alexametrics
27.1 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Lestarikan Sapi Madura melalui Intan Satu Saka

PAMEKASAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan dinobatkan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) paling inovatif pada Madura Awards 2017. Salah satu alasannya sukses melestarikan sapi Madura.

Total populasi sapi di Madura sekitar 800 ribu ekor. Sekitar 190 ekor di antaranya terdapat di Kabupaten Pamekasan. Populasi sapi asli Pulau Garam tersebut terus dilestarikan dan dikembangbiakkan.

Hal itu yang menjadi komitmen DKPP Pamekasan. Instansi tersebut berkomitmen untuk melestarikan sapi Madura. DKPP meluncurkan bebeapa program inovasi. Di antaranya, Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran (Intan Satu Saka).

Program itu diyakini dapat mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Usaha budi daya sapi potong tradisional menjadi usaha pokok yang menguntungkan. Selain itu juga memperpendek jarak kelahiran ternak sapi.

Baca Juga :  Bambang Heriyanto Pemimpin yang Tegas

”Biasanya 8–20 bulan menjadi 12 bulan. Sapi dapat melahirkan anak setiap tahun. Begitu juga sebagai instrumen mengoptimalkan kemampuan reproduksi sapi betina,” kata Kepala DKPP Pamekasan Bambang Prayogi.

Dampak dari Instan Satu Saka tersebut dapat mendukung terhadap pelestarian sapi Madura atau sumber daya genetik lokal. Secara otomatis dapat mempertahankan Madura sebagai penunjang populasi sapi potong Jawa Timur.

Selain itu juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Dengan demikian, bisa mendukung terhadap keberhasilan program percepatan swasembada daging sapi dan kerbau nasional.

”Langkah ini bisa membuka peluang investasi sapi potong di pulau Madura. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat bisa meningkat,” terangnya.

Terobosan itu dilakukan karena produktivitas ternak rendah. Jarak kelahiran sapi panjang. Peternak belum menjalankan kaidah Good Practical Management. Sementara pemotongan dan pengiriman ke luar daerah tinggi.

Baca Juga :  Pintar Manfaatkan Peluang Usaha

”Selama ini peternak hanya menjadikan sebagai usaha sampingan, belum berorientasi bisnis. Dengan program Intan Satu Saka itu saya yakin dapat menyelesaikan masalah-masalah di atas,” pungkasnya.

 

 

 

PAMEKASAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan dinobatkan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) paling inovatif pada Madura Awards 2017. Salah satu alasannya sukses melestarikan sapi Madura.

Total populasi sapi di Madura sekitar 800 ribu ekor. Sekitar 190 ekor di antaranya terdapat di Kabupaten Pamekasan. Populasi sapi asli Pulau Garam tersebut terus dilestarikan dan dikembangbiakkan.

Hal itu yang menjadi komitmen DKPP Pamekasan. Instansi tersebut berkomitmen untuk melestarikan sapi Madura. DKPP meluncurkan bebeapa program inovasi. Di antaranya, Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran (Intan Satu Saka).


Program itu diyakini dapat mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Usaha budi daya sapi potong tradisional menjadi usaha pokok yang menguntungkan. Selain itu juga memperpendek jarak kelahiran ternak sapi.

Baca Juga :  Jadikan Prestasi sebagai Motivasi untuk Lebih Baik

”Biasanya 8–20 bulan menjadi 12 bulan. Sapi dapat melahirkan anak setiap tahun. Begitu juga sebagai instrumen mengoptimalkan kemampuan reproduksi sapi betina,” kata Kepala DKPP Pamekasan Bambang Prayogi.

Dampak dari Instan Satu Saka tersebut dapat mendukung terhadap pelestarian sapi Madura atau sumber daya genetik lokal. Secara otomatis dapat mempertahankan Madura sebagai penunjang populasi sapi potong Jawa Timur.

Selain itu juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Dengan demikian, bisa mendukung terhadap keberhasilan program percepatan swasembada daging sapi dan kerbau nasional.

”Langkah ini bisa membuka peluang investasi sapi potong di pulau Madura. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat bisa meningkat,” terangnya.

Terobosan itu dilakukan karena produktivitas ternak rendah. Jarak kelahiran sapi panjang. Peternak belum menjalankan kaidah Good Practical Management. Sementara pemotongan dan pengiriman ke luar daerah tinggi.

Baca Juga :  Moch.┬áTarsun, Pemenang I Tokoh Pendidikan Madura Awards 2017

”Selama ini peternak hanya menjadikan sebagai usaha sampingan, belum berorientasi bisnis. Dengan program Intan Satu Saka itu saya yakin dapat menyelesaikan masalah-masalah di atas,” pungkasnya.

 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/