alexametrics
20.8 C
Madura
Wednesday, August 17, 2022

Tarif Rp 250 Ribu Sekali Main

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Seorang perempuan diduga pekerja seks komersial (PSK) terjaring razia Satpol PP dan Damkar Pamekasan. Dia diangkut petugas dari warung kopi (warkop) di Jalan Dirgahayu sekitar pukul 21.30 Selasa (12/7).

Malam itu, perempuan berinisial S usia 22 tahun asal Kecamatan Pademawu tersebut duduk di warkop. Kemudian, satpol PP menghampiri untuk menanyakan identitas. Ternyata tidak membawa kartu tanda penduduk (KTP) dengan alasan tertinggal di rumah. ”Orang ini baru, sebelumnya tidak pernah kami jumpai,” ungkap Koordinator Lapangan Operasi Satpol PP dan Damkar Pamekasan Ach. Permady kemarin (13/7).

S kemudian dibawa ke kantor satpol PP dan damkar. S bekerja sebagai pelayan di warkop baru dua minggu. Pada saat penangkapan, dia tidak didapati sedang melakukan pelanggaran asusila. Dia diamankan karena tidak membawa kartu identitas.

Baca Juga :  PKL Melawan, Penertiban Gagal

”Dari hasil interogasi yang kami lakukan, dia mengaku bahwa dirinya adalah PSK,” terangnya. Jika pada kemudian hari S masih bekerja sebagai PSK, satpol PP dan damkar akan menyerahkan kepada dinas sosial (dinsos). ”Dia diminta menandatangani surat pernyataan. Kemudian kami lepas kembali,” tambah Permady.

Sementara pemilik warkop tidak dipanggil. Sebab, tempat itu tidak terbukti menjadi lokasi tindakan asusila. ”Pengakuan pemilik warung hanya sekadar mempekerjakan,” katanya.

Sebenarnya S sudah memiliki suami. Saat ini sedang proses perceraian. S mengaku sering dijadikan pelampiasan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). ”Sejak pisah ranjang dengan suaminya, dia bekerja sebagai PSK untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya.

Kasi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol PP dan Damkar Pamekasan Mohammad Hasanurrahman mengungkapkan, penangkapan S didasari informasi. Selama dua minggu terakhir, S mengaku sudah berhenti melayani lelaki hidung belang. Saat ini fokus mengurus persyaratan untuk merantau ke Singapura. ”Biasanya dia melayani lelaki hidung belang pada siang hari dengan tarif Rp 250 ribu untuk sekali main,” ucap Ainur.

Baca Juga :  Seragam Linmas Telan Rp 1,1 M

Ainur ini menegaskan, S tidak diberi sanksi karena tidak tertangkap sedang melakukan aktivitas asusila. Pemberian sanksi hanya bisa diberikan jika terbukti sedang melakukan tindakan asusila. ”Jadi cukup kami lakukan pembinaan saja,” pungkasnya. (bus/luq)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Seorang perempuan diduga pekerja seks komersial (PSK) terjaring razia Satpol PP dan Damkar Pamekasan. Dia diangkut petugas dari warung kopi (warkop) di Jalan Dirgahayu sekitar pukul 21.30 Selasa (12/7).

Malam itu, perempuan berinisial S usia 22 tahun asal Kecamatan Pademawu tersebut duduk di warkop. Kemudian, satpol PP menghampiri untuk menanyakan identitas. Ternyata tidak membawa kartu tanda penduduk (KTP) dengan alasan tertinggal di rumah. ”Orang ini baru, sebelumnya tidak pernah kami jumpai,” ungkap Koordinator Lapangan Operasi Satpol PP dan Damkar Pamekasan Ach. Permady kemarin (13/7).

S kemudian dibawa ke kantor satpol PP dan damkar. S bekerja sebagai pelayan di warkop baru dua minggu. Pada saat penangkapan, dia tidak didapati sedang melakukan pelanggaran asusila. Dia diamankan karena tidak membawa kartu identitas.

Baca Juga :  PGRI Bedah Materi Standar Kompetesi Lulusan

”Dari hasil interogasi yang kami lakukan, dia mengaku bahwa dirinya adalah PSK,” terangnya. Jika pada kemudian hari S masih bekerja sebagai PSK, satpol PP dan damkar akan menyerahkan kepada dinas sosial (dinsos). ”Dia diminta menandatangani surat pernyataan. Kemudian kami lepas kembali,” tambah Permady.

Sementara pemilik warkop tidak dipanggil. Sebab, tempat itu tidak terbukti menjadi lokasi tindakan asusila. ”Pengakuan pemilik warung hanya sekadar mempekerjakan,” katanya.

Sebenarnya S sudah memiliki suami. Saat ini sedang proses perceraian. S mengaku sering dijadikan pelampiasan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). ”Sejak pisah ranjang dengan suaminya, dia bekerja sebagai PSK untuk memenuhi kebutuhan hidup,” tuturnya.

Kasi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol PP dan Damkar Pamekasan Mohammad Hasanurrahman mengungkapkan, penangkapan S didasari informasi. Selama dua minggu terakhir, S mengaku sudah berhenti melayani lelaki hidung belang. Saat ini fokus mengurus persyaratan untuk merantau ke Singapura. ”Biasanya dia melayani lelaki hidung belang pada siang hari dengan tarif Rp 250 ribu untuk sekali main,” ucap Ainur.

Baca Juga :  Utamakan Pendekatan Persuasif
- Advertisement -

Ainur ini menegaskan, S tidak diberi sanksi karena tidak tertangkap sedang melakukan aktivitas asusila. Pemberian sanksi hanya bisa diberikan jika terbukti sedang melakukan tindakan asusila. ”Jadi cukup kami lakukan pembinaan saja,” pungkasnya. (bus/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/