alexametrics
21.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Program Asuransi Sapi Sepi Peminat

PAMEKASAN – Program asuransi sapi yang dicanangkan pemerintah pusat tidak berjalan mulus. Di Pamekasan malah bisa disebut gagal. Indikasinya, peminat asuransi sapi sedikit. Padahal populasi sapi di Pamekasan cukup tinggi.

Berdasarkan data PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Surabaya, sapi Pamekasan yang diasuransikan hanya 10 ekor. Jumlah itu sangat tidak sebanding dengan jumlah populasi sapi yang tembus di angka 150 ribu ekor lebih.

Jumlah sapi yang diasuransikan itu menempati posisi terendah kedua setelah Bangkalan yang tidak ada satu pun sapi diasuransikan. Sementara di Sumenep mencapai 30 ekor sapi yang diasuransikan. Di Sampang menempati peringkat terbanyak pertama dengan jumlah peserta asuransi sapi 122 ekor.

Di masing-masing kabupaten, sapi yang diasuransi cenderung minim. Padahal, pemerintah pusat mensubsidi premi di atas 50 persen. Premi yang seharusnya dibayar peternak Rp 200 ribu per tahun hanya tinggal Rp 40 ribu. Pemerintah pusat mensubsidi Rp 160 ribu.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, program asuransi sapi sangat bagus. Keselamatan sapi milik peternak terjamin. Jika mati, ada ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada peternak.

Baca Juga :  Sapi Madura Mayoritas Sudah Kawin Silang

Dengan demikian, peternak tidak rugi meski sapinya mati. Tapi sayangnya, program ini tidak berjalan baik. Sangat sedikit peternak yang mengasuransikan sapinya. ”Program ini sangat bagus,” katanya Sabtu (16/9).

Menurut Harun, premi yang harus dibayar memungkinkan dipenuhi peternak. Setahun, hanya Rp 40 ribu yang dikeluarkan. Dengan modal premi itu, peternak bisa mendapat klaim Rp 10 juta jika sapinya mati.

Politikus PKS itu menilai, ada fungsi sosialisasi yang kurang maksimal. Peternak tidak mendapat info mengenai asuransi itu secara utuh. Akibatnya, pemilik sapi itu enggan ikut andil menyukseskan program yang dicanangkan pemerintah pusat itu.

Harun berharap, pemerintah aktif melakukan sosialisasi. Meski program tersebut kewenangan pemerintah pusat, minimal ada upaya dari pemkab untuk menyampaikan kepada masyarakat. ”Tanpa sosialisasi maksimal, program apa pun tidak akan berjalan optimal,” katanya.

Baca Juga :  Destinasi Wisata dan Arek Lancor Resmi Ditutup

Pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait upaya maksimalisasi asuransi sapi. Harapannya, program yang sangat baik itu bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan Bambang Prayogi mengatakan, pihaknya kerap melakukan sosialisasi kepada peternak mengenai asuransi sapi. Namun, respons dari peternak kurang maksimal.

Pemerintah tidak bisa mengintervensi masyarakat untuk ikut serta dalam program asuransi sapi. Jika peternak berminat, dipersilakan mendaftar. ”Kami hanya memfasilitasi peternak, tidak bisa mengintervensi,” katanya.

Mengenai kendala di lapangan, Bambang tidak bisa menyimpulkan secara pasti. Hanya, menurut pandangan dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan peternak minim mengasuransikan sapi.

Yakni, peternak kurang memiliki waktu untuk mengurus asuransi sapi. Sebab, mayoritas peternak sapi di Pamekasan adalah petani yang nyambi mengembala sapi. ”Petugas dari Jasindo hanya satu orang, jangkauannya seluruh Madura. Mungkin ini juga jadi kendala,” tandasnya.

- Advertisement -

PAMEKASAN – Program asuransi sapi yang dicanangkan pemerintah pusat tidak berjalan mulus. Di Pamekasan malah bisa disebut gagal. Indikasinya, peminat asuransi sapi sedikit. Padahal populasi sapi di Pamekasan cukup tinggi.

Berdasarkan data PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Surabaya, sapi Pamekasan yang diasuransikan hanya 10 ekor. Jumlah itu sangat tidak sebanding dengan jumlah populasi sapi yang tembus di angka 150 ribu ekor lebih.

Jumlah sapi yang diasuransikan itu menempati posisi terendah kedua setelah Bangkalan yang tidak ada satu pun sapi diasuransikan. Sementara di Sumenep mencapai 30 ekor sapi yang diasuransikan. Di Sampang menempati peringkat terbanyak pertama dengan jumlah peserta asuransi sapi 122 ekor.


Di masing-masing kabupaten, sapi yang diasuransi cenderung minim. Padahal, pemerintah pusat mensubsidi premi di atas 50 persen. Premi yang seharusnya dibayar peternak Rp 200 ribu per tahun hanya tinggal Rp 40 ribu. Pemerintah pusat mensubsidi Rp 160 ribu.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, program asuransi sapi sangat bagus. Keselamatan sapi milik peternak terjamin. Jika mati, ada ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada peternak.

Baca Juga :  Salah Satu Simpul Kehidupan Masyarakat Guyub

Dengan demikian, peternak tidak rugi meski sapinya mati. Tapi sayangnya, program ini tidak berjalan baik. Sangat sedikit peternak yang mengasuransikan sapinya. ”Program ini sangat bagus,” katanya Sabtu (16/9).

Menurut Harun, premi yang harus dibayar memungkinkan dipenuhi peternak. Setahun, hanya Rp 40 ribu yang dikeluarkan. Dengan modal premi itu, peternak bisa mendapat klaim Rp 10 juta jika sapinya mati.

Politikus PKS itu menilai, ada fungsi sosialisasi yang kurang maksimal. Peternak tidak mendapat info mengenai asuransi itu secara utuh. Akibatnya, pemilik sapi itu enggan ikut andil menyukseskan program yang dicanangkan pemerintah pusat itu.

Harun berharap, pemerintah aktif melakukan sosialisasi. Meski program tersebut kewenangan pemerintah pusat, minimal ada upaya dari pemkab untuk menyampaikan kepada masyarakat. ”Tanpa sosialisasi maksimal, program apa pun tidak akan berjalan optimal,” katanya.

Baca Juga :  Destinasi Wisata dan Arek Lancor Resmi Ditutup

Pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait upaya maksimalisasi asuransi sapi. Harapannya, program yang sangat baik itu bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan Bambang Prayogi mengatakan, pihaknya kerap melakukan sosialisasi kepada peternak mengenai asuransi sapi. Namun, respons dari peternak kurang maksimal.

Pemerintah tidak bisa mengintervensi masyarakat untuk ikut serta dalam program asuransi sapi. Jika peternak berminat, dipersilakan mendaftar. ”Kami hanya memfasilitasi peternak, tidak bisa mengintervensi,” katanya.

Mengenai kendala di lapangan, Bambang tidak bisa menyimpulkan secara pasti. Hanya, menurut pandangan dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan peternak minim mengasuransikan sapi.

Yakni, peternak kurang memiliki waktu untuk mengurus asuransi sapi. Sebab, mayoritas peternak sapi di Pamekasan adalah petani yang nyambi mengembala sapi. ”Petugas dari Jasindo hanya satu orang, jangkauannya seluruh Madura. Mungkin ini juga jadi kendala,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/