alexametrics
29.4 C
Madura
Friday, August 12, 2022

Geliat Perpustakaan Desa Lambat

PAMEKASAN – Proses edukasi dan pengenalan literasi seharusnya dimulai sejak dini. Salah satunya dengan membangun perpustakaan desa (perpusdes). Namun, banyak kepala desa yang kurang peduli terhadap pentingnya perpustakaan.

Seorang penggagas perpusdes dan kampung internet di Dusun Ju’ajih, Desa Mapper, Kecamatan Proppo, adalah Moh. Elman. Dia mengatakan, suplai ketersediaan buku menjadi kendala pengelolaan perpusdes.

Di perpusdes yang digerakkan dosen IAIN Madura tersebut hanya terdapat sekitar 1.600 eksemplar buku bacaan. Elman juga menyampaikan bahwa buku-buku yang ada tidak disuplai oleh dana desa. ”1.000 buku dari dinas perustakaan provinsi, 500 donasi dari teman-teman HMPS Matematika Unira, ada juga sekitar 50 dari teman-teman dosen IAIN Madura,” terang mantan ketua cabang PMII Pamekasan tersebut.

Baca Juga :  Budaya Membaca Perlu Dimulai dari Desa

Kendala lain adalah jaringan internet. ”Kita akan membuat internet sehat, di situ nanti tidak hanya buku hardcopy, tapi juga ada e-book,” terangnya kemarin (4/11).

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Pamekasan Kusairi menuturkan, perpusdes dan perpustakaan daerah itu sama. Hanya lokasi dan cakupannya yang berbeda. Buku, tata kelola, dan pengembangan perpustakaan desa dapat disokong dengan anggaran desa. ”Perpusda tugasnya mentoring perpustakaan desa,” ungkapnya.

Sebagai mentor, DPK Pamekasan terus berupaya sinergi dengan pemerintah desa. Upaya itu juga dilakukan bersama pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK). ”Sinergi itu untuk mendorong agar setiap desa ada perpusdesnya,” jelasnya.

Dia mengakui sudah ada ketentuan undang-undang pemerintah desa untuk membangun perpustakaan. Namun, hingga saat ini masih ada oknum Kades yang kurang peduli terhadap perpustakaan desa tersebut. Padahal, itu juga sudah diatur dalam permendes. (c2)

Baca Juga :  Warga Jalmak Apresiasi Klebun Akhmad Kusriyadi

PAMEKASAN – Proses edukasi dan pengenalan literasi seharusnya dimulai sejak dini. Salah satunya dengan membangun perpustakaan desa (perpusdes). Namun, banyak kepala desa yang kurang peduli terhadap pentingnya perpustakaan.

Seorang penggagas perpusdes dan kampung internet di Dusun Ju’ajih, Desa Mapper, Kecamatan Proppo, adalah Moh. Elman. Dia mengatakan, suplai ketersediaan buku menjadi kendala pengelolaan perpusdes.

Di perpusdes yang digerakkan dosen IAIN Madura tersebut hanya terdapat sekitar 1.600 eksemplar buku bacaan. Elman juga menyampaikan bahwa buku-buku yang ada tidak disuplai oleh dana desa. ”1.000 buku dari dinas perustakaan provinsi, 500 donasi dari teman-teman HMPS Matematika Unira, ada juga sekitar 50 dari teman-teman dosen IAIN Madura,” terang mantan ketua cabang PMII Pamekasan tersebut.

Baca Juga :  Hanya Delapan Desa Serius Kelola Perpusdes

Kendala lain adalah jaringan internet. ”Kita akan membuat internet sehat, di situ nanti tidak hanya buku hardcopy, tapi juga ada e-book,” terangnya kemarin (4/11).

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Pamekasan Kusairi menuturkan, perpusdes dan perpustakaan daerah itu sama. Hanya lokasi dan cakupannya yang berbeda. Buku, tata kelola, dan pengembangan perpustakaan desa dapat disokong dengan anggaran desa. ”Perpusda tugasnya mentoring perpustakaan desa,” ungkapnya.

Sebagai mentor, DPK Pamekasan terus berupaya sinergi dengan pemerintah desa. Upaya itu juga dilakukan bersama pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK). ”Sinergi itu untuk mendorong agar setiap desa ada perpusdesnya,” jelasnya.

Dia mengakui sudah ada ketentuan undang-undang pemerintah desa untuk membangun perpustakaan. Namun, hingga saat ini masih ada oknum Kades yang kurang peduli terhadap perpustakaan desa tersebut. Padahal, itu juga sudah diatur dalam permendes. (c2)

Baca Juga :  Pemkab Pamekasan Kembali Raih WTP
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/