alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Lindungi Sapi Bunting dan Partus dengan Sigap Sratus 369 Plus

PAMEKASAN – Untuk keberlanjutan program inovasi Intan Satu Saka, DKPP meluncurkan Sigap Sratus 369 Plus. Program tersebut merupakan gerakan pelayanan pada sapi betina bunting hingga partus (melahirkan).

Angka 3 pada Sigap Sratus 369 Plus memiliki arti strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 3 bulan. Kemudian angka 6 merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 6 bulan.

Sementara angka 9 merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 9 bulan. Sedangkan plus merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada induk melahirkan yang dilanjutkan dengan pelayanan pasca melahirkan.

Dengan menerapkan inovasi tersebut akan diperoleh beberapa hasil positif. Di antaranya,  kesehatan induk sapi sampai melahirkan terjamin. Reproduksinya juga optimal. Interval kelahiran dapat diperpendek menjadi 12 bulan.

Baca Juga :  Madura Awards Pacu Semangat Kinerja

Selain induk, pedet yang dilahirkan juga dipastikan sehat dan kuat. Kerugian ekonomi akibat betina majir/steril atau mandul dapat dihindari. ”Persentase keuntungan memelihara sapi betina bisa mencapai 3,2 persen per bulan,” terang Kepala DKPP Pamekasan Bambang Prayogi.

Diakuinya, realitas di lapangan banyak pemeliharaan sapi betina tanpa menjalankan kaidah Good Practical Management. Akibatnya, jarak kelahiran sangat panjang, yakni 16–18 bulan. Selain itu, kesehatan pedet buruk.

Selain itu, pola pemeriksaan kebuntingan juga jarang dilakukan. ”Kami juga luncurkan program inovasi tangkas nyawa magis. Yaitu, tangkal berantas penyakit hewan menular strategis,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

PAMEKASAN – Untuk keberlanjutan program inovasi Intan Satu Saka, DKPP meluncurkan Sigap Sratus 369 Plus. Program tersebut merupakan gerakan pelayanan pada sapi betina bunting hingga partus (melahirkan).

Angka 3 pada Sigap Sratus 369 Plus memiliki arti strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 3 bulan. Kemudian angka 6 merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 6 bulan.

Sementara angka 9 merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada umur kebuntingan 9 bulan. Sedangkan plus merupakan strategi pelayanan aksi tanggap pada induk melahirkan yang dilanjutkan dengan pelayanan pasca melahirkan.


Dengan menerapkan inovasi tersebut akan diperoleh beberapa hasil positif. Di antaranya,  kesehatan induk sapi sampai melahirkan terjamin. Reproduksinya juga optimal. Interval kelahiran dapat diperpendek menjadi 12 bulan.

Baca Juga :  Madura Awards Pacu Semangat Kinerja

Selain induk, pedet yang dilahirkan juga dipastikan sehat dan kuat. Kerugian ekonomi akibat betina majir/steril atau mandul dapat dihindari. ”Persentase keuntungan memelihara sapi betina bisa mencapai 3,2 persen per bulan,” terang Kepala DKPP Pamekasan Bambang Prayogi.

Diakuinya, realitas di lapangan banyak pemeliharaan sapi betina tanpa menjalankan kaidah Good Practical Management. Akibatnya, jarak kelahiran sangat panjang, yakni 16–18 bulan. Selain itu, kesehatan pedet buruk.

Selain itu, pola pemeriksaan kebuntingan juga jarang dilakukan. ”Kami juga luncurkan program inovasi tangkas nyawa magis. Yaitu, tangkal berantas penyakit hewan menular strategis,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/