alexametrics
19.4 C
Madura
Thursday, August 18, 2022

Perahu Hancur, Nelayan Masuk RS

PAMEKASAN – Nasib nahas dialami Asad, 70, warga Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Ketika hendak berangkat berlayar, perahunya dihantam ombak hingga terbawa ke tepi dermaga sekitar pukul 03.30 Sabtu (13/10).

Akibatnya, perahu hancur tak tersisa. Sedangkan Asad mengalami luka di bagian betis kiri. Pasca kejadian, banyak warga yang berdatangan melihat kondisi perahu yang sudah tinggal puing. Sedangkan Asad langsung dibawa ke Puskesmas Tlanakan.

Peristiwa itu bermula ketika Asad sudah berada di atas perahu. Pada saat itu mesin sulit dihidupkan. Sedangkan ombak semakin besar menggoyang perahu. Perahu kemudian terbawa ombak dan menghantam dinding dermaga.

Kayu perahu hancur berserakan. Sedangkan Asad juga terbawa arus. Warga yang melihat kejadian tersebut langsung menolongnya. ”Untungnya, pada saat itu Asad berangkat sendirian. Jadi, hanya memakan satu korban. Tapi perahunya tidak bisa digunakan lagi karena hancur,” kata Moh. Ikram, 65, warga setempat.

Baca Juga :  Diduga Sering Cium Sekretaris, Pak Lurah Dilaporkan ke Polisi

Adik sepupu Asad itu menyampaikan, pada saat kejadian kondisi gelombang cukup besar. Begitu juga setelah kejadian tersebut. Bahkan, ombak semakin mengkhawatirkan.

Melihat kondisi ombak yang semakin besar, banyak nelayan yang tidak berangkat melaut. Mereka memilih menunggu hingga ombak normal kembali. ”Biasanya, sebagian nelayan sudah berangkat menangkap ikan,” ujarnya.

Pada hari-hari sebelumnya, lanjut Ikram, kondisi ombak tidak pernah sebesar itu. Biasanya ketika matahari sudah terbit, ombak sudah normal. ”Semakin lama ombaknya semakin besar. Nelayan banyak yang tak melaut karena khawatir ombak semakin membesar,” tutur Ikram.

Dia menjelaskan, perahu yang ditumpangi Asad tidak terlalu besar. Diperkirakan hanya 9×2,25 meter. Biasanya perahu itu digunakan untuk menangkap cumicumi. ”Biasanya di laut itu tidak lama. Antara 3–5 jam sudah kembali ke darat,” jelasnya.

Baca Juga :  Anggaran Pemkab untuk P4GN Pamekasan, Setahun Hanya Rp 200 Juta

Heny Setyawati, dokter Puskesmas Tlanakan, mengatakan, pihaknya langsung menangani luka Asad yang terus meneteskan darah. Namun, karena terkendala fasilitas yang kurang memadai, pasien dirujuk ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo. ”Penanganan pertama sudah kami lakukan,” tukasnya.

PAMEKASAN – Nasib nahas dialami Asad, 70, warga Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Ketika hendak berangkat berlayar, perahunya dihantam ombak hingga terbawa ke tepi dermaga sekitar pukul 03.30 Sabtu (13/10).

Akibatnya, perahu hancur tak tersisa. Sedangkan Asad mengalami luka di bagian betis kiri. Pasca kejadian, banyak warga yang berdatangan melihat kondisi perahu yang sudah tinggal puing. Sedangkan Asad langsung dibawa ke Puskesmas Tlanakan.

Peristiwa itu bermula ketika Asad sudah berada di atas perahu. Pada saat itu mesin sulit dihidupkan. Sedangkan ombak semakin besar menggoyang perahu. Perahu kemudian terbawa ombak dan menghantam dinding dermaga.


Kayu perahu hancur berserakan. Sedangkan Asad juga terbawa arus. Warga yang melihat kejadian tersebut langsung menolongnya. ”Untungnya, pada saat itu Asad berangkat sendirian. Jadi, hanya memakan satu korban. Tapi perahunya tidak bisa digunakan lagi karena hancur,” kata Moh. Ikram, 65, warga setempat.

Baca Juga :  Genjot Rencana Pembubaran PT AUMM

Adik sepupu Asad itu menyampaikan, pada saat kejadian kondisi gelombang cukup besar. Begitu juga setelah kejadian tersebut. Bahkan, ombak semakin mengkhawatirkan.

Melihat kondisi ombak yang semakin besar, banyak nelayan yang tidak berangkat melaut. Mereka memilih menunggu hingga ombak normal kembali. ”Biasanya, sebagian nelayan sudah berangkat menangkap ikan,” ujarnya.

Pada hari-hari sebelumnya, lanjut Ikram, kondisi ombak tidak pernah sebesar itu. Biasanya ketika matahari sudah terbit, ombak sudah normal. ”Semakin lama ombaknya semakin besar. Nelayan banyak yang tak melaut karena khawatir ombak semakin membesar,” tutur Ikram.

- Advertisement -

Dia menjelaskan, perahu yang ditumpangi Asad tidak terlalu besar. Diperkirakan hanya 9×2,25 meter. Biasanya perahu itu digunakan untuk menangkap cumicumi. ”Biasanya di laut itu tidak lama. Antara 3–5 jam sudah kembali ke darat,” jelasnya.

Baca Juga :  Pengawasan Sapi Betina Lemah

Heny Setyawati, dokter Puskesmas Tlanakan, mengatakan, pihaknya langsung menangani luka Asad yang terus meneteskan darah. Namun, karena terkendala fasilitas yang kurang memadai, pasien dirujuk ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo. ”Penanganan pertama sudah kami lakukan,” tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/