alexametrics
21.2 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Bayi Malang dalam Kardus Minyak Goreng

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Penemuan bayi kembali terjadi di Pamekasan. Terbaru, bayi ditemukan dalam kardus minyak goreng di Jalan Raya Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Kamis sore (6/8).

Sore itu Zainal Abidin, 30, berangkat dari rumahnya di Desa Bungbaruh, Kecamatan Kadur. Zainal menuju Kecamatan Pademawu melewati Jalan Raya Desa Bunder.

Di depan Zainal, ada pengendara motor N-Max dengan tingkah mencurigakan. Kendaraan roda dua itu dikendarai lelaki dan seorang perempuan membonceng di belakang. Pengendara tersebut membawa kardus. Tak lama dari itu, kardus yang dibawanya ditinggalkan di pinggir jalan dekat pohon.

Karena curiga, Zainal mengecek kardus tersebut. Ketika mengetahui isinya bayi, dia segera menelepon saudaranya di Kecamatan Pademawu. Lalu, membawa bayi tersebut pulang ke rumahnya di Desa Bungbaruh.

Kapolsek Kadur AKP Mohammad Tarsun Hidayat menyampaikan, bayi tersebut diduga hasil hubungan di luar nikah. Ketika ditemukan, bayi tersebut dibungkus kaus kuning dan kain kafan.

Bayi tersebut segera dilarikan ke Puskesmas Kadur. Namun, karena peralatan di puskesmas tidak memadai, akhirnya dibawa ke RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan. Bayi malang itu tercatat masuk rumah sakit pelat merah itu sekitar pukul 23.00.

Baca Juga :  Bayi Malang Itu Akan Dikirim ke PSAB Sidoarjo, Ini Alasan Dinsos

Jawa Pos Radar Madura mendatangi rumah sakit di Jalan Raya Panglegur itu kemarin (7/8).  Berdasarkan data yang dihimpun, bayi tersebut belum genap berumur enam bulan dalam kandungan. Beratnya sekitar 705 gram.

Saat ini bayi perempuan itu sedang dirawat menggunakan tabung inkubator di salah satu ruangan RSUD. Organ-organ tubuhnya belum matang. Dokter Spesialis Paru RSUD Smart Pamekasan dr Syaiful Hidayat menerangkan, bayi prematur biasanya mengalami komplikasi.

Di antaranya, sesak napas karena organ parunya belum matang. Kemudian, hipoglikemia atau gula darah rendah.

Kasus tersebut ditangani Polsek Pademawu karena tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah Kecamatan Pademawu. Kapolsek Pademawu AKP Suryono tidak mengangkat telepon ketika hendak dimintai konfirmasi kemarin.

Sebelumnya, warga Kecamatan Pakong juga dikagetkan dengan penemuan bayi yang diperkirakan berumur sekitar tujuh bulan dalam kandungan. Bayi tanpa identitas tersebut ditemukan warga di Desa Pakong, Kecamatan Pakong, Jumat sore (3/7).

Baca Juga :  Polisi - Aktivis Cekamp Baku Hantam di Depan Kantor Bupati

Sementara itu, Dosen Sosiologi IAIN Madura Abd. Hannan berpendapat, maraknya fenomena pembuangan bayi merupakan buah dari hubungan di luar nikah. Hubungan yang dilakukan di luar nikah menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. ”Sehingga yang menjadi korban adalah bayi dan si perempuan,” katanya.

Dari perspektif sosiologi, lanjut Hannan, maraknya fenomena pembuangan bayi tak berdosa bisa dilihat sebagai bagian dari patologi sosial. Sebab, kasus ini jelas ini bertentangan dengan segala bentuk norma. Bukan saja normal sosial dan hukum, melainkan juga norma agama.

Menurut dia, ini persoalan krusial karena menyangkut moral sosial. Khususnya berkenaan dengan bangunan sistem dan nilai khas keaslian masyarakat Madura yang selama ini identik dengan simbol religius. ”Apalagi di Pamekasan selama ini dikenal dengan jargon Gerbang Salam,” katanya.

Hannan menambahkan, perlu sinergi orang tua mengontrol perilaku anak dan kerja-kerja sekolah dalam menajamkan perilaku etis anak. Khususnya remaja di tingkat SMA dan mahasiswa. Di tingkat mahasiswa, kata Hannan, perlu intervensi organisasi-organisasi untuk membawa kedewasaan berpikir sehingga tidak terjadi perilaku menyimpang. (ky)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Penemuan bayi kembali terjadi di Pamekasan. Terbaru, bayi ditemukan dalam kardus minyak goreng di Jalan Raya Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Kamis sore (6/8).

Sore itu Zainal Abidin, 30, berangkat dari rumahnya di Desa Bungbaruh, Kecamatan Kadur. Zainal menuju Kecamatan Pademawu melewati Jalan Raya Desa Bunder.

Di depan Zainal, ada pengendara motor N-Max dengan tingkah mencurigakan. Kendaraan roda dua itu dikendarai lelaki dan seorang perempuan membonceng di belakang. Pengendara tersebut membawa kardus. Tak lama dari itu, kardus yang dibawanya ditinggalkan di pinggir jalan dekat pohon.


Karena curiga, Zainal mengecek kardus tersebut. Ketika mengetahui isinya bayi, dia segera menelepon saudaranya di Kecamatan Pademawu. Lalu, membawa bayi tersebut pulang ke rumahnya di Desa Bungbaruh.

Kapolsek Kadur AKP Mohammad Tarsun Hidayat menyampaikan, bayi tersebut diduga hasil hubungan di luar nikah. Ketika ditemukan, bayi tersebut dibungkus kaus kuning dan kain kafan.

Bayi tersebut segera dilarikan ke Puskesmas Kadur. Namun, karena peralatan di puskesmas tidak memadai, akhirnya dibawa ke RSUD Slamet Martodirdjo Pamekasan. Bayi malang itu tercatat masuk rumah sakit pelat merah itu sekitar pukul 23.00.

Baca Juga :  Warga Temukan Bayi Dekat Selokan

Jawa Pos Radar Madura mendatangi rumah sakit di Jalan Raya Panglegur itu kemarin (7/8).  Berdasarkan data yang dihimpun, bayi tersebut belum genap berumur enam bulan dalam kandungan. Beratnya sekitar 705 gram.

Saat ini bayi perempuan itu sedang dirawat menggunakan tabung inkubator di salah satu ruangan RSUD. Organ-organ tubuhnya belum matang. Dokter Spesialis Paru RSUD Smart Pamekasan dr Syaiful Hidayat menerangkan, bayi prematur biasanya mengalami komplikasi.

Di antaranya, sesak napas karena organ parunya belum matang. Kemudian, hipoglikemia atau gula darah rendah.

Kasus tersebut ditangani Polsek Pademawu karena tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah Kecamatan Pademawu. Kapolsek Pademawu AKP Suryono tidak mengangkat telepon ketika hendak dimintai konfirmasi kemarin.

Sebelumnya, warga Kecamatan Pakong juga dikagetkan dengan penemuan bayi yang diperkirakan berumur sekitar tujuh bulan dalam kandungan. Bayi tanpa identitas tersebut ditemukan warga di Desa Pakong, Kecamatan Pakong, Jumat sore (3/7).

Baca Juga :  Dirawat di Puskesmas, Begini Kondisi Bayi yang Ditemukan Busiyah

Sementara itu, Dosen Sosiologi IAIN Madura Abd. Hannan berpendapat, maraknya fenomena pembuangan bayi merupakan buah dari hubungan di luar nikah. Hubungan yang dilakukan di luar nikah menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. ”Sehingga yang menjadi korban adalah bayi dan si perempuan,” katanya.

Dari perspektif sosiologi, lanjut Hannan, maraknya fenomena pembuangan bayi tak berdosa bisa dilihat sebagai bagian dari patologi sosial. Sebab, kasus ini jelas ini bertentangan dengan segala bentuk norma. Bukan saja normal sosial dan hukum, melainkan juga norma agama.

Menurut dia, ini persoalan krusial karena menyangkut moral sosial. Khususnya berkenaan dengan bangunan sistem dan nilai khas keaslian masyarakat Madura yang selama ini identik dengan simbol religius. ”Apalagi di Pamekasan selama ini dikenal dengan jargon Gerbang Salam,” katanya.

Hannan menambahkan, perlu sinergi orang tua mengontrol perilaku anak dan kerja-kerja sekolah dalam menajamkan perilaku etis anak. Khususnya remaja di tingkat SMA dan mahasiswa. Di tingkat mahasiswa, kata Hannan, perlu intervensi organisasi-organisasi untuk membawa kedewasaan berpikir sehingga tidak terjadi perilaku menyimpang. (ky)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/