alexametrics
21.8 C
Madura
Tuesday, August 16, 2022

Doa Bersama dan Baca Puisi untuk Guru Budi

PAMEKASAN – ia adalah seorang guru/yang wajib dihargai dan diagungkan/gugur kini/dianiaya anak didiknya sendiri!/Tuhan…/seorang hamba-Mu/yang berhati melati/kini pergi/meninggalkan kami di sini//tiba-tiba sekali//udara pagi pun/terasa disesaki deduri/mengiris/menggores/ke dalam dada kami//ia adalah seorang guru//

ia adalah seorang guru/yang setia mengajarkan/bagaimana kelak kehidupan harus diwarnai//ia adalah seorang guru/yang tabah membukakan pintu-pintu masa depan/bagi anak didiknya//

ia adalah seorang guru/yang wajib dihargai dan diagungkan/gugur kini/dianiaya anak didiknya sendiri//Tuhan…/ia gugur/dianiaya anak didiknya sendiri//ribuan doa dan semesta air mata/mengantarnya kembali/ke ribaan cinta-Mu//

Tuhan…./seorang hamba-Mu/yang berhati melati/kini pergi/meninggalkan kami di sini//Tuhan…/dekaplah ia/dalam kasih-Mu//

Demikian puisi Telah Gugur Seorang Guru karya BH. Riyanto atau Budi Hariyanto. Sajak guru SMAN 1 Pademawu, Pamekasan, itu dibacakan Norani Dwi S. di sela-sela refleksi kematikan Achmad Budi Cahyanto. Puisi itu ditulis pada 3 Februari 2018 atau sehari setelah kematian guru kesenian SMAN 1 Torjun tersebut.

Baca Juga :  Guru Meninggal Dipukul Siswa, Pembalap Juga Berduka

Pembacaan puisi itu diiringi dengan instrumen lagu karya Achmad Budi Cahyanto. Siswa dan guru yang hadir hanyut dalam perasaan masing-masing.

Wajah ratusan murid SMAN 1 Pademawu terlihat sembab. Sebagian pelajar berseragam putih abu-abu itu tampak meneteskan air mata. Meski belum pernah bertemu dengan Achmad Budi Cahyanto, mereka merasa kehilangan. Merasakan sedih dan duka mendalam.

Mereka sedih karena nyawa seorang guru, pahlawan tanpa tanda jasa, harus berakhir di tangan muridnya sendiri. Tahlil dan doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk cinta dan kasih terhadap guru Budi.

Kepala SMAN 1 Pademawu Muhammad Taufiqurrachman Amin mengajak murid agar senantiasa menjaga nilai-nilai akhlakul karimah. Menurut dia, ketaatan terhadap guru bagian dari cara untuk mendapatkan ilmu yang barokah.

Baca Juga :  Berperan Hidupkan Kembali Seni Rupa yang Sempat Mati

Guru seni lukis SMAN 1 Pademawu Budi Hariyanto juga mengajak murid mengedepankan nilai-nilai kesopanan. Selain itu, dia bercerita pertemanannya dengan Achmad Budi Cahyanto. ”Tidak boleh ada kekerasan dalam sekolah. Sekolah adalah tempat mencari ilmu, memperbaiki moral, dan mencetak generasi masa depan,” katanya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ikrar murid. Ikrar tersebut antara lain berisi tentang tidak boleh ada kekerasan di dalam sekolah. Baik kekerasan antarmurid, kekerasan oleh murid kepada guru, ataupun kekerasan oleh guru kepada murid. Kemudian, dilanjutkan penggalangan dana.

PAMEKASAN – ia adalah seorang guru/yang wajib dihargai dan diagungkan/gugur kini/dianiaya anak didiknya sendiri!/Tuhan…/seorang hamba-Mu/yang berhati melati/kini pergi/meninggalkan kami di sini//tiba-tiba sekali//udara pagi pun/terasa disesaki deduri/mengiris/menggores/ke dalam dada kami//ia adalah seorang guru//

ia adalah seorang guru/yang setia mengajarkan/bagaimana kelak kehidupan harus diwarnai//ia adalah seorang guru/yang tabah membukakan pintu-pintu masa depan/bagi anak didiknya//

ia adalah seorang guru/yang wajib dihargai dan diagungkan/gugur kini/dianiaya anak didiknya sendiri//Tuhan…/ia gugur/dianiaya anak didiknya sendiri//ribuan doa dan semesta air mata/mengantarnya kembali/ke ribaan cinta-Mu//


Tuhan…./seorang hamba-Mu/yang berhati melati/kini pergi/meninggalkan kami di sini//Tuhan…/dekaplah ia/dalam kasih-Mu//

Demikian puisi Telah Gugur Seorang Guru karya BH. Riyanto atau Budi Hariyanto. Sajak guru SMAN 1 Pademawu, Pamekasan, itu dibacakan Norani Dwi S. di sela-sela refleksi kematikan Achmad Budi Cahyanto. Puisi itu ditulis pada 3 Februari 2018 atau sehari setelah kematian guru kesenian SMAN 1 Torjun tersebut.

Baca Juga :  Bupati Pamekasan: Riset Bisa Ketahui Kebutuhan Rakyat

Pembacaan puisi itu diiringi dengan instrumen lagu karya Achmad Budi Cahyanto. Siswa dan guru yang hadir hanyut dalam perasaan masing-masing.

Wajah ratusan murid SMAN 1 Pademawu terlihat sembab. Sebagian pelajar berseragam putih abu-abu itu tampak meneteskan air mata. Meski belum pernah bertemu dengan Achmad Budi Cahyanto, mereka merasa kehilangan. Merasakan sedih dan duka mendalam.

- Advertisement -

Mereka sedih karena nyawa seorang guru, pahlawan tanpa tanda jasa, harus berakhir di tangan muridnya sendiri. Tahlil dan doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk cinta dan kasih terhadap guru Budi.

Kepala SMAN 1 Pademawu Muhammad Taufiqurrachman Amin mengajak murid agar senantiasa menjaga nilai-nilai akhlakul karimah. Menurut dia, ketaatan terhadap guru bagian dari cara untuk mendapatkan ilmu yang barokah.

Baca Juga :  Pita Hitam untuk Kepergian Guru Budi

Guru seni lukis SMAN 1 Pademawu Budi Hariyanto juga mengajak murid mengedepankan nilai-nilai kesopanan. Selain itu, dia bercerita pertemanannya dengan Achmad Budi Cahyanto. ”Tidak boleh ada kekerasan dalam sekolah. Sekolah adalah tempat mencari ilmu, memperbaiki moral, dan mencetak generasi masa depan,” katanya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ikrar murid. Ikrar tersebut antara lain berisi tentang tidak boleh ada kekerasan di dalam sekolah. Baik kekerasan antarmurid, kekerasan oleh murid kepada guru, ataupun kekerasan oleh guru kepada murid. Kemudian, dilanjutkan penggalangan dana.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/