alexametrics
21.4 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Pergelaran Okol, Gulat Tradisional Meminta Hujan

PAMEKASAN – Pamekasan diguyur hujan sejak awal pekan lalu. Kegersangan selama lebih kurang empat bulan dikekang puncak kemarau akhirnya berakhir. Petani berbondong-bondong membajak sawah untuk ditanami komoditas unggulan.

Di penghujung pekan lalu, sejumlah desa menggelar tradisi okol. Tradisi berbentuk gulat tanpa dendam dan niat buruk, apalagi membunuh lawan. Dahulu kala, nenek moyang orang Madura menggelar tradisi tersebut untuk meminta hujan.

Salah satu desa yang menggelar tradisi tersebut yakni Nyalabu Daya, Kecamatan Kota Pamekasan. Jarak dari pusat kota sangat dekat. Perjalanan menggunakan motor hanya membutuhkan waktu paling lama 10 menit dengan kecepatan normal.

Ratusan petani memenuhi gelanggang pertandingan. Sementara para petarung bersiap di gelanggang yang telah disiapkan. Satu lawan satu. Sekali jatuh, dinyatakan kalah. Fair play dan tanpa dendam adalah persyaratannya.

Satu orang berperan sebagai wasit. Perannya bukan hanya menentukan siapa yang kalah dan menang, tetapi lebih jauh. Pengadil di lapangan itu harus memastikan bahwa gerakan yang dikeluarkan para pegulat itu tidak membahayakan.

Baca Juga :  Sapol PP Tutup Enam Lokasi Karaoke

Sementara ratusan petani yang berada di luar arena pun menjadi wasit sekaligus pendukung. Mereka berteriak. Suasananya hampir mirip seperti ketika spartacus memperebutkan kemenangan atas budak-budak Romawi.

Ketika terjatuh, pegulat langsung dinyatakan kalah. Mereka menerima dengan lapang. Terbukti, meski kalah, senyum tetap tersungging. Bahkan, peluk hangat sesama petarung terjadi di tiap akhir pertandingan.

Syaiful Bahri, 45, warga setempat mengatakan, okol merupakan tradisi turun-temurun yang dilestarikan. Tradisi tersebut hanya dilakukan saat kemarau panjang. Seluruh petani dikumpulkan di satu tanah lapang. Lalu, okol dilaksanakan. ”Mungkin kalau dulu ada ritual-ritualnya,” katanya.

Seiring perkembangan, okol bukan lagi dijadikan media meminta hujan. Tetapi, dijadikan tradisi silaturahmi antarpetani yang setiap hari sulit bersinggungan lantaran kesibukan masing-masing.

Penyelenggaraan tetap pada musim kemarau. Masyarakat tidak berani mengubah tradisi yang berjalan secara turun-temurun itu. Tujuannya, agar nilai yang ada sejak dahulu tetap lestari.

Baca Juga :  UMK Jatim 2020 Disahkan, BPJS Kesehatan Ingatkan Pengusaha Tentang Ini

Syaiful menyampaikan, tradisi dan budaya adalah jati diri bangsa. Pada zaman serbamodern, budaya luar mudah masuk. Generasi penerus bangsa harus dibentengi dengan budaya leluhur.

Dengan demikian, tradisi okol tetap dilestarikan. Salah satunya bertujuan agar para generasi bangsa tidak lupa jati diri. Kecintaan terhadap budaya tetap menggelora meski berada dalam terpaan hegemoni budaya luar.

Bapak dua orang anak itu berharap semua tradisi adat dan budaya Madura dilestarikan. Warisan nenek moyang itu adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya. ”Kami bertekad tetap melestarikan budaya asli kita,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengatakan, tradisi okol menjadi salah satu magnet tersendiri bagi warga untuk menyaksikan. Jika kemasan dipercantik, bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Penikmat wisata beragam. Tidak hanya monoton pada wisata bahari. Tetapi, wisata budaya juga banyak peminat. ”Seperti Bali, budayanya menyedot jutaan wisatawan setiap tahun. Budaya Madura juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata,” tandasnya.

PAMEKASAN – Pamekasan diguyur hujan sejak awal pekan lalu. Kegersangan selama lebih kurang empat bulan dikekang puncak kemarau akhirnya berakhir. Petani berbondong-bondong membajak sawah untuk ditanami komoditas unggulan.

Di penghujung pekan lalu, sejumlah desa menggelar tradisi okol. Tradisi berbentuk gulat tanpa dendam dan niat buruk, apalagi membunuh lawan. Dahulu kala, nenek moyang orang Madura menggelar tradisi tersebut untuk meminta hujan.

Salah satu desa yang menggelar tradisi tersebut yakni Nyalabu Daya, Kecamatan Kota Pamekasan. Jarak dari pusat kota sangat dekat. Perjalanan menggunakan motor hanya membutuhkan waktu paling lama 10 menit dengan kecepatan normal.


Ratusan petani memenuhi gelanggang pertandingan. Sementara para petarung bersiap di gelanggang yang telah disiapkan. Satu lawan satu. Sekali jatuh, dinyatakan kalah. Fair play dan tanpa dendam adalah persyaratannya.

Satu orang berperan sebagai wasit. Perannya bukan hanya menentukan siapa yang kalah dan menang, tetapi lebih jauh. Pengadil di lapangan itu harus memastikan bahwa gerakan yang dikeluarkan para pegulat itu tidak membahayakan.

Baca Juga :  Sapol PP Tutup Enam Lokasi Karaoke

Sementara ratusan petani yang berada di luar arena pun menjadi wasit sekaligus pendukung. Mereka berteriak. Suasananya hampir mirip seperti ketika spartacus memperebutkan kemenangan atas budak-budak Romawi.

Ketika terjatuh, pegulat langsung dinyatakan kalah. Mereka menerima dengan lapang. Terbukti, meski kalah, senyum tetap tersungging. Bahkan, peluk hangat sesama petarung terjadi di tiap akhir pertandingan.

Syaiful Bahri, 45, warga setempat mengatakan, okol merupakan tradisi turun-temurun yang dilestarikan. Tradisi tersebut hanya dilakukan saat kemarau panjang. Seluruh petani dikumpulkan di satu tanah lapang. Lalu, okol dilaksanakan. ”Mungkin kalau dulu ada ritual-ritualnya,” katanya.

Seiring perkembangan, okol bukan lagi dijadikan media meminta hujan. Tetapi, dijadikan tradisi silaturahmi antarpetani yang setiap hari sulit bersinggungan lantaran kesibukan masing-masing.

Penyelenggaraan tetap pada musim kemarau. Masyarakat tidak berani mengubah tradisi yang berjalan secara turun-temurun itu. Tujuannya, agar nilai yang ada sejak dahulu tetap lestari.

Baca Juga :  Bupati Baddrut Deklarasikan Masjid Tangguh

Syaiful menyampaikan, tradisi dan budaya adalah jati diri bangsa. Pada zaman serbamodern, budaya luar mudah masuk. Generasi penerus bangsa harus dibentengi dengan budaya leluhur.

Dengan demikian, tradisi okol tetap dilestarikan. Salah satunya bertujuan agar para generasi bangsa tidak lupa jati diri. Kecintaan terhadap budaya tetap menggelora meski berada dalam terpaan hegemoni budaya luar.

Bapak dua orang anak itu berharap semua tradisi adat dan budaya Madura dilestarikan. Warisan nenek moyang itu adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya. ”Kami bertekad tetap melestarikan budaya asli kita,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengatakan, tradisi okol menjadi salah satu magnet tersendiri bagi warga untuk menyaksikan. Jika kemasan dipercantik, bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Penikmat wisata beragam. Tidak hanya monoton pada wisata bahari. Tetapi, wisata budaya juga banyak peminat. ”Seperti Bali, budayanya menyedot jutaan wisatawan setiap tahun. Budaya Madura juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/