alexametrics
20.7 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Bayi tanpa Anus Menunggu Tangan Dermawan

PAMEKASAN – Keluarga pasien duduk di koridor RSUD Slamet Martodirdjo sekitar pukul 14.30 Jumat (6/4). Kesedihan tak dapat disembunyikan dari wajah mereka. Di antara mereka ada yang tidur pulas tanpa alas tanpa bantal.

Sejumlah warga itu merupakan keluarga Abdurrahman dan Suhatiyah. Mereka warga Dusun Kobarung, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu. Kedatangan mereka ke rumah sakit pelat merah itu untuk menjenguk putra pasangan suami istri (pasutri) tersebut. Pasien itu sedang dirawat di ruang anak lantai dua karena tidak memiliki anus.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berusaha melihat dan mengambil gambar bayi di ruangan neonatal intensive care unit (NICU). Petugas ruangan tidak mengizinkan karena ada perintah dari atasan.

Koran ini kemudian mencoba menghubungi pimpinan rumah sakit milik Pemkab Pamekasan itu. Termasuk dr Farid Anwar selaku direktur. Namun telepon yang bersangkutan tidak aktif saat dihubungi berkali-kali.

JPRM kemudian terhubung dengan dr Mashar yang juga petinggi RSUD. Wakil direktur bidang medik itu mempersilakan mengambil gambar. Dengan syarat ada tanda tangan persetujuan keluarga pasien.

Baca Juga :  Skrining Kesehatan Peserta JKN Mudah dan Bermanfaat

Lalu dipanggilah Abdurrahman oleh petugas ruangan sebelum JPRM menandatangani persetujuan pengambilan gambar bayi yang sedang dirawat itu. Di ruangan tersebut, anak kedua Abdurrahman yang belum diberi nama itu masih tertidur pulas.

Di mulut bayi terpasang selang ukuran kecil. Selang itu sebagai alat alternatif saat bayi akan mengeluarkan air besar.

Abdurrahman menuturkan, istrinya lahir dengan cara operasi Caesar di RS Larasati pada Minggu (1/5). Saat itu mereka menggunakan layanan BPJS Kesehatan. ”Kami tiga hari ada di (RS) Larasati dan pulang hari Selasa (3/4). Alhamdulillah ibu dan bayi selamat. Sekarang istri saya ada di rumah,” terang pria bersongkok hitam itu.

Keesokan harinya kondisi bayi memburuk. Perutnya kembung. Dari kelaminnya keluar darah. Abdurrahman langsung meminta bantuan bidan desa.”Jadi anak saya langsung dirujuk ke rumah sakit oleh bidan desa” terangnya.

Baca Juga :  Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Sempat Ricuh

Eny Trisnawati selaku bidan desa yang menangani anak Abdurrahman menjelaskan, hasil diagnosis dokter, bayi mengalami atresia ani atau tanpa anus. Saat itu juga bayi tersebut dianjurkan dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Kamis (5/4).

Pihak rumah sakit juga menganjurkan agar bayi tersebut dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Setelah berkoordinasi ke rumah sakit di Surabaya, bayi tersebut belum bisa dirujuk dengan cepat. Sebab, rumah sakit di Surabaya penuh dengan pasien BPJS.

Sedangkan untuk menggunakan layanan umum, keluarga pasien tidak memiliki biaya. Abdurrahman hanya bekerja sebagai kuli garam. Penghasilannya hanya Rp 10 ribu–15 ribu per hari. Rumahnya juga terbuat dari bambu.

”Untuk menunggu di Surabaya, keluarga pasien tidak mempunyai biaya. Sementara ditangani di RSUD dulu sambil lalu menunggu konfirmasi dari Surabaya,” terangnya.

Misturi, sepupu Abdurrahman, berharap keponakannya itu bisa segera dibawa ke Surabaya. Hal itu agar bisa ditangani dengan cepat. ”Kasihan bayinya,” ucapnya.

PAMEKASAN – Keluarga pasien duduk di koridor RSUD Slamet Martodirdjo sekitar pukul 14.30 Jumat (6/4). Kesedihan tak dapat disembunyikan dari wajah mereka. Di antara mereka ada yang tidur pulas tanpa alas tanpa bantal.

Sejumlah warga itu merupakan keluarga Abdurrahman dan Suhatiyah. Mereka warga Dusun Kobarung, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu. Kedatangan mereka ke rumah sakit pelat merah itu untuk menjenguk putra pasangan suami istri (pasutri) tersebut. Pasien itu sedang dirawat di ruang anak lantai dua karena tidak memiliki anus.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berusaha melihat dan mengambil gambar bayi di ruangan neonatal intensive care unit (NICU). Petugas ruangan tidak mengizinkan karena ada perintah dari atasan.


Koran ini kemudian mencoba menghubungi pimpinan rumah sakit milik Pemkab Pamekasan itu. Termasuk dr Farid Anwar selaku direktur. Namun telepon yang bersangkutan tidak aktif saat dihubungi berkali-kali.

JPRM kemudian terhubung dengan dr Mashar yang juga petinggi RSUD. Wakil direktur bidang medik itu mempersilakan mengambil gambar. Dengan syarat ada tanda tangan persetujuan keluarga pasien.

Baca Juga :  Akibat Ban Pecah, Truk Pengangkut Garam Terbalik

Lalu dipanggilah Abdurrahman oleh petugas ruangan sebelum JPRM menandatangani persetujuan pengambilan gambar bayi yang sedang dirawat itu. Di ruangan tersebut, anak kedua Abdurrahman yang belum diberi nama itu masih tertidur pulas.

Di mulut bayi terpasang selang ukuran kecil. Selang itu sebagai alat alternatif saat bayi akan mengeluarkan air besar.

Abdurrahman menuturkan, istrinya lahir dengan cara operasi Caesar di RS Larasati pada Minggu (1/5). Saat itu mereka menggunakan layanan BPJS Kesehatan. ”Kami tiga hari ada di (RS) Larasati dan pulang hari Selasa (3/4). Alhamdulillah ibu dan bayi selamat. Sekarang istri saya ada di rumah,” terang pria bersongkok hitam itu.

Keesokan harinya kondisi bayi memburuk. Perutnya kembung. Dari kelaminnya keluar darah. Abdurrahman langsung meminta bantuan bidan desa.”Jadi anak saya langsung dirujuk ke rumah sakit oleh bidan desa” terangnya.

Baca Juga :  Siswa-Guru Smada Berprestasi

Eny Trisnawati selaku bidan desa yang menangani anak Abdurrahman menjelaskan, hasil diagnosis dokter, bayi mengalami atresia ani atau tanpa anus. Saat itu juga bayi tersebut dianjurkan dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Kamis (5/4).

Pihak rumah sakit juga menganjurkan agar bayi tersebut dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Setelah berkoordinasi ke rumah sakit di Surabaya, bayi tersebut belum bisa dirujuk dengan cepat. Sebab, rumah sakit di Surabaya penuh dengan pasien BPJS.

Sedangkan untuk menggunakan layanan umum, keluarga pasien tidak memiliki biaya. Abdurrahman hanya bekerja sebagai kuli garam. Penghasilannya hanya Rp 10 ribu–15 ribu per hari. Rumahnya juga terbuat dari bambu.

”Untuk menunggu di Surabaya, keluarga pasien tidak mempunyai biaya. Sementara ditangani di RSUD dulu sambil lalu menunggu konfirmasi dari Surabaya,” terangnya.

Misturi, sepupu Abdurrahman, berharap keponakannya itu bisa segera dibawa ke Surabaya. Hal itu agar bisa ditangani dengan cepat. ”Kasihan bayinya,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/