alexametrics
21 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Disdik Pamekasan akan Wajibkan Bahasa Madura

PAMEKASAN – Bahasa Madura merupakan media berkomunikasi yang digunakan oleh suku Madura. Bahasa ini merupakan salah satu kekayaan budaya lokal. Tetapi belakangan, bahasa Madura mulai ditinggalkan generasi muda, khususnya anak-anak yang lahir pasca era 2000-an.

Fakta inilah yang menjadi kegelisahan di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan. Meski belum terancam punah, tetapi sudah ada pergeseran paradigma di masyarakat. Yang awalnya mempelajari bahasa Madura menjadi kewajiban, lambat laun ditinggalkan.

”Bisa jadi pendapat yang mengatakan bahasa Madura mulai ditinggalkan itu benar. Tapi, saya tidak berani mengatakan itu tanpa ada penelitian,” ujar Kabid Pendidikan Sekolah Dasar Disdik Pamekasan Prama Jaya. ”Fenomena generasi kita mulai meninggalkan bahasa Madura sepertinya sudah ada,” tambahnya.

Menurut Prama, ada banyak faktor yang menyebabkan bahasa Madura mulai ditinggalkan. Pertama, lingkungan keluarga yang mulai kurang menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa ibu. Kedua, lingkungan masyarakat yang ikut memberikan kelonggaran terhadap generasi muda untuk tidak menggunakan bahasa Madura.

Baca Juga :  Pasien Positif Korona Enggan Diisolasi

Ketiga, teknologi informasi memberikan pengaruh mulai ditinggalkannya bahasa Madura. ”Anak-anak kita sudah menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi di media maya,” tegas Prama.

Karena itulah, lembaga pendidikan formal dinilai sebagai tempat strategis untuk melestarikan bahasa Madura. Ada dua cara yang dapat ditempuh lembaga pendidikan untuk mengatasi punahnya bahasa Madura. Pertama, menjadikan bahasa Madura sebagai alat komunikasi sehari-hari antara murid dan guru di luar jam pelajaran.

”Kedua, kita tetapkan hari tertentu dalam satu minggu anak-anak dan guru wajib berbahasa Madura. Misalnya, setiap Jumat dan Sabtu wajib berbahasa Madura seharian di sekolah,” papar Prama. ”Ini baru dalam pemikiran untuk kami tuangkan apakah dalam bentuk edaran atau imbauan,” pungkas peraih Tokoh Pendidikan Populer Madura Awards 2015 tersebut.

Baca Juga :  Ubah Perda Butuh Waktu Lama

Terpisah, akademisi Universitas Islam Madura (UIM) Ahmad Wiyono menyambut baik akan diwajibkannya berbahasa Madura. Menurutnya, sekolah memang harus ambil bagian dalam melestarikan bahasa dan budaya daerah.

Terlebih, sudah ada regulasi yang mengatur tentang wajib diajarkannya bahasa daerah. Baik dalam bentuk peraturan gubernur (pergub) ataupun peraturan bupati (perbup). ”Bahasa Madura merupakan kekayaan Indonesia. Jika bahasa ini ditinggalkan, otomatis kekayaan Indonesia berkurang. Tidaklah lengkap Indonesia tanpa bahasa Madura,” ucapnya.

- Advertisement -

PAMEKASAN – Bahasa Madura merupakan media berkomunikasi yang digunakan oleh suku Madura. Bahasa ini merupakan salah satu kekayaan budaya lokal. Tetapi belakangan, bahasa Madura mulai ditinggalkan generasi muda, khususnya anak-anak yang lahir pasca era 2000-an.

Fakta inilah yang menjadi kegelisahan di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan. Meski belum terancam punah, tetapi sudah ada pergeseran paradigma di masyarakat. Yang awalnya mempelajari bahasa Madura menjadi kewajiban, lambat laun ditinggalkan.

”Bisa jadi pendapat yang mengatakan bahasa Madura mulai ditinggalkan itu benar. Tapi, saya tidak berani mengatakan itu tanpa ada penelitian,” ujar Kabid Pendidikan Sekolah Dasar Disdik Pamekasan Prama Jaya. ”Fenomena generasi kita mulai meninggalkan bahasa Madura sepertinya sudah ada,” tambahnya.


Menurut Prama, ada banyak faktor yang menyebabkan bahasa Madura mulai ditinggalkan. Pertama, lingkungan keluarga yang mulai kurang menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa ibu. Kedua, lingkungan masyarakat yang ikut memberikan kelonggaran terhadap generasi muda untuk tidak menggunakan bahasa Madura.

Baca Juga :  Calon Wabup Pamekasan Pengganti Almarhum Raja'e

Ketiga, teknologi informasi memberikan pengaruh mulai ditinggalkannya bahasa Madura. ”Anak-anak kita sudah menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi di media maya,” tegas Prama.

Karena itulah, lembaga pendidikan formal dinilai sebagai tempat strategis untuk melestarikan bahasa Madura. Ada dua cara yang dapat ditempuh lembaga pendidikan untuk mengatasi punahnya bahasa Madura. Pertama, menjadikan bahasa Madura sebagai alat komunikasi sehari-hari antara murid dan guru di luar jam pelajaran.

”Kedua, kita tetapkan hari tertentu dalam satu minggu anak-anak dan guru wajib berbahasa Madura. Misalnya, setiap Jumat dan Sabtu wajib berbahasa Madura seharian di sekolah,” papar Prama. ”Ini baru dalam pemikiran untuk kami tuangkan apakah dalam bentuk edaran atau imbauan,” pungkas peraih Tokoh Pendidikan Populer Madura Awards 2015 tersebut.

Baca Juga :  Ubah Perda Butuh Waktu Lama

Terpisah, akademisi Universitas Islam Madura (UIM) Ahmad Wiyono menyambut baik akan diwajibkannya berbahasa Madura. Menurutnya, sekolah memang harus ambil bagian dalam melestarikan bahasa dan budaya daerah.

Terlebih, sudah ada regulasi yang mengatur tentang wajib diajarkannya bahasa daerah. Baik dalam bentuk peraturan gubernur (pergub) ataupun peraturan bupati (perbup). ”Bahasa Madura merupakan kekayaan Indonesia. Jika bahasa ini ditinggalkan, otomatis kekayaan Indonesia berkurang. Tidaklah lengkap Indonesia tanpa bahasa Madura,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/