alexametrics
20.8 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

Investasi Sapi Sulit Tertagih, Pemkab Malah Usulkan Pemutihan

PAMEKASAN – Upaya pemerintah meningkatkan geliat budi daya sapi dengan memberi investasi kepada masyarakat gagal total. Dana ratusan juta yang digelontorkan pada 2006–2008 terancam hangus.

Berdasarkan data yang tertuang dalam perda APBD Pamekasan 2017, dana investasi sapi mencapai Rp 497.400.000. Dana tersebut digunakan untuk empat jenis investasi (selengkapnya lihat grafis).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan Bambang Prayogi mengatakan, investasi sapi macet. Akibatnya, pemerintah memutuskan untuk tidak meneruskan investasi tersebut.

Sekarang pemerintah fokus pada penagihan modal yang digelontorkan. Hanya, diakui penagihan itu belum berjalan maksimal. Hal itu disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, penerima modal banyak yang meninggal dunia.

Baca Juga :  Perubahan Iklim, Petani Butuh Pendampingan

Penagihan tidak bisa dilanjutkan bagi penerima modal yang meninggal. Pemerintah hanya bisa membuat berita acara mengenai penerima investasi yang meninggal. ”Investasi itu macet dan tidak diteruskan,” katanya Selasa (14/11).

Dengan demikian, agar tidak terbentur dengan hukum, DKPP berencana mengusulkan pemutihan. Modal investasi itu rencana akan dihapus dari daftar aset pemerintah. ”Usulan pemutihan masih dalam proses,” katanya.

Apa penyebab investasi sapi gagal? Secara detail, Bambang tidak menjelaskannya. Alasannya, pada tahun investasi itu digulirkan, Bambang belum menjabat kepala dinas peternakan.

Namun, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan selama ini, salah satu pemicu kegagalan investasi tersebut karena penerimanya peternak. Rata-rata, peternak belum berpengalaman mengurus sapi yang diinvestasikan itu.

Baca Juga :  9 Kecamatan Jadi Sarang TKI Ilegal

Akibatnya, perawatan sapi sulit dilakukan. Seharusnya, modal tersebut diberikan kepada pengusaha sapi yang berpengalaman. ”Hasil evaluasi sementara kami seperti itu,” kata Bambang.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno sangat menyayangkan gagalnya investasi tersebut. Eksekutif harus mengevaluasi program itu untuk memperbaiki program yang akan dijalankan.

Harun menyampaikan, modal investasi yang digelontorkan tidak sedikit. Nilainya hampir setengah miliar. Seharusnya, dana tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kemudian, pada akhirnya menyumbang terhadap pendapatan asli daerah (PAD). ”Harus ada evaluasi dan perbaikan. Perencanaan program harus matang agar sesuai dengan harapan,” tandas politikus muda PKS itu.

PAMEKASAN – Upaya pemerintah meningkatkan geliat budi daya sapi dengan memberi investasi kepada masyarakat gagal total. Dana ratusan juta yang digelontorkan pada 2006–2008 terancam hangus.

Berdasarkan data yang tertuang dalam perda APBD Pamekasan 2017, dana investasi sapi mencapai Rp 497.400.000. Dana tersebut digunakan untuk empat jenis investasi (selengkapnya lihat grafis).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan Bambang Prayogi mengatakan, investasi sapi macet. Akibatnya, pemerintah memutuskan untuk tidak meneruskan investasi tersebut.


Sekarang pemerintah fokus pada penagihan modal yang digelontorkan. Hanya, diakui penagihan itu belum berjalan maksimal. Hal itu disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, penerima modal banyak yang meninggal dunia.

Baca Juga :  Pengawasan Ketat Antisipasi Tembakau Jawa

Penagihan tidak bisa dilanjutkan bagi penerima modal yang meninggal. Pemerintah hanya bisa membuat berita acara mengenai penerima investasi yang meninggal. ”Investasi itu macet dan tidak diteruskan,” katanya Selasa (14/11).

Dengan demikian, agar tidak terbentur dengan hukum, DKPP berencana mengusulkan pemutihan. Modal investasi itu rencana akan dihapus dari daftar aset pemerintah. ”Usulan pemutihan masih dalam proses,” katanya.

Apa penyebab investasi sapi gagal? Secara detail, Bambang tidak menjelaskannya. Alasannya, pada tahun investasi itu digulirkan, Bambang belum menjabat kepala dinas peternakan.

- Advertisement -

Namun, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan selama ini, salah satu pemicu kegagalan investasi tersebut karena penerimanya peternak. Rata-rata, peternak belum berpengalaman mengurus sapi yang diinvestasikan itu.

Baca Juga :  Jadwal Kelulusan SMK Dipastikan Serempak

Akibatnya, perawatan sapi sulit dilakukan. Seharusnya, modal tersebut diberikan kepada pengusaha sapi yang berpengalaman. ”Hasil evaluasi sementara kami seperti itu,” kata Bambang.

Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Harun Suyitno sangat menyayangkan gagalnya investasi tersebut. Eksekutif harus mengevaluasi program itu untuk memperbaiki program yang akan dijalankan.

Harun menyampaikan, modal investasi yang digelontorkan tidak sedikit. Nilainya hampir setengah miliar. Seharusnya, dana tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kemudian, pada akhirnya menyumbang terhadap pendapatan asli daerah (PAD). ”Harus ada evaluasi dan perbaikan. Perencanaan program harus matang agar sesuai dengan harapan,” tandas politikus muda PKS itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/