alexametrics
23.1 C
Madura
Monday, July 4, 2022

Fasilitas Kampung Batik Belum Lengkap

SEMENTARA itu, Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto belum bisa memastikan gedung sentra batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, akan dibuka. Pihaknya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan aparat desa. ”Kami merencanakan dalam tahun ini,” terangnya. 

Bambang beralasan, fasilitas gedung belum lengkap. Pemkab tahun ini kembali menganggarkan pembangunan tahap ketiga untuk fasilitas pendukung. Anggarannya Rp 2,3 miliar. ”Akan dimanfaatkan untuk pembuatan sumur bor, air bersih, pagar, IPAL, dan mebelnya,” bebernya.

Sesuai rencana, fasilitas tersebut akan difungsikan sebagai pusat pendidikan batik, wisata batik, dan promosi batik. Jika ada event tertentu juga bisa letakkan di lokasi tersebut. ”Sesuai masterplan akan dijadikan sebagai Kampung Batik,” terangnya.

Baca Juga :  Gerakkan Pemuda Kenalkan Potensi Daerah

Penentuan perajin batik yang akan menempati gedung tersebut dipasrahkan ke pemerintah desa. Sebab, gedung tersebut nanti dikelola BUMDes. ”Kita hanya men-support dan memfasilitasi,” terangnya.

Ahmadi, 40, seorang perajin batik berharap gedung tersebut bisa segera dimanfaatkan. Dengan demikian, fasilitas itu bisa dirasakan perajin. ”Saya berharap fasilitas ini bisa segera dimanfaatkan dan mampu mendongkrak penjualan batik,’ kata pria asal Proppo tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Pamekasan Apik berharap fasilitas tersebut tidak menjadi polemik bagi para perajin. Perajin yang akan menempati gedung tersebut harus didata dengan baik. ”Jumlah perajin banyak, pendataannya harus dilakukan dengan baik dan berdasarkan musyawarah. Jangan sampai justru hanya dimonopoli perajin tertentu,” harapnya.

Baca Juga :  Sumenep Batik on The Sea 2018 Meriah

SEMENTARA itu, Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto belum bisa memastikan gedung sentra batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, akan dibuka. Pihaknya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan aparat desa. ”Kami merencanakan dalam tahun ini,” terangnya. 

Bambang beralasan, fasilitas gedung belum lengkap. Pemkab tahun ini kembali menganggarkan pembangunan tahap ketiga untuk fasilitas pendukung. Anggarannya Rp 2,3 miliar. ”Akan dimanfaatkan untuk pembuatan sumur bor, air bersih, pagar, IPAL, dan mebelnya,” bebernya.

Sesuai rencana, fasilitas tersebut akan difungsikan sebagai pusat pendidikan batik, wisata batik, dan promosi batik. Jika ada event tertentu juga bisa letakkan di lokasi tersebut. ”Sesuai masterplan akan dijadikan sebagai Kampung Batik,” terangnya.

Baca Juga :  Bayi tanpa Anus Menunggu Tangan Dermawan

Penentuan perajin batik yang akan menempati gedung tersebut dipasrahkan ke pemerintah desa. Sebab, gedung tersebut nanti dikelola BUMDes. ”Kita hanya men-support dan memfasilitasi,” terangnya.

Ahmadi, 40, seorang perajin batik berharap gedung tersebut bisa segera dimanfaatkan. Dengan demikian, fasilitas itu bisa dirasakan perajin. ”Saya berharap fasilitas ini bisa segera dimanfaatkan dan mampu mendongkrak penjualan batik,’ kata pria asal Proppo tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Pamekasan Apik berharap fasilitas tersebut tidak menjadi polemik bagi para perajin. Perajin yang akan menempati gedung tersebut harus didata dengan baik. ”Jumlah perajin banyak, pendataannya harus dilakukan dengan baik dan berdasarkan musyawarah. Jangan sampai justru hanya dimonopoli perajin tertentu,” harapnya.

Baca Juga :  Tumpukan Material Ganggu Pengguna Jalan
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/