alexametrics
24.1 C
Madura
Wednesday, August 10, 2022

Kasihan, Nenek Peya Tinggal di Gubuk Tua Bersama Keponakan Disabilitas

PAMEKASAN – Setiap manusia menginginkan hidup layak di masa tuanya. Namun tidak dengan Nenek Peya, 70, warga Dusun Kalampok, Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong. Di penghujung usia, ia habiskan di gubuk tua yang hampir lapuk dimakan rayap.

Nenek Peya, tidak mempunyai keturunan. Teman hidup satu-satunya yakni keponakannya bernama Pahah, 59. Tapi, sang keponakan juga tercatat sebagai penyandang disabilitas sejak lahir.

Kondisi ini amat memprihatinkan. Bertahun-tahun keduanya menggantungkan hidup dari uluran dan belas kasih tetangga. “Saya hanya bisa menjahit sandal dan mengisi minyak korek. Itu pun, kalau ada permintaan dari tetangga,” ungkapnya kepada RadarMadura.id.

Pahah mengungkapkan jika bantuan dari pemerintah minim. Selama ini bantuannya berwujud beras. “Padahal, kami  juga membutuhkan bantuan lain di bidang kesehatan dan perbaikan rumah. Rumah yang kami tempati hampir roboh,” imbuhnya.

Baca Juga :  Rusak karena Konser,┬áPetugas Tanam Ratusan Pohon Baru

Camat Pakong, M Amirudin, mengungkapkan bahwa pihak desa telah memberikan bantuan berupa rasta setiap bulan. Namun untuk program Program Keluarga  Harapan (PKH), belum dapat karena akan diusulkan tahun 2019.

“Kami terus mengupayakan memberikan bantuan di bidang ekonomi maupun kesehatan. Bantuan ekonomi dari PKH sedang dalam proses dan bantuan kesehatan, kami upayakan mendapatkan pelayanan posyandu lansia,” terangnya. (Santi Tri Wardhani)

PAMEKASAN – Setiap manusia menginginkan hidup layak di masa tuanya. Namun tidak dengan Nenek Peya, 70, warga Dusun Kalampok, Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong. Di penghujung usia, ia habiskan di gubuk tua yang hampir lapuk dimakan rayap.

Nenek Peya, tidak mempunyai keturunan. Teman hidup satu-satunya yakni keponakannya bernama Pahah, 59. Tapi, sang keponakan juga tercatat sebagai penyandang disabilitas sejak lahir.

Kondisi ini amat memprihatinkan. Bertahun-tahun keduanya menggantungkan hidup dari uluran dan belas kasih tetangga. “Saya hanya bisa menjahit sandal dan mengisi minyak korek. Itu pun, kalau ada permintaan dari tetangga,” ungkapnya kepada RadarMadura.id.


Pahah mengungkapkan jika bantuan dari pemerintah minim. Selama ini bantuannya berwujud beras. “Padahal, kami  juga membutuhkan bantuan lain di bidang kesehatan dan perbaikan rumah. Rumah yang kami tempati hampir roboh,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ribuan Warga Miskin Tak Tersentuh RTLH

Camat Pakong, M Amirudin, mengungkapkan bahwa pihak desa telah memberikan bantuan berupa rasta setiap bulan. Namun untuk program Program Keluarga  Harapan (PKH), belum dapat karena akan diusulkan tahun 2019.

“Kami terus mengupayakan memberikan bantuan di bidang ekonomi maupun kesehatan. Bantuan ekonomi dari PKH sedang dalam proses dan bantuan kesehatan, kami upayakan mendapatkan pelayanan posyandu lansia,” terangnya. (Santi Tri Wardhani)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Turun Jalan Tolak RUU Permusikan

KMP DBS III Belum Layani Sapeken

Bersepeda Bisa Membakar Lemak Perut?

Artikel Terbaru

/