alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Enam Pemenang Bawa Pulang Hadiah Menarik

PAMEKASAN – Kerapan sapi piala presiden 2018 Se-Madura menjadi tontonan yang menarik Minggu (21/10).  Perlombaan khas budaya Madura yang digelar di stadion  R Soenarto itu dipadati ribuan penonton.

Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Madura. Namun, juga datang dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan turis dari mancanegara juga menyaksikan perlombaan bergengsi tersebut.

Lomba tersebut diikuti oleh sebanyak 24 pasangan sapi. Masing-masing kabupaten mengirim enam pasang sapi yang telah dinyatakan sebagai pemenang ditingkat eks Kawedanan. Kemarin kembali diperlombakan untuk memperebutkan juara tingkat Madura.

Hasil dari perlombaan tersebut ( dari golongan menang) juara satu diraih  Sonar Muda dari Bangkalan, Juara dua Naga Mas dari Pamekasan, dan juara tiga diraih Jet Matic dari Sampang.

Kemudian dari golongan kalah, juara satu diraih Setan Balap Junior dari Bangkalan, juara dua diraih Baong 99 dari Sampang dan Moncong Putih dari Bangkalan berhasil meraih juara tiga.

”Selain mendapatkan piala presiden, hadiah yang kita sediakan yaitu dua unit mobil untuk juara satu dan sepeda motor untuk juara dua dan tiga,” kata Alwi selaku kepala bakoorwil wilayah pemerintah dan pembangunan Pamekasan.

Baca Juga :  Novi Puspita Sari, Pengerap Sapi Asal Sampang

Dalam sambutannya, dia menjelaskan, karapan sapi merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari jadi ke 73 Provinsi Jawa Timur. Acara tersebut merupakan salah satu kalender wisata provinsi Jawa Timur yang pelaksanaannya telah dipromosikan secara nasional maupun internasional dalam membentuk pagelaran Budaya tradisional.

”Karenanya, penyelenggaraannya setiap tahun perlu dilakukan inovasi agar lebih baik, sportif bertanggungjawab, tertib aman dan lancar,”terangnya.

 Bagi Alwi, kerapan sapi bukan sekedar pesta rakyat yang perayaannya digelar setiap tahun. Namun, kerapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan yang akan mengangkat martabat pemilik sapi di masyarakat.

 ”Seleksi pelaksanaan kerapan sapi secara berjenjang dari tingkat eks Kawedanan Kabupaten sudah terlaksana, sehingga menghasilkan 6 pasangan sapi. Sapi-sapi itu menjadi duta dari masing-masing kabupaten yang berhak melaju ke grand final atau eks-karesidenan/Gubeng,” ujarnya.

 Karenanya, dia mengajak kepada semua pihak terkait, termasuk pengerap sapi untuk bersama-sama berpartisipasi menjadikan kegiatan karapan sapi sebagai tontonan yang menarik unik dan layak dijual kepada wisatawan. Dengan demikian, diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan serta sebagai pengungkit ekonomi kreatif.

”Kami mengucapkan terimaksih kepada semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini. Khususnya kepada peguyuban kerapan sapi Bangkalan, Sampang, Pamekasan Sumenep, sehingga kerapan sapi yang memperebutkan piala bergulir presiden RI ini berlangusng sukses,’ terangnya.

Baca Juga :  Adipati 2 Juara Golongan Atas

Dijelaskan, sehari sebelum kerapan sapi, juga digelar lomba sape sono’. Lomba tersebut diikuti oleh 39 peserta dari empat kabupaten di Madura.

”Budaya sapi sonok ini sudah berkembang begitu lama di bumi Madura. Hal itu menunjukkan keluhuran dan tingginya peradaban masyarakat Madura,” terangnya.

Disamping dikenal sebagai pelaut yang ulung, petani yang mau bekerja keras juga peternak yang hebat, etos kerja yang tinggi tersebut, bisa dilihat dari tradisi memelihara sapi. Mereka tidak semata-mata hanya untuk beternak secara konvensional. Tetapi juga dipelihara dan dirawat dengan baik lewat sentuhan seni yang indah.

 ”Sehingga sapi tersebut memiliki nilai lebih dan berperilaku begitu cantik dan anggun layaknya seorang putri yang cantik mempesona,” terangnya.

 Dengan perawatan semacam tersebut, maka sapi sono’ akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Karena sentuhan kreativitas dan keindahan inilah sapi sono’ benar-benar menjadi tradisi yang khas dan unik.

 ”Karena itu Museum Rekor Indonesia mencatatnya sebagai kekayaan budaya yang unik dan menarik,” tukasnya.

PAMEKASAN – Kerapan sapi piala presiden 2018 Se-Madura menjadi tontonan yang menarik Minggu (21/10).  Perlombaan khas budaya Madura yang digelar di stadion  R Soenarto itu dipadati ribuan penonton.

Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Madura. Namun, juga datang dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan turis dari mancanegara juga menyaksikan perlombaan bergengsi tersebut.

Lomba tersebut diikuti oleh sebanyak 24 pasangan sapi. Masing-masing kabupaten mengirim enam pasang sapi yang telah dinyatakan sebagai pemenang ditingkat eks Kawedanan. Kemarin kembali diperlombakan untuk memperebutkan juara tingkat Madura.


Hasil dari perlombaan tersebut ( dari golongan menang) juara satu diraih  Sonar Muda dari Bangkalan, Juara dua Naga Mas dari Pamekasan, dan juara tiga diraih Jet Matic dari Sampang.

Kemudian dari golongan kalah, juara satu diraih Setan Balap Junior dari Bangkalan, juara dua diraih Baong 99 dari Sampang dan Moncong Putih dari Bangkalan berhasil meraih juara tiga.

”Selain mendapatkan piala presiden, hadiah yang kita sediakan yaitu dua unit mobil untuk juara satu dan sepeda motor untuk juara dua dan tiga,” kata Alwi selaku kepala bakoorwil wilayah pemerintah dan pembangunan Pamekasan.

Baca Juga :  Berharap Kesempatan Kedua

Dalam sambutannya, dia menjelaskan, karapan sapi merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari jadi ke 73 Provinsi Jawa Timur. Acara tersebut merupakan salah satu kalender wisata provinsi Jawa Timur yang pelaksanaannya telah dipromosikan secara nasional maupun internasional dalam membentuk pagelaran Budaya tradisional.

”Karenanya, penyelenggaraannya setiap tahun perlu dilakukan inovasi agar lebih baik, sportif bertanggungjawab, tertib aman dan lancar,”terangnya.

 Bagi Alwi, kerapan sapi bukan sekedar pesta rakyat yang perayaannya digelar setiap tahun. Namun, kerapan sapi adalah sebuah prestise kebanggaan yang akan mengangkat martabat pemilik sapi di masyarakat.

 ”Seleksi pelaksanaan kerapan sapi secara berjenjang dari tingkat eks Kawedanan Kabupaten sudah terlaksana, sehingga menghasilkan 6 pasangan sapi. Sapi-sapi itu menjadi duta dari masing-masing kabupaten yang berhak melaju ke grand final atau eks-karesidenan/Gubeng,” ujarnya.

 Karenanya, dia mengajak kepada semua pihak terkait, termasuk pengerap sapi untuk bersama-sama berpartisipasi menjadikan kegiatan karapan sapi sebagai tontonan yang menarik unik dan layak dijual kepada wisatawan. Dengan demikian, diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan serta sebagai pengungkit ekonomi kreatif.

”Kami mengucapkan terimaksih kepada semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini. Khususnya kepada peguyuban kerapan sapi Bangkalan, Sampang, Pamekasan Sumenep, sehingga kerapan sapi yang memperebutkan piala bergulir presiden RI ini berlangusng sukses,’ terangnya.

Baca Juga :  Ribuan Warga Sambut Antusias Hakiki Cup

Dijelaskan, sehari sebelum kerapan sapi, juga digelar lomba sape sono’. Lomba tersebut diikuti oleh 39 peserta dari empat kabupaten di Madura.

”Budaya sapi sonok ini sudah berkembang begitu lama di bumi Madura. Hal itu menunjukkan keluhuran dan tingginya peradaban masyarakat Madura,” terangnya.

Disamping dikenal sebagai pelaut yang ulung, petani yang mau bekerja keras juga peternak yang hebat, etos kerja yang tinggi tersebut, bisa dilihat dari tradisi memelihara sapi. Mereka tidak semata-mata hanya untuk beternak secara konvensional. Tetapi juga dipelihara dan dirawat dengan baik lewat sentuhan seni yang indah.

 ”Sehingga sapi tersebut memiliki nilai lebih dan berperilaku begitu cantik dan anggun layaknya seorang putri yang cantik mempesona,” terangnya.

 Dengan perawatan semacam tersebut, maka sapi sono’ akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Karena sentuhan kreativitas dan keindahan inilah sapi sono’ benar-benar menjadi tradisi yang khas dan unik.

 ”Karena itu Museum Rekor Indonesia mencatatnya sebagai kekayaan budaya yang unik dan menarik,” tukasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/