alexametrics
20.3 C
Madura
Tuesday, June 28, 2022

Kebun Bunga Matahari Tarik Wisatawan

PAMEKASAN – Saputra tidak pernah menyangka lahan pertaniannya akan dikunjungi banyak orang. Kedatangan orang yang didominasi para remaja itu terjadi sejak bunga matahari mulai bermekaran. Padahal niat awal hanya untuk mendapatkan penghasilan dari kuaci ketika panen.

Penanaman bunga matahari oleh warga di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu bersamaan dengan animo masyarakat terhadap wisata yang tinggi. Terutama di kalangan pemuda. Mereka hilir mudik datang setiap hari bersamaan dengan merekahnya bunga yang berwarna kuning itu.

Warna bunga yang alami memperindah suasana area persawahan. Tak lama kemudian, banyak masyarakat yang mengunggah di media sosial. Foto-foto yang tersebar di medsos direspons baik oleh warganet. Akhirnya, banyak yang berkunjung melihat langsung keindahan bunga matahari.

Bunga matahari di lahan sekitar 20×50 meter itu sengaja ditanam Saputra. Pria 60 tahun itu tidak menyangka lahannya akan menjadi tontonan banyak orang. Apalagi yang berkunjung tiap hari terus bertambah. Namun, pengunjung masih didominasi remaja.

Awalnya dia tidak ada maksud untuk menanam bibit bunga matahari. Apalagi menjadikannya sebagai tempat wisata. Sebab, pada saat ditawari bibit tersebut lahannya masih ditanami pohon pisang. ”Dulu waktu penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari dinas pertanian datang ke sini, saya tidak terlalu merespons. Karena lahannya masih ditanami pohon pisang,” katanya Sabtu (15/9).

Baca Juga :  Pemkab Matangkan Konsep Wisata Terintegrasi

Beberapa minggu kemudian, pohon pisang miliknya terserang hama. Satu per satu pohon mulai mati. Akhirnya Saputra memutuskan untuk menebang semua pohon pisang teresbut. ”Mau bagaimana lagi, hampir semua pohon terserang hama,” terangnya.

Sejak sat itu, dia mulai berpikir untuk mencoba menanam bibit bunga matahari. Selama dua bulan dia merawat bersama rekannya. Tidak ada sangkaan akan menjadi spot wisata. ”Proses penanamannya juga tidak ribet. Tinggal menanam bibit, kemudian dijaga perawatannya. Sekitar dua bulan bunganya baru mekar,” ungkapnya.

Pria yang sudah menjalani ibadah umrah tersebut mengaku sering ditawarkan proyek penanaman bibit-bibit baru dari pemerintah. Saputra berniat untuk memperluas kebun bunga matahari miliknya. Selain itu, dia akan menambah wahana-wahana baru untuk menarik minat pengunjung. ”Rencananya, akan diperluas dan ditambah kolam renang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemkab Bahas Pembelian Tembakau

Azhar Arifin, 20, pengunjung asal Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep, mengatakan, kebun bunga matahari tersebut termasuk salah satu spot wisata yang langka. Dia berharap pemerintah harus berperan dalam proses pengembangan. ”Sangat cocok untuk anak muda. Warna kuning yang khas juga menjadi daya tarik kaum milenial. Meskipun orang tua juga bisa berswafoto di area kebun,” katanya.

”Ini sangat berpotensi menghidupkan ekonomi masyarakat  sekitar. Spot-spot bunga juga perlu ditambah agar bisa lebih menarik wisatawan,” sarannya.

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengaku senang jika masyarakat ingin bekerja sama untuk pengembangan tempat wisata. Nanti bisa langsung dengan disparbud atau melalui badan usaha milik desa (BUMDes). ”Kami menyambut baik jika pemilik lahan mau berkoordinasi dengan pemerintah,” katanya.

Menurut dia, perlu tambahan wahana baru yang belum dibangun di tempat wisata lain. Tujuannya, agar pengunjung tidak bosan. ”Harus ada ciri khas di tempat wisata itu.” 

PAMEKASAN – Saputra tidak pernah menyangka lahan pertaniannya akan dikunjungi banyak orang. Kedatangan orang yang didominasi para remaja itu terjadi sejak bunga matahari mulai bermekaran. Padahal niat awal hanya untuk mendapatkan penghasilan dari kuaci ketika panen.

Penanaman bunga matahari oleh warga di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu bersamaan dengan animo masyarakat terhadap wisata yang tinggi. Terutama di kalangan pemuda. Mereka hilir mudik datang setiap hari bersamaan dengan merekahnya bunga yang berwarna kuning itu.

Warna bunga yang alami memperindah suasana area persawahan. Tak lama kemudian, banyak masyarakat yang mengunggah di media sosial. Foto-foto yang tersebar di medsos direspons baik oleh warganet. Akhirnya, banyak yang berkunjung melihat langsung keindahan bunga matahari.


Bunga matahari di lahan sekitar 20×50 meter itu sengaja ditanam Saputra. Pria 60 tahun itu tidak menyangka lahannya akan menjadi tontonan banyak orang. Apalagi yang berkunjung tiap hari terus bertambah. Namun, pengunjung masih didominasi remaja.

Awalnya dia tidak ada maksud untuk menanam bibit bunga matahari. Apalagi menjadikannya sebagai tempat wisata. Sebab, pada saat ditawari bibit tersebut lahannya masih ditanami pohon pisang. ”Dulu waktu penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari dinas pertanian datang ke sini, saya tidak terlalu merespons. Karena lahannya masih ditanami pohon pisang,” katanya Sabtu (15/9).

Baca Juga :  Minta Maksimalkan Pengamanan Lokasi Wisata

Beberapa minggu kemudian, pohon pisang miliknya terserang hama. Satu per satu pohon mulai mati. Akhirnya Saputra memutuskan untuk menebang semua pohon pisang teresbut. ”Mau bagaimana lagi, hampir semua pohon terserang hama,” terangnya.

Sejak sat itu, dia mulai berpikir untuk mencoba menanam bibit bunga matahari. Selama dua bulan dia merawat bersama rekannya. Tidak ada sangkaan akan menjadi spot wisata. ”Proses penanamannya juga tidak ribet. Tinggal menanam bibit, kemudian dijaga perawatannya. Sekitar dua bulan bunganya baru mekar,” ungkapnya.

Pria yang sudah menjalani ibadah umrah tersebut mengaku sering ditawarkan proyek penanaman bibit-bibit baru dari pemerintah. Saputra berniat untuk memperluas kebun bunga matahari miliknya. Selain itu, dia akan menambah wahana-wahana baru untuk menarik minat pengunjung. ”Rencananya, akan diperluas dan ditambah kolam renang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemkab Bahas Pembelian Tembakau

Azhar Arifin, 20, pengunjung asal Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep, mengatakan, kebun bunga matahari tersebut termasuk salah satu spot wisata yang langka. Dia berharap pemerintah harus berperan dalam proses pengembangan. ”Sangat cocok untuk anak muda. Warna kuning yang khas juga menjadi daya tarik kaum milenial. Meskipun orang tua juga bisa berswafoto di area kebun,” katanya.

”Ini sangat berpotensi menghidupkan ekonomi masyarakat  sekitar. Spot-spot bunga juga perlu ditambah agar bisa lebih menarik wisatawan,” sarannya.

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengaku senang jika masyarakat ingin bekerja sama untuk pengembangan tempat wisata. Nanti bisa langsung dengan disparbud atau melalui badan usaha milik desa (BUMDes). ”Kami menyambut baik jika pemilik lahan mau berkoordinasi dengan pemerintah,” katanya.

Menurut dia, perlu tambahan wahana baru yang belum dibangun di tempat wisata lain. Tujuannya, agar pengunjung tidak bosan. ”Harus ada ciri khas di tempat wisata itu.” 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/