alexametrics
27.9 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Pembangunan Wisata Mangrove Lamban

PAMEKASAN – Perkembangan pembangunan ekowisata mangrove di Dusun Bangkal, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, belum tampak. Padahal, pengerjaan fasilitas wisata yang menyerap APBD 2019 sekitar Rp 500 juta tersebut sudah hampir satu bulan.

Sampai hari ini, tak ada satu pun gazebo yang selesai. Jembatan penghubung antar gazebo juga tidak ada yang tuntas. Hanya terdapat pancangan kayu yang belum berbentuk utuh. Padahal, semakin lama proyek tersebut dikerjakan, akan semakin menghabiskan biaya untuk para pekerja proyek.

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Halifaturrahman mengatakan, kontrak proyek masih sekitar tiga bulanan. ”Belum masa akhir kontrak. Soal hambatannya di lapangan, belum dilaporkan oleh konsultan pengawas,” terangnya.

Baca Juga :  Pengelolaan Pariwisata Penting Dioptimalkan

Mamang tidak menampik lambatnya pembangunan ekowisata mangrove tersebut. Menurutnya, yang menjadi kendala di lapangan adalah material tidak bisa diangkut ke lokasi menggunakan pikap. Sebab, jalan menuju lokasi pembangunan wisata sangat sempit.

”Jadi diletakkan beberapa meter agak jauh dari lokasi pembangunan,” terangnya. Material tersebut terpaksa diangkut berangsur menuju lokasi pembangunan. Tetapi, pihak disparbud berjanji akan melakukan pemantauan. Bagaimanapun, proyek tersebut sudah mendekati bulan kedua. (c2)

PAMEKASAN – Perkembangan pembangunan ekowisata mangrove di Dusun Bangkal, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, belum tampak. Padahal, pengerjaan fasilitas wisata yang menyerap APBD 2019 sekitar Rp 500 juta tersebut sudah hampir satu bulan.

Sampai hari ini, tak ada satu pun gazebo yang selesai. Jembatan penghubung antar gazebo juga tidak ada yang tuntas. Hanya terdapat pancangan kayu yang belum berbentuk utuh. Padahal, semakin lama proyek tersebut dikerjakan, akan semakin menghabiskan biaya untuk para pekerja proyek.

Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Halifaturrahman mengatakan, kontrak proyek masih sekitar tiga bulanan. ”Belum masa akhir kontrak. Soal hambatannya di lapangan, belum dilaporkan oleh konsultan pengawas,” terangnya.

Baca Juga :  Hingga Oktober, Serapan Anggaran Belum Capai 50 Persen

Mamang tidak menampik lambatnya pembangunan ekowisata mangrove tersebut. Menurutnya, yang menjadi kendala di lapangan adalah material tidak bisa diangkut ke lokasi menggunakan pikap. Sebab, jalan menuju lokasi pembangunan wisata sangat sempit.

”Jadi diletakkan beberapa meter agak jauh dari lokasi pembangunan,” terangnya. Material tersebut terpaksa diangkut berangsur menuju lokasi pembangunan. Tetapi, pihak disparbud berjanji akan melakukan pemantauan. Bagaimanapun, proyek tersebut sudah mendekati bulan kedua. (c2)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/