instansinya tidak ada anggaran untuk kegiatan semacam itu. ”Tidak boleh saya merekrut tenaga kerja di bidang pertanian. Nanti siapa yang bayar kalau saya yang merekrut,” katanya. ”Kalaupun ada kerja sama, itu harus melalui kementerian,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/