alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, May 22, 2022

Selamat dari Korona, Jangan Mati Kelaparan

PAMEKASAN – Ratusan jamaah salat Jumat memadati Masjid Alfalah kemarin (10/4). Khotbah di masjid di Jalan Dirgahayu, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, itu terdengar lantang.

Materi yang disajikan oleh khatib tentang umat muslim menyikapi wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19). Dampak pagebluk itu bukan hanya pada kesehatan, melainkan juga pada ekonomi masyarakat kecil.

Ratusan jamaah mendengarkan secara saksama. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara lantang sang khatib. Pria berjas hitam yang didapuk menjadi penyampai khotbah meminta agar semua masyarakat berbuat dalam memerangi pandemi.

Khatib Jumat itu adalah Imam Santoso. Pria tersebut sekarang aktif sebagai penasihat Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pamekasan. Imam meminta seluruh pengurus masjid bergerak menolong warga yang terdampak Covid-19.

Menurut Imam, dampak virus menular asal Wuhan, Tiongkok, itu bukan hanya pada kesehatan, melainkan juga mencekik ekonomi. Masyarakat kecil seperti pedagang kaki lima (PKL) dan tukang becak sangat merasakan dampaknya.

Baca Juga :  Ada Sidik Jari Robi, David Yakin Istrinya Dibunuh

Penghasilan mereka anjlok seketika. Penumpang becak menurun lantaran warga lebih banyak berada di rumah. Sekolah dan perkantoran yang menjadi ladang mencari penumpang diliburkan. Pendapatan anjlok lantaran sepi penumpang.

Hal serupa dialami sebagian PKL. Arek Lancor tempat mereka mangkal ditutup untuk aktivitas keramaian. Tempat bermain itu ditetapkan sebagai kawasan physical distancing atau pembatasan fisik. Lokasi tersebut harus bebas dari kerumunan dan keramaian.

Masyarakat harus menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat kecil itu. Melalui masjid, sedekah bisa dikumpulkan. Kemudian, diberikan kepada warga yang membutuhkan uluran tangan itu.

Takmir masjid juga bisa menggandeng para dermawan. Melalui uluran tangan itu, masyarakat kecil tidak akan terlalu merasakan dampak ekonomi akibat pandemi.

”Masjid harus menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat kecil. Jangan sampai masyarakat selamat dari virus korona, tetapi mati karena kelaparan. Jangan sampai terjadi,” katanya.

Pria yang juga menjabat sekretaris MUI Pamekasan itu mengatakan, pemerintah juga harus melakukan langkah antisipasi. Khususnya, terkait penanganan dampak ekonomi akibat virus yang menyerang ratusan negara di belahan dunia itu.

Baca Juga :  Petugas Laboratorium Jadi Pasien Covid Ke-15

Nasib warga miskin harus dipikirkan dan segera dicarikan solusi. Tujuannya, agar kehidupan masyarakat tetap berjalan optimal meski harus lebih banyak di rumah untuk memutus rantai persebaran korona.

Imam juga menyerukan kepada seluruh umat muslim untuk memakmurkan masjid. Aktivitas ibadah harus tetap jalan tetapi dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah.

Beberapa waktu lalu ulama menyampaikan maklumat bersama. Di antaranya, salat Jumat tetap dilaksanakan. Kemudian, ibadah lain juga dijalankan seperti biasa. Jika harus mengumpulkan orang banyak, maksimal 40 orang.

Jika ada warga sakit dengan gejala serupa seperti terinfeksi korona, diimbau beribadah dari rumah. Harapannya, kemungkinan adanya persebaran virus tidak terjadi. ”Semoga dengan doa kita, wabah korona ini segera diangkat oleh Allah,” tandasnya.

- Advertisement -

PAMEKASAN – Ratusan jamaah salat Jumat memadati Masjid Alfalah kemarin (10/4). Khotbah di masjid di Jalan Dirgahayu, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, itu terdengar lantang.

Materi yang disajikan oleh khatib tentang umat muslim menyikapi wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19). Dampak pagebluk itu bukan hanya pada kesehatan, melainkan juga pada ekonomi masyarakat kecil.

Ratusan jamaah mendengarkan secara saksama. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara lantang sang khatib. Pria berjas hitam yang didapuk menjadi penyampai khotbah meminta agar semua masyarakat berbuat dalam memerangi pandemi.


Khatib Jumat itu adalah Imam Santoso. Pria tersebut sekarang aktif sebagai penasihat Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pamekasan. Imam meminta seluruh pengurus masjid bergerak menolong warga yang terdampak Covid-19.

Menurut Imam, dampak virus menular asal Wuhan, Tiongkok, itu bukan hanya pada kesehatan, melainkan juga mencekik ekonomi. Masyarakat kecil seperti pedagang kaki lima (PKL) dan tukang becak sangat merasakan dampaknya.

Baca Juga :  Korona; Siksaan atau Musibah

Penghasilan mereka anjlok seketika. Penumpang becak menurun lantaran warga lebih banyak berada di rumah. Sekolah dan perkantoran yang menjadi ladang mencari penumpang diliburkan. Pendapatan anjlok lantaran sepi penumpang.

Hal serupa dialami sebagian PKL. Arek Lancor tempat mereka mangkal ditutup untuk aktivitas keramaian. Tempat bermain itu ditetapkan sebagai kawasan physical distancing atau pembatasan fisik. Lokasi tersebut harus bebas dari kerumunan dan keramaian.

Masyarakat harus menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat kecil itu. Melalui masjid, sedekah bisa dikumpulkan. Kemudian, diberikan kepada warga yang membutuhkan uluran tangan itu.

Takmir masjid juga bisa menggandeng para dermawan. Melalui uluran tangan itu, masyarakat kecil tidak akan terlalu merasakan dampak ekonomi akibat pandemi.

”Masjid harus menjadi benteng pertahanan ekonomi masyarakat kecil. Jangan sampai masyarakat selamat dari virus korona, tetapi mati karena kelaparan. Jangan sampai terjadi,” katanya.

Pria yang juga menjabat sekretaris MUI Pamekasan itu mengatakan, pemerintah juga harus melakukan langkah antisipasi. Khususnya, terkait penanganan dampak ekonomi akibat virus yang menyerang ratusan negara di belahan dunia itu.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Ajak Badan Usaha Ikut Program Donasi Iuran JKN-KIS

Nasib warga miskin harus dipikirkan dan segera dicarikan solusi. Tujuannya, agar kehidupan masyarakat tetap berjalan optimal meski harus lebih banyak di rumah untuk memutus rantai persebaran korona.

Imam juga menyerukan kepada seluruh umat muslim untuk memakmurkan masjid. Aktivitas ibadah harus tetap jalan tetapi dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah.

Beberapa waktu lalu ulama menyampaikan maklumat bersama. Di antaranya, salat Jumat tetap dilaksanakan. Kemudian, ibadah lain juga dijalankan seperti biasa. Jika harus mengumpulkan orang banyak, maksimal 40 orang.

Jika ada warga sakit dengan gejala serupa seperti terinfeksi korona, diimbau beribadah dari rumah. Harapannya, kemungkinan adanya persebaran virus tidak terjadi. ”Semoga dengan doa kita, wabah korona ini segera diangkat oleh Allah,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/