alexametrics
28.6 C
Madura
Friday, May 20, 2022

Nelayan Abaikan Asuransi Mandiri Dari 12 Ribu, Hanya 250 Terdaftar

PAMEKASAN – Program asuransi yang dijalankan pemerintah tidak berjalan mulus. Dalam pelaksanaan di lapangan tidak disambut baik oleh nelayan. Buktinya, hanya segelintir yang mendaftar asuransi secara mandiri.

Dinas Perikanan Pamekasan mencatat jumlah nelayan sekitar 12 ribu orang. Mereka tersebar di enam kecamatan. Dari jumlah tersebut, hanya segelintir nelayan yang memprogram asuransi mandiri.

Kepemilikan asuransi tersebut dibuktikan dengan kartu asuransi. Setiap tahun kartu harus diperpanjang sekaligus dilakukan pembayaran. Nominal pembayarannya Rp 175 ribu per tahun.

Kartu nelayan tersebut nantinya bisa digunakan untuk memohon klaim bila terjadi kecelakaan di laut. Asuransi mandiri tersebut kelanjutan dari bantuan premi asuransi nelayan (BPAN) yang dikeluarkan Kementerian Kelautan yang sudah tidak ada lagi sejak 2018. Untuk BPAN sendiri gratis, nelayan tidak perlu membayar.

Baca Juga :  Sopir Lengah, Truk LPG Seruduk Konter HP

Seorang nelayan Dusun Tabugah, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Asin mengatakan, dirinya memang membayar asuransi setiap tahun. Kesulitan mengurus asuransi mandiri itu adalah tidak adanya petugas dari pihak asuransi secara langsung.

”Tidak mungkin dari pihak nelayan langsung menyetor karena tidak tahu mau menyetor ke mana,” terang Asin. ”Harus bayar Rp 175 ribu per tahun, baru dapat asuransi bagi yang kecelakaan,” lanjutnya,

Kasi Pengendalian dan Perlindungan Nelayan Kecil Dinas Perikanan Pamekasan Bambang Budi Santoso mengatakan, peminat asuransi mandiri memang minim. Penyebabnya beragam. Salah satunya, nelayan sering tidak datang ketika ada sosialisasi dan penyuluhan.

Budi mengungkapkan, dari 12 ribu nelayan hanya 250 nelayan yang asuransinya terprogram secara mandiri. Pihaknya sudah mewanti-wanti agar nelayan punya asuransi supaya terjamin ketika terjadi kecelakaan laut. ”Padahal manfaat asuransi itu banyak, risiko menjadi nelayan itu besar,” kata pria asal Kelurahan Kangenan tersebut.

Baca Juga :  Dinkes Pamekasan Deklarasi Desa Bebas BABS

Menurut dia, asuransi mandiri itu tidak mahal. Sebab, lebih besar manfaatnya. Terkait susahnya penyetoran atau pengurusan kartu asuransi, pihaknya mengatakan bisa langsung koordinasi ke pihak desa. Karena pihak desa juga dilibatkan dalam pengoordinasian asuransi tersebut.

Pihaknya akan mengadakan sosialisasi setiap tahun untuk mendorong nelayan punya asuransi. ”Setiap tahun kami mengadakan penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat nelayan akan pentingnya asuransi,” terangnya. (c2)

- Advertisement -

PAMEKASAN – Program asuransi yang dijalankan pemerintah tidak berjalan mulus. Dalam pelaksanaan di lapangan tidak disambut baik oleh nelayan. Buktinya, hanya segelintir yang mendaftar asuransi secara mandiri.

Dinas Perikanan Pamekasan mencatat jumlah nelayan sekitar 12 ribu orang. Mereka tersebar di enam kecamatan. Dari jumlah tersebut, hanya segelintir nelayan yang memprogram asuransi mandiri.

Kepemilikan asuransi tersebut dibuktikan dengan kartu asuransi. Setiap tahun kartu harus diperpanjang sekaligus dilakukan pembayaran. Nominal pembayarannya Rp 175 ribu per tahun.


Kartu nelayan tersebut nantinya bisa digunakan untuk memohon klaim bila terjadi kecelakaan di laut. Asuransi mandiri tersebut kelanjutan dari bantuan premi asuransi nelayan (BPAN) yang dikeluarkan Kementerian Kelautan yang sudah tidak ada lagi sejak 2018. Untuk BPAN sendiri gratis, nelayan tidak perlu membayar.

Baca Juga :  Cantrang Dilarang, Nelayan Bakal Protes ke Presiden

Seorang nelayan Dusun Tabugah, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Asin mengatakan, dirinya memang membayar asuransi setiap tahun. Kesulitan mengurus asuransi mandiri itu adalah tidak adanya petugas dari pihak asuransi secara langsung.

”Tidak mungkin dari pihak nelayan langsung menyetor karena tidak tahu mau menyetor ke mana,” terang Asin. ”Harus bayar Rp 175 ribu per tahun, baru dapat asuransi bagi yang kecelakaan,” lanjutnya,

Kasi Pengendalian dan Perlindungan Nelayan Kecil Dinas Perikanan Pamekasan Bambang Budi Santoso mengatakan, peminat asuransi mandiri memang minim. Penyebabnya beragam. Salah satunya, nelayan sering tidak datang ketika ada sosialisasi dan penyuluhan.

Budi mengungkapkan, dari 12 ribu nelayan hanya 250 nelayan yang asuransinya terprogram secara mandiri. Pihaknya sudah mewanti-wanti agar nelayan punya asuransi supaya terjamin ketika terjadi kecelakaan laut. ”Padahal manfaat asuransi itu banyak, risiko menjadi nelayan itu besar,” kata pria asal Kelurahan Kangenan tersebut.

Baca Juga :  Pendistribusian Bantuan JPS Tahap II Buram

Menurut dia, asuransi mandiri itu tidak mahal. Sebab, lebih besar manfaatnya. Terkait susahnya penyetoran atau pengurusan kartu asuransi, pihaknya mengatakan bisa langsung koordinasi ke pihak desa. Karena pihak desa juga dilibatkan dalam pengoordinasian asuransi tersebut.

Pihaknya akan mengadakan sosialisasi setiap tahun untuk mendorong nelayan punya asuransi. ”Setiap tahun kami mengadakan penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat nelayan akan pentingnya asuransi,” terangnya. (c2)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/