alexametrics
28.9 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Ada Bekas Pecut di Punggung dan Lebam di Perut

Keluarga Prada Marinir Shandi Nilai Janggal

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Prada Mar Shandi Darmawan baru bergabung menjadi prajurit TNI pada Agustus 2020. Selama bertugas, dia tiga kali pulang ke Pamekasan. Pertama saat ibunya meninggal pada 8 Juli 2021. Kemudian pada 13 Desember 2021, pulang lagi karena menjenguk bapaknya sakit. Dan yang ketiga, Shandi pulang tanpa nyawa. Pada bulan yang sama dengan wafatnya ibunda.

Kedatangan peti jenazah almarhum Prada Mar Shandi Darmawan disambut haru keluarga saat tiba di rumah pukul 20.23 pada Minggu malam (17/7). Putra kedua pasangan Moked dan Hafiyatun itu dibawa kereta merta marinir dari Bandara Juanda hingga ke rumah duka di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan.

Kedatangan jenazah didampingi Komandan Batalyon Infanteri 11 Marinir (Danyonif 11 Mar) Letkol Marinir Gigih Catur Pramono, S.H.M. Tr.Opsla dan anggota Yonif 11 Mar Prada Mar Firly Imam Subaydy. Pemakaman almarhum dilakukan secara militer berdasar persetujuan keluarga.

Kakak almarhum, Linda Fuji Lestari, mengaku tidak tahu persis kronologi penyebab adiknya meninggal. Dia menerima kabar duka dari senior adiknya berselang beberapa menit setelah wafat pukul 19.57 WIT, Sabtu malam (16/7).

Baca Juga :  AKI dan AKB Masih Tinggi

Namun, ada beberapa kejanggalan yang dirasakan keluarga atas meninggalnya Prada Mar Shandi Darmawan. Pertama, pihak keluarga menerima kabar duka secara tiba-tiba. ”Kalau sakit masa iya keluarga tidak dikasih tahu sehingga keluarga bisa ke sana kalau ada waktu,” ujarnya.

Sejak 7 Juli, keluarga menghubungi nomor Sandhi sudah tidak aktif. Akhirnya, keluarga minta tolong seniornya untuk mengomunikasikan dengan prajurit yang baru berulang tahun ke-21 pada Januari lalu itu. Keluarga khawatir karena pada momen hari raya tidak memberi kabar.

Kedua, pihak keluarga merasa ada yang janggal saat terakhir menghubungi Shandi keesokan Hari Raya Idul Adha, Senin (11/7). Almarhum berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Padahal selama berkomunikasi dengan keluarga, anggota Kipan C Yonif 11 Brigif 3 Pasmar 3 itu biasanya menggunakan bahasa Madura.

Selain itu, nomor yang menghubungi keluarga saat itu bukan milik almarhum. Linda mengaku mendengar ada seseorang yang membisiki Shandi. ”Bilang HP-mu rusak, jatuh ya’,” kata Linda menirukan suara itu.

Kejanggalan ketiga, keluarga menerima kiriman foto tubuh almarhum Shandi luka-luka pasca menerima kabar duka. Menurut Linda, luka itu kurang wajar. Padahal, adiknya dikabarkan meninggal karena sakit malaria.

Baca Juga :  Target Produksi Garam Rakyat 114 Ribu Ton

”Di foto itu adik saya ada di rumah sakit. Ada bekas pecut di punggung, di bagian perut lebam semua. Kalau memang cuma malaria kok ada perban besar di bawah lengan dan ada selang di sekitar paru-paru,” ungkapnya.

Karena itu, keluarga menilai ada yang tidak wajar atas wafatnya pria kelahiran 7 Januari 2001 tersebut. Keluarga meminta kepada anggota marinir yang mengantar untuk membuka peti jenazah. Yakni, untuk melihat langsung kondisi tubuh almarhum.

Linda tidak membeberkan luka-luka di tubuh adiknya setelah melihat jenazah. Istri Agus Hermanto itu masih mau melihat hasil otopsi yang dilakukan rumah sakit yang merawat Shandi. Karena itu, pihaknya belum bisa membuktikan kecurigaan keluarga. ”Selanjutnya, kami akan berembuk dengan keluarga setelah melihat hasil otopsi,” paparnya.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mencoba mewawancarai Letkol Marinir Gigih Catur Pramono. Namun, yang bersangkutan tidak bersedia memberikan keterangan atas wafatnya Prada Mar Shandi Darmawan.

Sekedar diketahui, Prada Mar Shandi Darmawan NRP 130055 masuk sebagai prajurit TNI pada 14 Agustus 2020. Kemudian, dia ditempatkan di Kota Sorong, Papua Barat. (bil/luq)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Prada Mar Shandi Darmawan baru bergabung menjadi prajurit TNI pada Agustus 2020. Selama bertugas, dia tiga kali pulang ke Pamekasan. Pertama saat ibunya meninggal pada 8 Juli 2021. Kemudian pada 13 Desember 2021, pulang lagi karena menjenguk bapaknya sakit. Dan yang ketiga, Shandi pulang tanpa nyawa. Pada bulan yang sama dengan wafatnya ibunda.

Kedatangan peti jenazah almarhum Prada Mar Shandi Darmawan disambut haru keluarga saat tiba di rumah pukul 20.23 pada Minggu malam (17/7). Putra kedua pasangan Moked dan Hafiyatun itu dibawa kereta merta marinir dari Bandara Juanda hingga ke rumah duka di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan.

Kedatangan jenazah didampingi Komandan Batalyon Infanteri 11 Marinir (Danyonif 11 Mar) Letkol Marinir Gigih Catur Pramono, S.H.M. Tr.Opsla dan anggota Yonif 11 Mar Prada Mar Firly Imam Subaydy. Pemakaman almarhum dilakukan secara militer berdasar persetujuan keluarga.


Kakak almarhum, Linda Fuji Lestari, mengaku tidak tahu persis kronologi penyebab adiknya meninggal. Dia menerima kabar duka dari senior adiknya berselang beberapa menit setelah wafat pukul 19.57 WIT, Sabtu malam (16/7).

Baca Juga :  Kritisi Realisasi Anggaran

Namun, ada beberapa kejanggalan yang dirasakan keluarga atas meninggalnya Prada Mar Shandi Darmawan. Pertama, pihak keluarga menerima kabar duka secara tiba-tiba. ”Kalau sakit masa iya keluarga tidak dikasih tahu sehingga keluarga bisa ke sana kalau ada waktu,” ujarnya.

Sejak 7 Juli, keluarga menghubungi nomor Sandhi sudah tidak aktif. Akhirnya, keluarga minta tolong seniornya untuk mengomunikasikan dengan prajurit yang baru berulang tahun ke-21 pada Januari lalu itu. Keluarga khawatir karena pada momen hari raya tidak memberi kabar.

Kedua, pihak keluarga merasa ada yang janggal saat terakhir menghubungi Shandi keesokan Hari Raya Idul Adha, Senin (11/7). Almarhum berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Padahal selama berkomunikasi dengan keluarga, anggota Kipan C Yonif 11 Brigif 3 Pasmar 3 itu biasanya menggunakan bahasa Madura.

Selain itu, nomor yang menghubungi keluarga saat itu bukan milik almarhum. Linda mengaku mendengar ada seseorang yang membisiki Shandi. ”Bilang HP-mu rusak, jatuh ya’,” kata Linda menirukan suara itu.

Kejanggalan ketiga, keluarga menerima kiriman foto tubuh almarhum Shandi luka-luka pasca menerima kabar duka. Menurut Linda, luka itu kurang wajar. Padahal, adiknya dikabarkan meninggal karena sakit malaria.

Baca Juga :  Pasutri Beserta Kedua Putranya Meninggal Dunia dalam 12 Hari

”Di foto itu adik saya ada di rumah sakit. Ada bekas pecut di punggung, di bagian perut lebam semua. Kalau memang cuma malaria kok ada perban besar di bawah lengan dan ada selang di sekitar paru-paru,” ungkapnya.

Karena itu, keluarga menilai ada yang tidak wajar atas wafatnya pria kelahiran 7 Januari 2001 tersebut. Keluarga meminta kepada anggota marinir yang mengantar untuk membuka peti jenazah. Yakni, untuk melihat langsung kondisi tubuh almarhum.

Linda tidak membeberkan luka-luka di tubuh adiknya setelah melihat jenazah. Istri Agus Hermanto itu masih mau melihat hasil otopsi yang dilakukan rumah sakit yang merawat Shandi. Karena itu, pihaknya belum bisa membuktikan kecurigaan keluarga. ”Selanjutnya, kami akan berembuk dengan keluarga setelah melihat hasil otopsi,” paparnya.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mencoba mewawancarai Letkol Marinir Gigih Catur Pramono. Namun, yang bersangkutan tidak bersedia memberikan keterangan atas wafatnya Prada Mar Shandi Darmawan.

Sekedar diketahui, Prada Mar Shandi Darmawan NRP 130055 masuk sebagai prajurit TNI pada 14 Agustus 2020. Kemudian, dia ditempatkan di Kota Sorong, Papua Barat. (bil/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/