alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Hotmix Rusak, Komisi III Minta Proyek Jalan Diperbaiki

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Rekanan pelaksana proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan harus membongkar dan memperbaiki pekerjaannya. Sebab, di sejumlah titik banyak hotmix yang rusak. Hal itu terungkap seusai Komisi III DPRD Pamekasan melakukan inspeksi mendadak (sidak) Senin (18/1).

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Komisi III DPRD Pamekasan melakukan sidak di dua lokasi proyek pemeliharaan jalan yang bersumber dari dana pemulihan ekonomi nasional (PEN). Perinciannya, proyek di akses Ambat–Tlanakan serta proyek di akses Branta Tinggi–Larangan Tokol.

Saat melakukan sidak proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan senilai Rp 800 juta, anggota dewan melihat sejumlah titik sudah rusak meski baru seumur jagung. Karena itu, legislatif meminta rekanan pelaksana proyek, yaitu CV Agra Abipraya, membongkar dan memperbaiki titik-titik yang rusak.

Ketua Komisi III DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, banyak hotmix yang retak dan ambles di akses Ambat–Tlanakan. Karena itu, pihaknya meminta rekanan pelaksana proyek dengan pagu anggaran Rp 1 miliar tersebut segera memperbaikinya. ”Karena sekarang masih tahap pemeliharaan, kami minta dibongkar,” pintanya.

Potilikus Partai Demokrat itu juga mendesak instansi terkait dan konsultan pengawas benar-benar melakukan pengawasan secara maksimal. Dengan demikian, perbaikan yang dilakukan rekanan pelaksana proyek sesuai spesifikasi. ”Preyek ini dibangun dengan dana pinjaman. Masak baru dibangun sudah rusak. Pemerintah dan masyarakat yang rugi,” tegasnya.

Baca Juga :  Gubernur: Warga Waspada hingga Februari 2021

Berdasar laporan yang diterima dari konsultan pengawas, rusaknya proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan disebabkan kurang maksimalnya kegiatan pemadatan. Sebab, sebelum pengerjaan, terdapat banyak lumpur yang seharusnya dikeruk. Namun kenyataanya, langsung dipasang cement treated base (CTB).

Khusus proyek akses Branta Tinggi–Larangan Tokol, Ismail belum bisa berbicara banyak. Sebab, uji laboratorium dari sampel hotmix yang diambil belum keluar. Ismail meminta jika nanti ada temuan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguan (BPK), rekanan pelaksana proyek harus melaksakan rekomendasinya.

Sementara itu, konsultan pengawas proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan Deddy Hariyanto membenarkan pemicu kerusakan karena kegiatan pemadatan kurang maksimal. Seharusnya, dilakukan pengerukan. Namun, rekanan pelaksana proyek malah tidak melakukan kegiatan pemadatan tersebut.

Deddy Hariyanto tidak menampik proses pengawasan yang dilakukan pihaknya tak maksimal. Dia berdalih, saat pengerjaan proyek akses Ambat–Tlanakan, pihaknya melakukan pengawasan di beberapa lokasi. Bukan hanya proyek tersebut. Akibatnya, proyek akses Ambat–Tlanakan tidak terpantau dengan baik.

Baca Juga :  Perlu Sinergisitas Semua Pihak demi Tercapainya Target 1 Juta BOPD

”Kami sudah melaporkan banyaknya pengerjaan yang rusak pada instansi terkait. Kami juga telah minta rekanan pelaksana proyek memperbaikinya. Dari awal sudah minta rekanan pelaksana proyek. Tetapi, rekanan pelaksana proyek belum memperbaiki hingga hari ini (kemarin, Red),” ungkapnya.

Di sisi lain, pejabat dan pelaksana teknis kegiatan (PPTK) proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan Hendra Prayudi mengungkapkan, masa pemeliharaan proyek selama enam bulan. Kendati demikian, pihaknya minta perbaikan tidak menunggu hingga masa pemeliharaan habis. ”Kami ingin secepatnya diperbaiki,” tutur pria berbadan kekar tersebut.

Dikonfirmasi di tempat terpisah, perwakilan CV Agra Abipraya Miky Primajaya tidak memungkiri rusaknya pengerjaan karena kurang maksimalnya kegiatan pemadatan. Namun, dia membantah hal tersebut terjadi karena pengerjaan asal-asalan. ”Awalnya memang ada lumpur (di titik yang rusak, Red). Sudah kami kupas, tapi mungkin masih kurang,” imbuhnya.

Miky Primajaya berjanji akan memperbaiki kerusakan karena saat ini masih dalam masa pemeliharaan. Namun, dia belum menjadwal kapan perbaikan dilakukan. ”Masih menunggu skedul dari asphalt mixing plant (AMP) dulu,” pungkas kontraktor asal Kabupaten Sampang itu. (jup)

 

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Rekanan pelaksana proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan harus membongkar dan memperbaiki pekerjaannya. Sebab, di sejumlah titik banyak hotmix yang rusak. Hal itu terungkap seusai Komisi III DPRD Pamekasan melakukan inspeksi mendadak (sidak) Senin (18/1).

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Komisi III DPRD Pamekasan melakukan sidak di dua lokasi proyek pemeliharaan jalan yang bersumber dari dana pemulihan ekonomi nasional (PEN). Perinciannya, proyek di akses Ambat–Tlanakan serta proyek di akses Branta Tinggi–Larangan Tokol.

Saat melakukan sidak proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan senilai Rp 800 juta, anggota dewan melihat sejumlah titik sudah rusak meski baru seumur jagung. Karena itu, legislatif meminta rekanan pelaksana proyek, yaitu CV Agra Abipraya, membongkar dan memperbaiki titik-titik yang rusak.


Ketua Komisi III DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, banyak hotmix yang retak dan ambles di akses Ambat–Tlanakan. Karena itu, pihaknya meminta rekanan pelaksana proyek dengan pagu anggaran Rp 1 miliar tersebut segera memperbaikinya. ”Karena sekarang masih tahap pemeliharaan, kami minta dibongkar,” pintanya.

Potilikus Partai Demokrat itu juga mendesak instansi terkait dan konsultan pengawas benar-benar melakukan pengawasan secara maksimal. Dengan demikian, perbaikan yang dilakukan rekanan pelaksana proyek sesuai spesifikasi. ”Preyek ini dibangun dengan dana pinjaman. Masak baru dibangun sudah rusak. Pemerintah dan masyarakat yang rugi,” tegasnya.

Baca Juga :  Pakai Aplikasi Mobile JKN Buatan BPJS Kesehatan, Pelayanan Jadi Lancar

Berdasar laporan yang diterima dari konsultan pengawas, rusaknya proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan disebabkan kurang maksimalnya kegiatan pemadatan. Sebab, sebelum pengerjaan, terdapat banyak lumpur yang seharusnya dikeruk. Namun kenyataanya, langsung dipasang cement treated base (CTB).

Khusus proyek akses Branta Tinggi–Larangan Tokol, Ismail belum bisa berbicara banyak. Sebab, uji laboratorium dari sampel hotmix yang diambil belum keluar. Ismail meminta jika nanti ada temuan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguan (BPK), rekanan pelaksana proyek harus melaksakan rekomendasinya.

Sementara itu, konsultan pengawas proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan Deddy Hariyanto membenarkan pemicu kerusakan karena kegiatan pemadatan kurang maksimal. Seharusnya, dilakukan pengerukan. Namun, rekanan pelaksana proyek malah tidak melakukan kegiatan pemadatan tersebut.

Deddy Hariyanto tidak menampik proses pengawasan yang dilakukan pihaknya tak maksimal. Dia berdalih, saat pengerjaan proyek akses Ambat–Tlanakan, pihaknya melakukan pengawasan di beberapa lokasi. Bukan hanya proyek tersebut. Akibatnya, proyek akses Ambat–Tlanakan tidak terpantau dengan baik.

Baca Juga :  Ingatkan Vaksinasi Masal Jangan Jadi Klaster Baru Covid-19

”Kami sudah melaporkan banyaknya pengerjaan yang rusak pada instansi terkait. Kami juga telah minta rekanan pelaksana proyek memperbaikinya. Dari awal sudah minta rekanan pelaksana proyek. Tetapi, rekanan pelaksana proyek belum memperbaiki hingga hari ini (kemarin, Red),” ungkapnya.

Di sisi lain, pejabat dan pelaksana teknis kegiatan (PPTK) proyek pemeliharaan jalan Ambat–Tlanakan Hendra Prayudi mengungkapkan, masa pemeliharaan proyek selama enam bulan. Kendati demikian, pihaknya minta perbaikan tidak menunggu hingga masa pemeliharaan habis. ”Kami ingin secepatnya diperbaiki,” tutur pria berbadan kekar tersebut.

Dikonfirmasi di tempat terpisah, perwakilan CV Agra Abipraya Miky Primajaya tidak memungkiri rusaknya pengerjaan karena kurang maksimalnya kegiatan pemadatan. Namun, dia membantah hal tersebut terjadi karena pengerjaan asal-asalan. ”Awalnya memang ada lumpur (di titik yang rusak, Red). Sudah kami kupas, tapi mungkin masih kurang,” imbuhnya.

Miky Primajaya berjanji akan memperbaiki kerusakan karena saat ini masih dalam masa pemeliharaan. Namun, dia belum menjadwal kapan perbaikan dilakukan. ”Masih menunggu skedul dari asphalt mixing plant (AMP) dulu,” pungkas kontraktor asal Kabupaten Sampang itu. (jup)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/