alexametrics
21.3 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Muna Masyari, Penulis Difabel yang Bertekad Melestarikan Budaya Madura

PAMEKASAN – Sebagian orang, masih ada yang beranggapan menulis itu sulit. Beragam alasan dilontarkan untuk tidak menulis. Mulai dari rasa malas, minim referensi, kesulitan menata bahasa hingga alasan klise tidak menemukan inpirasi.

Alasan ini, tidak berlaku bagi cerpenis difabel, Muna Masyari. Buktinya, karya tulis warga Desa Larangan Badung itu dimuat di berbagai media nasional. Kekurangan fisik serta keterbatasan pendidikan tidak menyurutkan semangat untuk berkarya.

Muna Masyari memang lahir dari kelurga yang kurang mampu. Pendidikan terakhirnya hanya sampai SD. Masa kecilnya pun dihabiskan untuk membantu kedua orang tua.

Di sela-sela membantu orang tua, wanita berusia 34 tahun itu selalu menyempatkan diri membaca. Kecintaannya itu, memotivasinya untuk menulis apa saja.

Baca Juga :  Patuhi Undang-Undang, PT Garam Rekrut Tiga Karyawan Penyandang Difabel

Menginjak remaja, Muna Masyari memberanikan diri menulis genre romance dan religi. Setiap hari, tulisannya dituangkan dalam lembaran buku. Baru pada tahun 2010, dia aktif membaca koran.

Pada tahun 2011, Muna Masyari mulai mengirim tulisannya ke surat kabar nasional. Saat itu, tulisannya dipublikasikan di Jawa Pos, Selanjutnya, terbit di Republika, Surabaya Post, Tempo dan Kompas.

Hingga kini, tulisan Muna Masyari masih menghiasi surat kabar nasional. Bahkkan akhir 2017, cerpen berjudul “kasur tanah” dinobatkan sebagai cerpen terbaik.

Ia tidak menyesal dilahirkan sebagai orang Madura yang memiliki keterbatasan fisik. Termasuk, keterbatasan pendidikan dan keterbatasan ekonomi. Itu semua dijadikan motivasi untuk berkarya.

Menurut warga Dusun Gunung 2 itu, menulis bukan cuma media untuk mencurahkan segala keluh kesah yang dialami. Menulis juga dianggap sebagai cara untuk mempertahankan kebudayaan.

Baca Juga :  Penggunaan Pendidikan Terhalang Regulasi

“Melalui tulisan, saya bisa mengangkat nilai-nilai kebudayaan di Madura yang sudah terlupakan. Misal Kasor Tana, Dhamar Kambhang, Tumbal Suramadu dan lain sebagainya,” ungkapnya kepada RadarMadura.id.

Muna Masyari berpesan kepada generasi muda untuk terus semangat berkarya. “Menulis itu mudah, hanya butuh kemauan dan giat membaca. Keterbatasan jangan dijadikan alasan,” ingatnya.

Meski berprestasi, Muna Masyari tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia juga membantu ekonomi keluarga dengan menerima orderan menjahit.

Tapi, tidak lupa juga menulis. Buktinya, buku bertajuk “Martabat Kematian” berisi ulasan nilai budaya Madura menyita perhatian publik. (Santi Stia Wardani)

PAMEKASAN – Sebagian orang, masih ada yang beranggapan menulis itu sulit. Beragam alasan dilontarkan untuk tidak menulis. Mulai dari rasa malas, minim referensi, kesulitan menata bahasa hingga alasan klise tidak menemukan inpirasi.

Alasan ini, tidak berlaku bagi cerpenis difabel, Muna Masyari. Buktinya, karya tulis warga Desa Larangan Badung itu dimuat di berbagai media nasional. Kekurangan fisik serta keterbatasan pendidikan tidak menyurutkan semangat untuk berkarya.

Muna Masyari memang lahir dari kelurga yang kurang mampu. Pendidikan terakhirnya hanya sampai SD. Masa kecilnya pun dihabiskan untuk membantu kedua orang tua.


Di sela-sela membantu orang tua, wanita berusia 34 tahun itu selalu menyempatkan diri membaca. Kecintaannya itu, memotivasinya untuk menulis apa saja.

Baca Juga :  Pemkab Buka Seleksi CPNS, Ini Rincian Formasi Jabatan Yang Dibutuhkan

Menginjak remaja, Muna Masyari memberanikan diri menulis genre romance dan religi. Setiap hari, tulisannya dituangkan dalam lembaran buku. Baru pada tahun 2010, dia aktif membaca koran.

Pada tahun 2011, Muna Masyari mulai mengirim tulisannya ke surat kabar nasional. Saat itu, tulisannya dipublikasikan di Jawa Pos, Selanjutnya, terbit di Republika, Surabaya Post, Tempo dan Kompas.

Hingga kini, tulisan Muna Masyari masih menghiasi surat kabar nasional. Bahkkan akhir 2017, cerpen berjudul “kasur tanah” dinobatkan sebagai cerpen terbaik.

Ia tidak menyesal dilahirkan sebagai orang Madura yang memiliki keterbatasan fisik. Termasuk, keterbatasan pendidikan dan keterbatasan ekonomi. Itu semua dijadikan motivasi untuk berkarya.

Menurut warga Dusun Gunung 2 itu, menulis bukan cuma media untuk mencurahkan segala keluh kesah yang dialami. Menulis juga dianggap sebagai cara untuk mempertahankan kebudayaan.

Baca Juga :  Madura Tidak Keras seperti Kata Orang

“Melalui tulisan, saya bisa mengangkat nilai-nilai kebudayaan di Madura yang sudah terlupakan. Misal Kasor Tana, Dhamar Kambhang, Tumbal Suramadu dan lain sebagainya,” ungkapnya kepada RadarMadura.id.

Muna Masyari berpesan kepada generasi muda untuk terus semangat berkarya. “Menulis itu mudah, hanya butuh kemauan dan giat membaca. Keterbatasan jangan dijadikan alasan,” ingatnya.

Meski berprestasi, Muna Masyari tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia juga membantu ekonomi keluarga dengan menerima orderan menjahit.

Tapi, tidak lupa juga menulis. Buktinya, buku bertajuk “Martabat Kematian” berisi ulasan nilai budaya Madura menyita perhatian publik. (Santi Stia Wardani)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Jagokan Kasidi Jadi yang Terbaik

Dua Pemotor Tewas

Artikel Terbaru

/