alexametrics
21.1 C
Madura
Tuesday, July 5, 2022

Mas Tamam Terbiasa tanpa Protokoler

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Saat kunjungan, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam terbiasa tanpa protokoler. Dia lebih sering berdua dengan ajudannya, yaitu Muhammad Taufik Alimuddin. Seperti yang terlihat pada Senin sore (6/9), bupati naik sepeda motor diikuti ajudannya. Saat itu, bupati berkendara menuju Kecamatan Proppo.

Di jalan raya Desa Samatan, bupati yang akrab disapa Mas Tamam itu menikung ke kanan dan berhenti di depan rumah Kades Samatan Mohammad Tamyis. Lalu, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Pamekasan itu duduk di teras musala Kades tersebut. Karena Kades sedang menghadiri sebuah acara, bupati melanjutkan perjalanan ke Desa Tlangoh.

”Saya sengaja mampir ke rumah Kades tanpa pemberitahuan. Kalau diberi tahu, akan ada persiapan-persiapan dari tuan rumah,” ucap Mas Tamam.

Baca Juga :  Setahun Serah Terima Pelabuhan Branta Mangkrak

Dalam perjalanan ke Desa Tlangoh, bupati melewati jalan lurus yang membelah area persawahan. Beberapa saat kemudian, Mas Tamam berhenti dan duduk di sebuah gubuk di area tanaman tembakau. Dia memperhatikan kondisi tanaman tembakau yang sudah banyak dipanen. ”Saya biasa tanpa protokoler, lebih enjoy,” ungkap Mas Tamam.

Menurut Mas Tamam, dalam kondisi tertentu, pejabat tidak boleh bersikap formal dan dikekang protokoler. Karena itu, ketika tidak ada acara kedinasan, dia memilih keliling berbaur dengan masyarakat. Tentunya naik sepeda motor didampingi ajudan tanpa pengawalan personel satpol PP, TNI, Polri, dan dishub.

”Saya dicap bupati swasta karena sering kunjungan tanpa protokoler. Meski dicap bupati swasta, saya tidak sakit hati,” tuturnya.

Baca Juga :  Awas! Peredaran Rokok Ilegal di Pamekasan Masih Marak

Mas Tamam mengungkapkan, hidup itu sederhana dan tidak boleh dibuat ruwet. Namun, bukan berarti dia tidak menghargai jabatannya sebagai kepala daerah. ”Saya tidak ingin karena jabatan malah membuat tidak bebas. Kemudian, membuat saya berjarak. Saya tidak mau itu terjadi. Bagi saya, jabatan bukan tujuan. Kalau jabatan menghalangi saya dekat dengan siapa pun, goodbye jabatan,” tegasnya.

Mas Tamam juga berkeliling ke Pasar 17 Agustus di Kelurahan Bugih dan Pasar Kolpajung di Kelurahan Kolpajung kemarin pagi (7/9). Saat itu, Mas Tamam berdialog dengan abang becak dan pedagang. Lalu, dia menawar dagangan mereka. ”Saya senang menjalani kehidupan tanpa jarak dengan siapa pun. Saya ingin mensyukuri semua nikmat dengan cara terbaik serta memberikan manfaat,” tandasnya. 

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Saat kunjungan, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam terbiasa tanpa protokoler. Dia lebih sering berdua dengan ajudannya, yaitu Muhammad Taufik Alimuddin. Seperti yang terlihat pada Senin sore (6/9), bupati naik sepeda motor diikuti ajudannya. Saat itu, bupati berkendara menuju Kecamatan Proppo.

Di jalan raya Desa Samatan, bupati yang akrab disapa Mas Tamam itu menikung ke kanan dan berhenti di depan rumah Kades Samatan Mohammad Tamyis. Lalu, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Pamekasan itu duduk di teras musala Kades tersebut. Karena Kades sedang menghadiri sebuah acara, bupati melanjutkan perjalanan ke Desa Tlangoh.

”Saya sengaja mampir ke rumah Kades tanpa pemberitahuan. Kalau diberi tahu, akan ada persiapan-persiapan dari tuan rumah,” ucap Mas Tamam.

Baca Juga :  Puluhan Paket Proyek Gagal Terlaksana

Dalam perjalanan ke Desa Tlangoh, bupati melewati jalan lurus yang membelah area persawahan. Beberapa saat kemudian, Mas Tamam berhenti dan duduk di sebuah gubuk di area tanaman tembakau. Dia memperhatikan kondisi tanaman tembakau yang sudah banyak dipanen. ”Saya biasa tanpa protokoler, lebih enjoy,” ungkap Mas Tamam.

Menurut Mas Tamam, dalam kondisi tertentu, pejabat tidak boleh bersikap formal dan dikekang protokoler. Karena itu, ketika tidak ada acara kedinasan, dia memilih keliling berbaur dengan masyarakat. Tentunya naik sepeda motor didampingi ajudan tanpa pengawalan personel satpol PP, TNI, Polri, dan dishub.

”Saya dicap bupati swasta karena sering kunjungan tanpa protokoler. Meski dicap bupati swasta, saya tidak sakit hati,” tuturnya.

Baca Juga :  Data Honorer Bermasalah Dewan Janji Lakukan Sinkronisasi

Mas Tamam mengungkapkan, hidup itu sederhana dan tidak boleh dibuat ruwet. Namun, bukan berarti dia tidak menghargai jabatannya sebagai kepala daerah. ”Saya tidak ingin karena jabatan malah membuat tidak bebas. Kemudian, membuat saya berjarak. Saya tidak mau itu terjadi. Bagi saya, jabatan bukan tujuan. Kalau jabatan menghalangi saya dekat dengan siapa pun, goodbye jabatan,” tegasnya.

Mas Tamam juga berkeliling ke Pasar 17 Agustus di Kelurahan Bugih dan Pasar Kolpajung di Kelurahan Kolpajung kemarin pagi (7/9). Saat itu, Mas Tamam berdialog dengan abang becak dan pedagang. Lalu, dia menawar dagangan mereka. ”Saya senang menjalani kehidupan tanpa jarak dengan siapa pun. Saya ingin mensyukuri semua nikmat dengan cara terbaik serta memberikan manfaat,” tandasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

BK Minta Ketua Komisi Sebut Terlapor

Ribuan Nelayan Terdampak Korona

Menuju Era Kenormalan Baru

Artikel Terbaru

/