alexametrics
24.4 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Ini Rahasia Reza Aditya Afriansyah Raih Medali Perak OSN 2017

PAMEKASAN – Usaha dan doa menjadi senjata. Lingkungan keluarga juga mendorong keberhasilan seorang anak. Seperti kesuksesan Reza Aditya Afriansyah ini.

Ratusan bunga melati melingkar di leher Reza Aditya Afriansyah. Senyum manis dan tingkah laku sopan yang ditunjukkan siswa kelas XI itu. Semua mata tertuju pada siswa kelahiran Sumenep, 27 April 2000 itu.

Dia bukan artis. Dia siswa lebih dari sekadar biasa. Dia berhasil membawa nama harum Pamekasan di tingkat nasional.

Reza berhasil menyabet medali perak dalam ajang bergengsi dunia pendidikan. Yakni, Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 yang diselenggarakan di Pekanbaru, Riau pada 2–8 Juli lalu.

Sorak-sorai terdengar saat pembawa acara halalbihalal Disdik Provinsi Jatim Cabang Pamekasan memanggil Reza naik ke panggung. Dia bersama teman lainnya diberi waktu khusus untuk bertatap muka langsung dengan Bupati Achmad Syafii.

Tatap muka itu bukan sekadar untuk bertegur sapa. Tapi, orang nomor satu di Kota Gerbang Salam itu memberi apresiasi dan mengucapkan selamat secara langsung kepada para generasi penerus bangsa tersebut.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Reza mengaku tidak menyangka bakal meraih medali. Target awal yang ada di benak siswa asal Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, Sumenep, itu bukan juara.

Baca Juga :  Banjir Rob Ancam Pesisir Pantai Jumiang

Tapi, dia hanya ingin menjadi bagian dari peserta olimpiade bergengsi yang tahapannya sangat panjang itu. Apalagi, Reza memiliki pengalaman buruk. Tahun lalu, dia gagal mewakili Jatim di OSN. Perjuangannya kandas hanya di tingkat provinsi.

Namun, keinginan dangkal itu berubah menjadi dalam setelah dia diberi motivasi oleh orang tuanya. Teman-teman sekolah serta dorongan motivasi dari sejumlah guru mengalir begitu deras.

Berawal dari dukungan itu, Reza bertekad bisa meraih juara. Intensitas belajar ditingkatkan. Nyaris tidak ada waktu lain selain membaca dan belajar. Kebetulan, sejak SMP, siswa berbadan tinggi itu memang sangat menyukai biologi.

Selain belajar, setiap waktu dia selalu berdoa memohon keterbukaan hati dan kemudahan jalan. Kedua orang tuanya turut serta memohon rida Ilahi. ”Orang tua selalu mendukung saya. Alhamdulillah saya juara,” katanya.

Reza lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya guru. Ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Dia dua bersaudara. Tapi, semangat belajar tidak pernah luluh akibat kesederhanaan keluarganya itu.

Baca Juga :  Bantuan Korban Bencana Berbasis Data

Kondisi tersebut justru selalu menyulut semangat Reza belajar. Seperti ada yang menggerogoti hasratnya untuk selalu belajar dan belajar. ”Saya yakin, jika belajar sungguh-sungguh, kita pasti bisa,” katanya.

Dia berharap, prestasi yang dipetik itu tidak membuatnya sombong atau tinggi hati. Tapi, prestasi itu menjadi pecut semangat untuk terus belajar dan meraih prestasi. ”Semoga motivasi untuk terus belajar terus ada dalam diri saya,” ucap siswa SMAN 1 Pamekasan itu.

Mengenai persiapan olimpiade internasional, Reza mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Persiapan yang dilakukan hanya belajar. Belajar dengan giat. Berdoa dan meminta rida orang tua, lalu tawakal.

Bupati Achmad Syafii mengapresiasi prestasi yang ditorehkan Reza. Dengan prestasi itu, nama Pamekasan di bidang pendidikan semakin harum. Dia berharap, selanjutnya banyak siswa yang menapaki jejak Reza.

”Semoga regenerasi selalu ada. Kami atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan mengapresiasi prestasi yang diraih di tingkat nasional,” tandasnya.

PAMEKASAN – Usaha dan doa menjadi senjata. Lingkungan keluarga juga mendorong keberhasilan seorang anak. Seperti kesuksesan Reza Aditya Afriansyah ini.

Ratusan bunga melati melingkar di leher Reza Aditya Afriansyah. Senyum manis dan tingkah laku sopan yang ditunjukkan siswa kelas XI itu. Semua mata tertuju pada siswa kelahiran Sumenep, 27 April 2000 itu.

Dia bukan artis. Dia siswa lebih dari sekadar biasa. Dia berhasil membawa nama harum Pamekasan di tingkat nasional.


Reza berhasil menyabet medali perak dalam ajang bergengsi dunia pendidikan. Yakni, Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017 yang diselenggarakan di Pekanbaru, Riau pada 2–8 Juli lalu.

Sorak-sorai terdengar saat pembawa acara halalbihalal Disdik Provinsi Jatim Cabang Pamekasan memanggil Reza naik ke panggung. Dia bersama teman lainnya diberi waktu khusus untuk bertatap muka langsung dengan Bupati Achmad Syafii.

Tatap muka itu bukan sekadar untuk bertegur sapa. Tapi, orang nomor satu di Kota Gerbang Salam itu memberi apresiasi dan mengucapkan selamat secara langsung kepada para generasi penerus bangsa tersebut.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Reza mengaku tidak menyangka bakal meraih medali. Target awal yang ada di benak siswa asal Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, Sumenep, itu bukan juara.

Baca Juga :  Bantuan Korban Bencana Berbasis Data

Tapi, dia hanya ingin menjadi bagian dari peserta olimpiade bergengsi yang tahapannya sangat panjang itu. Apalagi, Reza memiliki pengalaman buruk. Tahun lalu, dia gagal mewakili Jatim di OSN. Perjuangannya kandas hanya di tingkat provinsi.

Namun, keinginan dangkal itu berubah menjadi dalam setelah dia diberi motivasi oleh orang tuanya. Teman-teman sekolah serta dorongan motivasi dari sejumlah guru mengalir begitu deras.

Berawal dari dukungan itu, Reza bertekad bisa meraih juara. Intensitas belajar ditingkatkan. Nyaris tidak ada waktu lain selain membaca dan belajar. Kebetulan, sejak SMP, siswa berbadan tinggi itu memang sangat menyukai biologi.

Selain belajar, setiap waktu dia selalu berdoa memohon keterbukaan hati dan kemudahan jalan. Kedua orang tuanya turut serta memohon rida Ilahi. ”Orang tua selalu mendukung saya. Alhamdulillah saya juara,” katanya.

Reza lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya guru. Ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Dia dua bersaudara. Tapi, semangat belajar tidak pernah luluh akibat kesederhanaan keluarganya itu.

Baca Juga :  Saluran Tersumbat, Pagar Puskesmas Hanyut

Kondisi tersebut justru selalu menyulut semangat Reza belajar. Seperti ada yang menggerogoti hasratnya untuk selalu belajar dan belajar. ”Saya yakin, jika belajar sungguh-sungguh, kita pasti bisa,” katanya.

Dia berharap, prestasi yang dipetik itu tidak membuatnya sombong atau tinggi hati. Tapi, prestasi itu menjadi pecut semangat untuk terus belajar dan meraih prestasi. ”Semoga motivasi untuk terus belajar terus ada dalam diri saya,” ucap siswa SMAN 1 Pamekasan itu.

Mengenai persiapan olimpiade internasional, Reza mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Persiapan yang dilakukan hanya belajar. Belajar dengan giat. Berdoa dan meminta rida orang tua, lalu tawakal.

Bupati Achmad Syafii mengapresiasi prestasi yang ditorehkan Reza. Dengan prestasi itu, nama Pamekasan di bidang pendidikan semakin harum. Dia berharap, selanjutnya banyak siswa yang menapaki jejak Reza.

”Semoga regenerasi selalu ada. Kami atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan mengapresiasi prestasi yang diraih di tingkat nasional,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/