alexametrics
25.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Usaha Perajin Batik Pamekasan Menjaga Khas Daerah

Batik Pamekasan semakin berkembang. Beberapa istri menteri Kabinet Kerja memborong batik pedagang Pasar 17 Agustus, Kamis (14/2). Keesokan harinya, Jumat (15/2) dua motif batik Bumi Ratu Pamelingan mendapat hak cipta.

DUA motif batik milik perajin di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, sudah mendapatkan hak cipta. Yakni, motif batik junjung drajat kontemporer dan daun pacar cina. Itu setelah perajin mendapatkan surat pencatatan ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).

Abd. Rasyid B., pencipta motif batik daun pacar cina mengatakan, perkembangan motif batik di kalangan perajin cukup pesat. Jika satu perajin memiliki motif baru, bisa langsung ditiru oleh yang lain. Dengan begitu, jika tidak dilakukan hak paten, khawatir akan diklaim perajin lain.

Proses pengajuan hak cipta motif batik dilakukan sejak 30 April 2018. Dia mengajukan ke pemkab untuk mendapatkan hak cipta atas hasil kreativitasnya. Dia hanya diminta untuk melengkapi persyaratan administrasi. Selebihnya, pemkab yang memproses.

”Alhamdulillah, Jumat (15/2), hak paten motif daun pacar cina keluar. Jadi secara resmi motif daun pacar cina sudah resmi menjadi milik Pamekasan,” tuturnya kemarin (16/2).

Baca Juga :  Pilkades Serentak Sedot Rp 9 Miliar

Rasyid menyampaikan, motif yang dibuatnya tidak menghilangkan ciri khas dari batik Pamekasan. Meski motif baru, dia tidak menghilangkan ciri khas daerah. Hal itu bisa diketahui dari kombinasi corak warna.

Batik Pamekasan memiliki ciri khusus dalam segi warna. Warna khas batik Pamekasan biasanya terdiri atas merah, hijau, dan ungu. Sedangkan untuk warna hitam biasanya digunakan untuk warna dasar. ”Warna batik bervariasi sesuai keinginan masing-masing perajin. Kalaupun ada warna selain merah, hijau, dan ungu itu campuran. Kami tetap menggunakan warna khas agar kekhasan batik Pamekasan tidak hilang,” katanya.

Inisiatif motif batik daun pacar cina muncul dari dedaunan yang biasanya digunakan untuk hias tangan pengantin. Saat ini kebiasan itu mulai luntur karena pengantin sekarang lebih banyak menggunakan henna. Dia khawatir tradisi tersebut akan hilang.

”Saya mencoba mengabadikan ke dalam motif batik agar kita tetap mengingatnya. Kalau dulu saat kecil, semua pengantin pasti menggunakan daun pacar untuk menghias tangannya. Dulu daun pacar itu penting bagi orang Madura,” ungkap pria lulusan STAI Miftahul Ulum Pamekasan itu.

Baca Juga :  Jumlah Pasien Covid-19 Sampang Menanjak

Pembuatan motif daun pacar cina juga lebih sulit. Pewarnaannya melalui lima kali proses. Perwarna dasar dimulai dari warna muda, campuran, hingga menjadi warna sempurna.

Sementara Moh. Salam, pencipta motif junjung drajat komtemporer menambahkan, motif tersebut sudah lama diproduksi di kalangan perajin. Namun, sejak 2005 dia berkreasi memperbarui motif batik tanpa menghilangkan kekhasan dari junjung drajat yang asli.

”Hanya di bagian aksen-aksennya diperbaiki. Selain itu, dari segi pewarnaan lebih cerah daripada yang dulu. Biasanya dalam sebulan kita bisa memproduksi lebih dari 20 lembar kain,” terangnya.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam berkomitmen selama kepemimpinannya akan berupaya untuk meningkatkan produksi batik. Diantara bukti keseriusannyayakni mem-branding mobil dinaspemkab dengan batik khas Pamekasan.

”Nanti kalau ada peluang promo batik ke luar negeri, akan kami upayakan agar batik Pamekasan juga diikutkan. Kami yakin produk batik Pamekasan tidak kalah saing dengan produksi di daerah lain,” katanya. (bil)

Batik Pamekasan semakin berkembang. Beberapa istri menteri Kabinet Kerja memborong batik pedagang Pasar 17 Agustus, Kamis (14/2). Keesokan harinya, Jumat (15/2) dua motif batik Bumi Ratu Pamelingan mendapat hak cipta.

DUA motif batik milik perajin di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, sudah mendapatkan hak cipta. Yakni, motif batik junjung drajat kontemporer dan daun pacar cina. Itu setelah perajin mendapatkan surat pencatatan ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).

Abd. Rasyid B., pencipta motif batik daun pacar cina mengatakan, perkembangan motif batik di kalangan perajin cukup pesat. Jika satu perajin memiliki motif baru, bisa langsung ditiru oleh yang lain. Dengan begitu, jika tidak dilakukan hak paten, khawatir akan diklaim perajin lain.


Proses pengajuan hak cipta motif batik dilakukan sejak 30 April 2018. Dia mengajukan ke pemkab untuk mendapatkan hak cipta atas hasil kreativitasnya. Dia hanya diminta untuk melengkapi persyaratan administrasi. Selebihnya, pemkab yang memproses.

”Alhamdulillah, Jumat (15/2), hak paten motif daun pacar cina keluar. Jadi secara resmi motif daun pacar cina sudah resmi menjadi milik Pamekasan,” tuturnya kemarin (16/2).

Baca Juga :  BNI Pamekasan Kembali Wujudkan Kepedulian di Bulan Ramadan

Rasyid menyampaikan, motif yang dibuatnya tidak menghilangkan ciri khas dari batik Pamekasan. Meski motif baru, dia tidak menghilangkan ciri khas daerah. Hal itu bisa diketahui dari kombinasi corak warna.

Batik Pamekasan memiliki ciri khusus dalam segi warna. Warna khas batik Pamekasan biasanya terdiri atas merah, hijau, dan ungu. Sedangkan untuk warna hitam biasanya digunakan untuk warna dasar. ”Warna batik bervariasi sesuai keinginan masing-masing perajin. Kalaupun ada warna selain merah, hijau, dan ungu itu campuran. Kami tetap menggunakan warna khas agar kekhasan batik Pamekasan tidak hilang,” katanya.

Inisiatif motif batik daun pacar cina muncul dari dedaunan yang biasanya digunakan untuk hias tangan pengantin. Saat ini kebiasan itu mulai luntur karena pengantin sekarang lebih banyak menggunakan henna. Dia khawatir tradisi tersebut akan hilang.

”Saya mencoba mengabadikan ke dalam motif batik agar kita tetap mengingatnya. Kalau dulu saat kecil, semua pengantin pasti menggunakan daun pacar untuk menghias tangannya. Dulu daun pacar itu penting bagi orang Madura,” ungkap pria lulusan STAI Miftahul Ulum Pamekasan itu.

Baca Juga :  Tuntut SK dan Gaji Setara UMK

Pembuatan motif daun pacar cina juga lebih sulit. Pewarnaannya melalui lima kali proses. Perwarna dasar dimulai dari warna muda, campuran, hingga menjadi warna sempurna.

Sementara Moh. Salam, pencipta motif junjung drajat komtemporer menambahkan, motif tersebut sudah lama diproduksi di kalangan perajin. Namun, sejak 2005 dia berkreasi memperbarui motif batik tanpa menghilangkan kekhasan dari junjung drajat yang asli.

”Hanya di bagian aksen-aksennya diperbaiki. Selain itu, dari segi pewarnaan lebih cerah daripada yang dulu. Biasanya dalam sebulan kita bisa memproduksi lebih dari 20 lembar kain,” terangnya.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam berkomitmen selama kepemimpinannya akan berupaya untuk meningkatkan produksi batik. Diantara bukti keseriusannyayakni mem-branding mobil dinaspemkab dengan batik khas Pamekasan.

”Nanti kalau ada peluang promo batik ke luar negeri, akan kami upayakan agar batik Pamekasan juga diikutkan. Kami yakin produk batik Pamekasan tidak kalah saing dengan produksi di daerah lain,” katanya. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/