alexametrics
28.5 C
Madura
Monday, May 23, 2022

Kantor Disegel, Pegawai Pemkab Jebol Pagar

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Warga dari beberapa desa masih bertahan di depan gedung Pemkab Pamekasan hingga kemarin (9/12). Mereka datang sejak Rabu (8/12). Kedatangan mereka untuk menuntut pilkades serentak di 74 desa digelar secepatnya tahun depan.

Masyarakat di bawah komando Perkumpulan Milenial Jawa Timur dan Forum Aspirasi dan Advokasi Masyarakat (FAAM) ini juga menyegel kantor pemkab dan Mandhapa Agung Ronggosukowati. Penyegelan pintu keluar gedung pemkab dimulai lebih awal oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pamekasan (AMPP) pada 6 Desember.

Sementara penyegelan pintu masuk dilakukan oleh masyarakat yang menuntut pelaksanaan pilkades sejak Rabu sore (8/12). Petangnya disusul peserta aksi menyegel dua pintu masuk pendapa.

Baca Juga :  Peserta SAE Ramadan Fun Camp Belajar Membuat Kebab

Penyegelan tersebut dilakukan dengan cara menggembok pintu masuk dan pintu keluar gedung pemkab dan pendapa. Penyegelan dua gedung ini mengakibatkan pegawai dan tamu kesulitan masuk dan keluar gedung.

”Penyegelan ini konsekuensi karena tuntutan kami hanya poin empat yang dikabulkan,” terang Korlap Aksi Abdul Basit. Poin empat itu berupa permintaan agar data realisasi dana Pilkades 2021 dipaparkan.

Tiga poin lain, yakni penerbitan perbup pelaksanaan pilkades, pelaksanaan pilkades di awal 2022, dan terkait pengangkatan Pj Kades dianggap belum sepenuhnya dikabulkan oleh pemkab.

”Kami tidak segel 100 persen, tapi buka tutup. Saat tidak ada aktivitas, kami tutup lagi,” terangnya. ”Kami menunggu jawaban pemkab atas tiga poin tuntutan kami,” sambungnya.

Baca Juga :  Pemkab Pamekasan Rumuskan Rekomendasi Impor Garam

Akibat penyegelan tersebut, pegawai kesulitan keluar gedung. Sejumlah pegawai menjebol pagar gedung pemkab kemarin untuk bisa keluar dengan sepeda motornya. ”Kami juga bingung, kenapa menyegel gedung pelayanan,” kata salah seorang pegawai.

Plt Kasatpol PP Pamekasan Syaiful Amin mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pedemo. ”Alhamdulillah, mereka mau diajak berkompromi dan mau membuka saat ada acara di pemda,” ujarnya. 

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Warga dari beberapa desa masih bertahan di depan gedung Pemkab Pamekasan hingga kemarin (9/12). Mereka datang sejak Rabu (8/12). Kedatangan mereka untuk menuntut pilkades serentak di 74 desa digelar secepatnya tahun depan.

Masyarakat di bawah komando Perkumpulan Milenial Jawa Timur dan Forum Aspirasi dan Advokasi Masyarakat (FAAM) ini juga menyegel kantor pemkab dan Mandhapa Agung Ronggosukowati. Penyegelan pintu keluar gedung pemkab dimulai lebih awal oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pamekasan (AMPP) pada 6 Desember.

Sementara penyegelan pintu masuk dilakukan oleh masyarakat yang menuntut pelaksanaan pilkades sejak Rabu sore (8/12). Petangnya disusul peserta aksi menyegel dua pintu masuk pendapa.

Baca Juga :  Puluhan Siswa SMP/MTs Absen UNBK

Penyegelan tersebut dilakukan dengan cara menggembok pintu masuk dan pintu keluar gedung pemkab dan pendapa. Penyegelan dua gedung ini mengakibatkan pegawai dan tamu kesulitan masuk dan keluar gedung.

”Penyegelan ini konsekuensi karena tuntutan kami hanya poin empat yang dikabulkan,” terang Korlap Aksi Abdul Basit. Poin empat itu berupa permintaan agar data realisasi dana Pilkades 2021 dipaparkan.

Tiga poin lain, yakni penerbitan perbup pelaksanaan pilkades, pelaksanaan pilkades di awal 2022, dan terkait pengangkatan Pj Kades dianggap belum sepenuhnya dikabulkan oleh pemkab.

”Kami tidak segel 100 persen, tapi buka tutup. Saat tidak ada aktivitas, kami tutup lagi,” terangnya. ”Kami menunggu jawaban pemkab atas tiga poin tuntutan kami,” sambungnya.

Baca Juga :  Target 1100 Pencaker Masuk Perusahaan

Akibat penyegelan tersebut, pegawai kesulitan keluar gedung. Sejumlah pegawai menjebol pagar gedung pemkab kemarin untuk bisa keluar dengan sepeda motornya. ”Kami juga bingung, kenapa menyegel gedung pelayanan,” kata salah seorang pegawai.

Plt Kasatpol PP Pamekasan Syaiful Amin mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pedemo. ”Alhamdulillah, mereka mau diajak berkompromi dan mau membuka saat ada acara di pemda,” ujarnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/