alexametrics
21.6 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Serapan Menyempit, Banjir di Kota Gerbang Salam Sulit Teratasi

PAMEKASAN – Pemkab Pamekasan berupaya agar banjir di wilayah perkotaan segera teratasi. Namun, rencana itu tak terwujud hingga saat ini. Buktinya, tiap turun hujan Kota Gerbang Salam selalu banjir.

Anggota DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, banjir sulit diatasi. Penyebabnya, serapan air tanah di wilayah perkotaan sangat sempit. Banyak lahan persawahan yang justru dibangun perumahan.

”Misalkan di utara kantor pemkab timur dan Jalan Brawijaya sudah banyak dibangun rumah. Akibatnya, air mengalir ke rumah-rumah warga saat hujan,” terangnya Minggu (21/1).

Dia meminta pemkab memperketat izin pendirian bangunan perumahan. Jika dapat memicu terjadinya banjir, tidak boleh diizinkan. Begitu juga serapan tanah di wilayah perkotaan perlu dijaga.

Baca Juga :  Musim Kemarau, BPBD Pamekasan Himbau Warga Melakukan Ini

”Saya nilai sampai kapan pun banjir di wilayah perkotaan tidak akan bisa diatasi. Sebab, lahan serapan sudah menyempit,” terangnya.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pamekasan Budi Cahyono menjelaskan, banjir yang terjadi di perkotaan bukan luapan dari sungai. Namun, dari persawahan dan daratan tinggi. Ketika ada hujan dengan durasi yang sangat lama, kemungkinan besar terjadi banjir.

”Jadi, mengalirnya ke daerah Ronggosukowati, Kolpajung, dan Manten. Setelah dari sawah masuk ke permukiman warga,” terangnya.

Dia membenarkan banjir di wilayah perkotaan mudah tejadi lantaran serapan lahan air berkurang. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait. ”Dulu di belakang pemkab memang tempat penampungan air, tapi sekarang menjadi permukiman,” pungkasnya.

Baca Juga :  Manfaat Belum Jelas, Reservoir Perlu Diuji
- Advertisement -

PAMEKASAN – Pemkab Pamekasan berupaya agar banjir di wilayah perkotaan segera teratasi. Namun, rencana itu tak terwujud hingga saat ini. Buktinya, tiap turun hujan Kota Gerbang Salam selalu banjir.

Anggota DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, banjir sulit diatasi. Penyebabnya, serapan air tanah di wilayah perkotaan sangat sempit. Banyak lahan persawahan yang justru dibangun perumahan.

”Misalkan di utara kantor pemkab timur dan Jalan Brawijaya sudah banyak dibangun rumah. Akibatnya, air mengalir ke rumah-rumah warga saat hujan,” terangnya Minggu (21/1).


Dia meminta pemkab memperketat izin pendirian bangunan perumahan. Jika dapat memicu terjadinya banjir, tidak boleh diizinkan. Begitu juga serapan tanah di wilayah perkotaan perlu dijaga.

Baca Juga :  Lima Dosen IAIN Madura Jadi Pembicara Forum Internasional

”Saya nilai sampai kapan pun banjir di wilayah perkotaan tidak akan bisa diatasi. Sebab, lahan serapan sudah menyempit,” terangnya.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pamekasan Budi Cahyono menjelaskan, banjir yang terjadi di perkotaan bukan luapan dari sungai. Namun, dari persawahan dan daratan tinggi. Ketika ada hujan dengan durasi yang sangat lama, kemungkinan besar terjadi banjir.

”Jadi, mengalirnya ke daerah Ronggosukowati, Kolpajung, dan Manten. Setelah dari sawah masuk ke permukiman warga,” terangnya.

Dia membenarkan banjir di wilayah perkotaan mudah tejadi lantaran serapan lahan air berkurang. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait. ”Dulu di belakang pemkab memang tempat penampungan air, tapi sekarang menjadi permukiman,” pungkasnya.

Baca Juga :  Rumah Kebanjiran, Lansia Pingsan, Dievakuasi ke RS Pakai Ambulans
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/