alexametrics
21.1 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Hari Santri Nasional: Pesantren dan Kitab Kuning Itu Satu Paket

PAMEKASAN – Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Itu berdasar Keputusan Presiden 22/2015 tentang Hari Santri. Mulai Sabtu (21/10) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) akan menurunkan liputan seputar santri dan pesantren di Pulau Garam.

………………

Pesantren dan kitab kuning ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Sejak dulu, jebolan pesantren dapat dipastikan mampu menguasai baca kitab gundul itu.

Namun penguasaan santri terhadap kitab kuning mulai memudar. Itulah yang disadari oleh salah satu Dewan A’wan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kecamatan Palengaan, RKH. M. Tohir Abd. Hamid.

Kondisi itu perlu disikapi secara serius agar pesantren tetap mampu melahirkan santri-santri yang ahli dan menguasai baca kitab kuning. Sebab, hal itu sudah menjadi ciri khas pesantren. Karena itu pula yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan yang lain.

Kesadaran itu dijawantahkan oleh Pesantren Bata-Bata dengan mencetuskan metode akselerasi baca kitab kuning. Dengan metode itu, santri mampu membaca kitab dalam jangka waktu yang cukup singkat.

Di Pesantren Bata-Bata, begitu pesantren ini lebih dikenal, ada dua metode akselerasi yang berhasil dicetuskan oleh santri. Pertama, metode prakomisi (prakom) dan nubdzatul bayan. Untuk prakom bisa difungsikan oleh santri umum lintas kelas.

Prakom adalah komisi pertama untuk bisa baca kitab. Bagi yang sudah mengikuti disebut alumni prakom (alkom) yang juga memiliki program khusus. Kemudian, mereka bisa masuk majelis musyawarah kuyubuddiniyah (M2KD) yang fokus pada pembahasan kajian kitab seperti bahtsul masail.

Sementara metode nubdzatul bayan difungsikan bagi santri kecil yang fokus mengikuti program akselerasi. Dengan metode inilah, Pesantren Bata-Bata produktif melahirkan santri berprestasi. Khususnya ketika ada lomba baca kitab. Baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Belasan santri putra dan putri yang berhasil meraih juara pada Musabawah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Jatim beberapa hari lalu salah satu buktinya.

Baca Juga :  SMPN I Pademawu Jadi Fasda Sekolah Model

RKH. M. Tohir Abd. Hamid menjelaskan, metode akselerasi itu dicetuskan agar santri tetap bisa menguasai baca kitab kuning sebagai tradisi pesantren. Sebab jika tetap mangacu pada metode lama, penguasaan santri dalam membaca kitab kuning akan lambat.

Hal itu bisa menjadi pemicu santri tidak tertarik untuk mendalami dan menguasai baca kitab kuning. Jika tidak ada metode baru, pesantren akan kehilangan ciri khasnya. Yakni, sebagai lembaga dikenal mampu mencetak santri pandai baca kitab kuning.

”Santri Bata-Bata yang masuk program khusus, wajib hafal Alfiah (metode gramatika). Santri sudah biasa berlomba-lomba menghafal Alfiah karangan Ibnu Malik yang terdiri dari seribu bait itu,” terangnya.

Putra RKH. Abd. Hamid itu menjelaskan, penguasaan baca kitab kuning menjadi keniscayaan agar bisa memahami ajaran Islam secara baik dan sempurna. Sebab, menurut dia, karangan kitab yang dicetuskan beberapa ulama menggunakan bahasa Arab. ”Kalau tidak bisa membaca dan memahami kitab kuning karangan ulama itu, bagaimana kita bisa memahami maskudnya dengan benar dan sempurna?” terangnya.

Lalu bagaimana dengan umat Islam yang memahami kitab atau ajaran Islam hanya berdasarkan bantuan Google? Menurutnya itu sangat berbahaya. Sangat besar kemungkinan terjemahan atau ilmu di Google itu tidak benar dan menyesatkan. Sebab itu jalan pintas yang dapat merusak peradaban.

”Kita tahu Alquran dan hadis adalah dua pegangan yang menjadi penuntun seluruh umat Islam. Karena itu, orang pesantren harus menguasai dengan baik dan benar kitab-kitab yang pada dasarnya berujung pada Alquran ada hadis,” terangnya.

Baca Juga :  Bolak-Balik Berobat Sakit Lambung, Beban Hadi Diringankan JKN-KIS

Di sisi lain, dia mengatakan, orang yang sangat fanatik pada kitab kuning juga kurang pas. Mestinya, kitab itu juga dikembangkan. Bisa dimungkinkan, karangan kitab yang sudah ratusan tahun itu ada yang tidak cocok jika difungsikan pada zaman sekarang.

”Kalau untuk ibadah salat dan lainnya tidak masalah. Tapi kalau soal jual beli, astronomi, seharusnya juga perlu dikembangkan,” terangnya.

Sebab itu, lanjut dia, santri Bata-Bata juga dituntut untuk bisa mengarang atau menulis kitab atau buku. Khususnya yang bisa memberikan kemudahan bagi pembaca. Dengan begitu, masyarakat tidak asal copy paste dari Google.

Selain metode akselerasi baca kitab kuning, Pesantren Bata-Bata juga mencetuskan program akselerasi bidang keilmuan lainnya. Seperti faraidh, balaghah, falak, dan logika (mantiq). Ilmu-ilmu itu dapat dipahami dengan cepat oleh santri.

”Alhamdulillah, sudah ada ratusan kitab yang ditulis santri dalam berbagai konteks  berbeda,” ungkap Ra Tahir. ”Seandainya pengarang kitab Fathul Muin saat ini masih ada, dia akan senang karena karyanya dipakai di pesantren. Tapi dia akan sedih karena masih tetap dipakai lebih dari ratusan tahun,” tegasnya.

Gerakan Pesantren Bata-Bata agar santri atau umat Islam bisa baca kitab kuning dengan cepat tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren. Juga bisa diterapkan di beberapa pesanten lain. Dalam waktu dekat, secara khusus, pria kelahiran 1981 ini akan menjadi pembicara di salah satu universitas di Malaysia. Temanya mengenai metode akselerasi baca kitab.

”Pesantren itu secara subtansi adalah lembaga dakwah. Sebab, lembaga dakwah orang-orang di pesantren harus menguasai isi dari materi dakwah dengan benar,” pungkasnya.

PAMEKASAN – Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Itu berdasar Keputusan Presiden 22/2015 tentang Hari Santri. Mulai Sabtu (21/10) Jawa Pos Radar Madura (JPRM) akan menurunkan liputan seputar santri dan pesantren di Pulau Garam.

………………

Pesantren dan kitab kuning ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Sejak dulu, jebolan pesantren dapat dipastikan mampu menguasai baca kitab gundul itu.


Namun penguasaan santri terhadap kitab kuning mulai memudar. Itulah yang disadari oleh salah satu Dewan A’wan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kecamatan Palengaan, RKH. M. Tohir Abd. Hamid.

Kondisi itu perlu disikapi secara serius agar pesantren tetap mampu melahirkan santri-santri yang ahli dan menguasai baca kitab kuning. Sebab, hal itu sudah menjadi ciri khas pesantren. Karena itu pula yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan yang lain.

Kesadaran itu dijawantahkan oleh Pesantren Bata-Bata dengan mencetuskan metode akselerasi baca kitab kuning. Dengan metode itu, santri mampu membaca kitab dalam jangka waktu yang cukup singkat.

Di Pesantren Bata-Bata, begitu pesantren ini lebih dikenal, ada dua metode akselerasi yang berhasil dicetuskan oleh santri. Pertama, metode prakomisi (prakom) dan nubdzatul bayan. Untuk prakom bisa difungsikan oleh santri umum lintas kelas.

Prakom adalah komisi pertama untuk bisa baca kitab. Bagi yang sudah mengikuti disebut alumni prakom (alkom) yang juga memiliki program khusus. Kemudian, mereka bisa masuk majelis musyawarah kuyubuddiniyah (M2KD) yang fokus pada pembahasan kajian kitab seperti bahtsul masail.

Sementara metode nubdzatul bayan difungsikan bagi santri kecil yang fokus mengikuti program akselerasi. Dengan metode inilah, Pesantren Bata-Bata produktif melahirkan santri berprestasi. Khususnya ketika ada lomba baca kitab. Baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Belasan santri putra dan putri yang berhasil meraih juara pada Musabawah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Jatim beberapa hari lalu salah satu buktinya.

Baca Juga :  Abaikan SK, Bakal Lawan Bupati di Pengadilan

RKH. M. Tohir Abd. Hamid menjelaskan, metode akselerasi itu dicetuskan agar santri tetap bisa menguasai baca kitab kuning sebagai tradisi pesantren. Sebab jika tetap mangacu pada metode lama, penguasaan santri dalam membaca kitab kuning akan lambat.

Hal itu bisa menjadi pemicu santri tidak tertarik untuk mendalami dan menguasai baca kitab kuning. Jika tidak ada metode baru, pesantren akan kehilangan ciri khasnya. Yakni, sebagai lembaga dikenal mampu mencetak santri pandai baca kitab kuning.

”Santri Bata-Bata yang masuk program khusus, wajib hafal Alfiah (metode gramatika). Santri sudah biasa berlomba-lomba menghafal Alfiah karangan Ibnu Malik yang terdiri dari seribu bait itu,” terangnya.

Putra RKH. Abd. Hamid itu menjelaskan, penguasaan baca kitab kuning menjadi keniscayaan agar bisa memahami ajaran Islam secara baik dan sempurna. Sebab, menurut dia, karangan kitab yang dicetuskan beberapa ulama menggunakan bahasa Arab. ”Kalau tidak bisa membaca dan memahami kitab kuning karangan ulama itu, bagaimana kita bisa memahami maskudnya dengan benar dan sempurna?” terangnya.

Lalu bagaimana dengan umat Islam yang memahami kitab atau ajaran Islam hanya berdasarkan bantuan Google? Menurutnya itu sangat berbahaya. Sangat besar kemungkinan terjemahan atau ilmu di Google itu tidak benar dan menyesatkan. Sebab itu jalan pintas yang dapat merusak peradaban.

”Kita tahu Alquran dan hadis adalah dua pegangan yang menjadi penuntun seluruh umat Islam. Karena itu, orang pesantren harus menguasai dengan baik dan benar kitab-kitab yang pada dasarnya berujung pada Alquran ada hadis,” terangnya.

Baca Juga :  SMPN I Pademawu Jadi Fasda Sekolah Model

Di sisi lain, dia mengatakan, orang yang sangat fanatik pada kitab kuning juga kurang pas. Mestinya, kitab itu juga dikembangkan. Bisa dimungkinkan, karangan kitab yang sudah ratusan tahun itu ada yang tidak cocok jika difungsikan pada zaman sekarang.

”Kalau untuk ibadah salat dan lainnya tidak masalah. Tapi kalau soal jual beli, astronomi, seharusnya juga perlu dikembangkan,” terangnya.

Sebab itu, lanjut dia, santri Bata-Bata juga dituntut untuk bisa mengarang atau menulis kitab atau buku. Khususnya yang bisa memberikan kemudahan bagi pembaca. Dengan begitu, masyarakat tidak asal copy paste dari Google.

Selain metode akselerasi baca kitab kuning, Pesantren Bata-Bata juga mencetuskan program akselerasi bidang keilmuan lainnya. Seperti faraidh, balaghah, falak, dan logika (mantiq). Ilmu-ilmu itu dapat dipahami dengan cepat oleh santri.

”Alhamdulillah, sudah ada ratusan kitab yang ditulis santri dalam berbagai konteks  berbeda,” ungkap Ra Tahir. ”Seandainya pengarang kitab Fathul Muin saat ini masih ada, dia akan senang karena karyanya dipakai di pesantren. Tapi dia akan sedih karena masih tetap dipakai lebih dari ratusan tahun,” tegasnya.

Gerakan Pesantren Bata-Bata agar santri atau umat Islam bisa baca kitab kuning dengan cepat tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren. Juga bisa diterapkan di beberapa pesanten lain. Dalam waktu dekat, secara khusus, pria kelahiran 1981 ini akan menjadi pembicara di salah satu universitas di Malaysia. Temanya mengenai metode akselerasi baca kitab.

”Pesantren itu secara subtansi adalah lembaga dakwah. Sebab, lembaga dakwah orang-orang di pesantren harus menguasai isi dari materi dakwah dengan benar,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/