alexametrics
25.3 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Jagung Diserang Bulai, Penyuluh Abaikan Keluhan Petani

PAMEKASAN – Petani jagung di wilayah pantura Pamekasan terancam gagal panen. Jagung yang ditanam mereka banyak terserang penyakit bulai. Parahnya, laporan kepada petugas pertanian tidak ada penanganan serius.

Muhammad Sofi, 37, warga Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar, mengatakan, jagung yang ditanam rusak akibat terkena penyakit. Dia tidak mengetahui secara pasti apa jenis penyakit yang menyerang jagungnya. ”Putih semua daunnya. Ada yang menguning. Jagung kalau sudah begini, jangan harap ada buahnya,” ungkapnya kemarin (22/11).

Sofi juga menegaskan, tidak hanya jagung miliknya yang rusak akibat terserang penyakit. Jagung milik petani lain juga rusak dan terancam gagal panen. ”Hampir seluruhnya begini. Kalau di desa ini ada empat dusun yang tanaman jagungnya rusak seperti  ini,” paparnya.

Baca Juga :  Cemburu Pacar Bonceng Cewek Lain, Warga Pamekasan Terjun ke Sungai

Dia juga menegaskan, di desa lainnya seperti di Tagangser Laok, Tagangser Daja, juga terserang penyakit yang sama. Jagung tersebut sudah disemprot dengan obat, tetapi tetap saja tidak ada perubahan. ”Kami sudah melapor. Tapi, tidak ada petugas yang turun ke sini dan memberikan penyuluhan bagaimana cara mengatasi tanaman yang seperti ini,” pungkasnya.

Imam selaku penyuluh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pamekasan membenarkan banyak tanaman jagung di lahan pertanian di wilayah pantura yang terserang penyakit bulai. Pihaknya sudah turun ke lapangan dan melakukan pemantauan.

”Kami sudah lakukan pengecekan, memang banyak yang terserang penyakit bulai, ini akan kami tindak lanjuti ke kelompok tani di masing-masing desa,” terangnya.

Baca Juga :  Tumpukan Material Ganggu Pengguna Jalan

Penyebab penyakit tersebut bisa saja akibat tidak diberi obat sebelum menanam, seperti obat karamel. Pihaknya sudah memberikan saran kepada petani di tiap kelompok untuk menyemprotkan obat supaya tidak menyebar. ”Jika menyebar, bisa jadi tidak,” ujarnya.

Ke depan, langkah yang akan dilakukan adalah meminta supaya petani melakukan treatment sebelum menanam jagung. Dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan penyuluhan. ”Tapi, kami tidak mungkin memberikan penyuluhan secara keseluruhan. Nanti akan kami cari yang paling parah. Tenaga penyuluhnya terbatas soalnya,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Petani jagung di wilayah pantura Pamekasan terancam gagal panen. Jagung yang ditanam mereka banyak terserang penyakit bulai. Parahnya, laporan kepada petugas pertanian tidak ada penanganan serius.

Muhammad Sofi, 37, warga Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar, mengatakan, jagung yang ditanam rusak akibat terkena penyakit. Dia tidak mengetahui secara pasti apa jenis penyakit yang menyerang jagungnya. ”Putih semua daunnya. Ada yang menguning. Jagung kalau sudah begini, jangan harap ada buahnya,” ungkapnya kemarin (22/11).

Sofi juga menegaskan, tidak hanya jagung miliknya yang rusak akibat terserang penyakit. Jagung milik petani lain juga rusak dan terancam gagal panen. ”Hampir seluruhnya begini. Kalau di desa ini ada empat dusun yang tanaman jagungnya rusak seperti  ini,” paparnya.

Baca Juga :  DPRD Pamekasan Segera Kandangkan Mobil Dinas

Dia juga menegaskan, di desa lainnya seperti di Tagangser Laok, Tagangser Daja, juga terserang penyakit yang sama. Jagung tersebut sudah disemprot dengan obat, tetapi tetap saja tidak ada perubahan. ”Kami sudah melapor. Tapi, tidak ada petugas yang turun ke sini dan memberikan penyuluhan bagaimana cara mengatasi tanaman yang seperti ini,” pungkasnya.

Imam selaku penyuluh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pamekasan membenarkan banyak tanaman jagung di lahan pertanian di wilayah pantura yang terserang penyakit bulai. Pihaknya sudah turun ke lapangan dan melakukan pemantauan.

”Kami sudah lakukan pengecekan, memang banyak yang terserang penyakit bulai, ini akan kami tindak lanjuti ke kelompok tani di masing-masing desa,” terangnya.

Baca Juga :  PLN Dorong Perekonomian Petani

Penyebab penyakit tersebut bisa saja akibat tidak diberi obat sebelum menanam, seperti obat karamel. Pihaknya sudah memberikan saran kepada petani di tiap kelompok untuk menyemprotkan obat supaya tidak menyebar. ”Jika menyebar, bisa jadi tidak,” ujarnya.

Ke depan, langkah yang akan dilakukan adalah meminta supaya petani melakukan treatment sebelum menanam jagung. Dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan penyuluhan. ”Tapi, kami tidak mungkin memberikan penyuluhan secara keseluruhan. Nanti akan kami cari yang paling parah. Tenaga penyuluhnya terbatas soalnya,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/