alexametrics
22.3 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

1.840 Pasutri di Pamekasan Cerai

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Sebanyak 1.840  pasangan suami istri (pasutri) di Pamekasan bercerai. Hal itu merujuk ke data yang tercatat di Pengadilan Agama (PA) Kelas I-B Pamekasan. Kasus perceraian tersebut terjadi dalam kurun waktu 15 bulan atau sejak Januari 2020 hingga Maret 2021.

Dari 1.840 perkara cerai yang diputus PA Pamekasan tersebut, 1.167 kasus perceraian di antaranya terjadi karena ada gugatan dari pihak istri atau cerai gugat. Sementara 673 kasus lainnya cerai talak atau diinisiasi oleh pihak suami. Angka tersebut menunjukkan, perempuan lebih banyak menginisiasi perceraian.

Novi Kamalia, salah seorang aktivis perempuan Pamekasan kaget dengan tingginya kasus perceraian tersebut. Padahal, Pamekasan berjuluk Kota Gerbang Salam. Dengan begitu, membangun rumah tangga seharusnya berlandaskan pada tuntunan Al-Qur’an.

Baca Juga :  Sukseskan Pemilu Serentak, KPU Pamekasan Dibantu 63.666 Aparat

Doktor Ilmu Sosial Unair Surabaya itu mengatakan, khazanah pernikahan tersebut seharusnya bisa menjadi sumber wawasan untuk mambangun dan membina rumah tangga dengan baik. ”Tapi, tetap perlu ditelaah kasus demi kasus. Yang jelas ada yang belum beres dengan konsep berumah tangga,” ungkapnya.

Novi Kamalia mengatakan, perempuan cenderung merasa capai dan lelah jika ditimpa persoalan rumah tangga yang tidak kunjung selesai. ”Apalagi dibenturkan dengan suami yang tidak bisa menafkahi, sementara perempuan bertugas untuk mengelola keuangan rumah tangga,” terangnya.

Dia mengatakan, dalam penelitian disertasi program doktoralnya yang berjudul, Maskulinitas Laki-Laki Madura, ada satu temuan penting. Yakni, laki-laki Madura yang tidak bisa menafkahi perempuan cenderung bertindak tidak lazim kepada pasangannya.

Baca Juga :  Pemkab Pamekasan Dukung Penuh Aplikasi RadarMadura.id

”Semisal tindak kekerasan. Itu dilakukan agar wibawanya tidak hilang. Padahal, sudah menjadi tanggung jawab laki-laki untuk menafkahi,” pungkasnya. (ky)

- Advertisement -

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Sebanyak 1.840  pasangan suami istri (pasutri) di Pamekasan bercerai. Hal itu merujuk ke data yang tercatat di Pengadilan Agama (PA) Kelas I-B Pamekasan. Kasus perceraian tersebut terjadi dalam kurun waktu 15 bulan atau sejak Januari 2020 hingga Maret 2021.

Dari 1.840 perkara cerai yang diputus PA Pamekasan tersebut, 1.167 kasus perceraian di antaranya terjadi karena ada gugatan dari pihak istri atau cerai gugat. Sementara 673 kasus lainnya cerai talak atau diinisiasi oleh pihak suami. Angka tersebut menunjukkan, perempuan lebih banyak menginisiasi perceraian.

Novi Kamalia, salah seorang aktivis perempuan Pamekasan kaget dengan tingginya kasus perceraian tersebut. Padahal, Pamekasan berjuluk Kota Gerbang Salam. Dengan begitu, membangun rumah tangga seharusnya berlandaskan pada tuntunan Al-Qur’an.

Baca Juga :  Sumenep Sukses, Selanjutnya Program Ayo Menulis di Pamekasan

Doktor Ilmu Sosial Unair Surabaya itu mengatakan, khazanah pernikahan tersebut seharusnya bisa menjadi sumber wawasan untuk mambangun dan membina rumah tangga dengan baik. ”Tapi, tetap perlu ditelaah kasus demi kasus. Yang jelas ada yang belum beres dengan konsep berumah tangga,” ungkapnya.

Novi Kamalia mengatakan, perempuan cenderung merasa capai dan lelah jika ditimpa persoalan rumah tangga yang tidak kunjung selesai. ”Apalagi dibenturkan dengan suami yang tidak bisa menafkahi, sementara perempuan bertugas untuk mengelola keuangan rumah tangga,” terangnya.

Dia mengatakan, dalam penelitian disertasi program doktoralnya yang berjudul, Maskulinitas Laki-Laki Madura, ada satu temuan penting. Yakni, laki-laki Madura yang tidak bisa menafkahi perempuan cenderung bertindak tidak lazim kepada pasangannya.

Baca Juga :  Sukseskan Pemilu Serentak, KPU Pamekasan Dibantu 63.666 Aparat

”Semisal tindak kekerasan. Itu dilakukan agar wibawanya tidak hilang. Padahal, sudah menjadi tanggung jawab laki-laki untuk menafkahi,” pungkasnya. (ky)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/