alexametrics
20.6 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Tersambar Petir, Janda Meninggal

PAMEKASAN – Musibah bisa datang kapan saja. Seperti yang menimpa Juwairiyah, 45, warga Dusun Maddis, Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur. Janda satu anak itu mengembuskan napas terakhirnya di lahan pertanian akibat tersambar petir.

Nur Ahsan, 48, famili korban menuturkan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 06.00 Rabu (23/1). Juwairiyah bersama temannya, Hanifah, 50, hendak menyabit rumput di Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan.

Setiba di lokasi, tiba-tiba turun hujan lebat. Kedua perempuan bertetangga itu tetap berjalan menuju tegalan, tempat menyabit rumput. Belum sampai di lokasi yang dituju, petir menyambar.

Keduanya roboh. Hanifah sempat pingsan. Sementara Juwairiyah tak sadarkan diri. Kondisinya lemas. Nyaris tidak bisa bergerak. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung mendatangi dan berusaha menolong.

Baca Juga :  Minta Anulir Kebijakan Impor Garam

Juwairiyah langsung dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Noer Pamekasan dan langsung dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD). ”Sekitar 15 menit sesampainya dirumah sakit, sepupu saya (Juwairiyah, Red) meninggal,” ucapnya lirih.

Menurut Ahsan, sejak puluhan tahun lalu, Juwairiyah hidup sendirian. Dia memiliki satu anak laki-laki bernama Zamroni. Namun, anak semata wayangnya itu memilih merantau ke Kalimantan sebagai tukang cukur.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Juwairiyah mengandalkan hasil pertanian. Dia juga mengembala tiga ekor sapi dari hasil uang yang dikumpulkan. ”Kasihan, dia termasuk orang tidak punya,” ungkapnya.

Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki membenarkan kejadian tersebut. Menurut dia, polisi sudah turun ke tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga mendatangi rumah duka untuk meminta keterangan.

Baca Juga :  Tempat Karaoke di Pamekasan Bakal Buka Lagi, Ini Alasannya

Menurut Osa, meninggalnya janda itu murni akibat tersambar petir. Tidak ada faktor kesengajaan. ”Setelah mendapat informasi dari masyarakat, kami langsung turun ke TKP,” katanya.

PAMEKASAN – Musibah bisa datang kapan saja. Seperti yang menimpa Juwairiyah, 45, warga Dusun Maddis, Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur. Janda satu anak itu mengembuskan napas terakhirnya di lahan pertanian akibat tersambar petir.

Nur Ahsan, 48, famili korban menuturkan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 06.00 Rabu (23/1). Juwairiyah bersama temannya, Hanifah, 50, hendak menyabit rumput di Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan.

Setiba di lokasi, tiba-tiba turun hujan lebat. Kedua perempuan bertetangga itu tetap berjalan menuju tegalan, tempat menyabit rumput. Belum sampai di lokasi yang dituju, petir menyambar.

Keduanya roboh. Hanifah sempat pingsan. Sementara Juwairiyah tak sadarkan diri. Kondisinya lemas. Nyaris tidak bisa bergerak. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung mendatangi dan berusaha menolong.

Baca Juga :  Jumlah Dokter Hewan Tak Ideal

Juwairiyah langsung dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Noer Pamekasan dan langsung dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD). ”Sekitar 15 menit sesampainya dirumah sakit, sepupu saya (Juwairiyah, Red) meninggal,” ucapnya lirih.

Menurut Ahsan, sejak puluhan tahun lalu, Juwairiyah hidup sendirian. Dia memiliki satu anak laki-laki bernama Zamroni. Namun, anak semata wayangnya itu memilih merantau ke Kalimantan sebagai tukang cukur.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Juwairiyah mengandalkan hasil pertanian. Dia juga mengembala tiga ekor sapi dari hasil uang yang dikumpulkan. ”Kasihan, dia termasuk orang tidak punya,” ungkapnya.

Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki membenarkan kejadian tersebut. Menurut dia, polisi sudah turun ke tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga mendatangi rumah duka untuk meminta keterangan.

Baca Juga :  Petani Meninggal Tersambar Petir saat Ngontel

Menurut Osa, meninggalnya janda itu murni akibat tersambar petir. Tidak ada faktor kesengajaan. ”Setelah mendapat informasi dari masyarakat, kami langsung turun ke TKP,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/