alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Inisiator Program Akselerasi Mambaul Ulum Bata-Bata

PAMEKASAN – Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) RKH M. Tohir Abd. Hamid wafat Sabtu sore (3/7). Jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, tadi malam.

RKH M. Tohir Abd. Hamid atau yang akrab disapa Ra Tohir meninggal dunia pada usia 40 tahun. Dia lahir pada 14 Desember 1981. Putra pasangan almarhum RKH Abd. Hamid Ahmad Mahfudz Zayyadi dan almarhumah Hj Muthi’ah Abd. Muqit.

Selain di Ponpes Muba, Ra Tohir juga pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pulau Jawa. Dalam Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren disebutkan, Ra Tohir pernah nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Almarhum juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Darun Najah, Malang.

Pendidikan formal Ra Tohir diawali dari MI di lingkungan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata. Lalu, melanjutkan ke MTs dan MA di pondok yang sama. Setelah itu melanjutkan kuliah di STAI Al-Khairat. Sementara strata duanya diselesaikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semasa hidupnya Ra Tohir juga pernah menjadi rektor STAI Al-Khairat.

Di buku yang sama juga disebutkan bahwa Ra Tohir merupakan inisiator program-program akselerasi di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Selain itu menjadi pembina Silaturahmi Ulama Pantura Madura (SILU).

Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren adalah buku yang ditulis Ra Tohir. Buku bersampul kuning itu diterbitkan akhir 2017 dan dibedah di Pekan Ngaji III pada Selasa malam (23/1/2018). Panitia menghadirkan perwakilan Asosiasi Pemikir Bata-Bata (APB) Iksan Kamil Sahri mewakili penulis dan novelis Tasaro GK sebagai pembanding.

Baca Juga :  Pembangunan SD Disoal

Dikutip dari RadarMadura.id, buku tersebut membahas sosok putra kiai (lora) dari berbagai sisi. Di antaranya, status lora dalam bingkai sosial budaya, pola pendidikan lora serta potret pendidikan lora. Selain itu, buku 123 halaman itu mengupas motivasi belajar lora, religiusitas lora, dan judul lain yang masih berkaitan dengan identitas lora.

Iksan Kamil Sahri mengungkapkan, lora berada di dua kutub magnet yang saling tarik-menarik. Satu sisi memiliki peran dan tangung jawab sebagai pengganti ayahnya. Bukan hanya dalam sektor kompetensi agama, juga dalam bidang keilmuan lain.

Di sisi lain lora adalah sosok yang dihormati dan tidak ada yang berani melawan. Sebagai makhluk sosial, sedikit banyak bepengaruh pada kepribadian dan mental lora. ”Buku ini sangat menarik untuk dikaji dari berbagai sudut pandang. Khususnya tentang proses regenerasi kiai, sehingga mampu mengemban pesantren peninggalan ayahnya,” terangnya seperti dilansir RadarMadura.id pada 25 Januari 2018.

Iksan menjelaskan, kompetensi keilmuan lora bergantung pada model dan gaya belajar. Meskipun dianggap memiliki kompetensi inteligensi melebihi masyarakat atau santri tidak menjadi jaminan bisa pandai. Bahkan, kamampuan lora kadang juga biasa-biasa dan di bawah rata-rata. 

Baca Juga :  Peran Organisasi Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (1)

”Maka, belajar adalah kunci agar dia pintar atau alim. Dengan demikian, dia kelak bisa menjadi pengganti ayahnya sebagai kiai,” terang lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya yang mengeditori buku tersebut.

Karena itu, dalam konteks pendidikan, menjadi lora berarti juga tekanan. Sebab yang bersangkutan harus menjadi orang yang saleh dan alim dibandingkan dengan santri kebanyakan. Khususnya, dengan santri yang berasal dari daerahnya sendiri.

”Dalam buku ini disinggung menjadi lora bukanlah jaminan menjadi orang hebat. Jika disadari dan dikelola dengan baik, tekanan ini menjadi motivasi tersendiri bagi lora giat belajar,” jelas Iksan.

Buku ini hasil penelitian kepada santri di Ponpes Muba. Terutama santri yang berstatus lora untuk menggambarkan status mereka mengenai minat belajarnya. ”Buku ini diharapkan bisa memberi masukan konseptual bagi pembaca, santri, kiai dalam rangka meningkatkan motivasi belajar santri. Lebih-lebih bagi yang berstatus lora,” kata pria yang mengenal Ra Tohir sebagai sosok muda revolusioner itu.

Sebelum Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren, Ra Tohir juga menulis buku Risalah Haji dan Umrah (Pustaka Muba, 2015). (luq)

PAMEKASAN – Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) RKH M. Tohir Abd. Hamid wafat Sabtu sore (3/7). Jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, tadi malam.

RKH M. Tohir Abd. Hamid atau yang akrab disapa Ra Tohir meninggal dunia pada usia 40 tahun. Dia lahir pada 14 Desember 1981. Putra pasangan almarhum RKH Abd. Hamid Ahmad Mahfudz Zayyadi dan almarhumah Hj Muthi’ah Abd. Muqit.

Selain di Ponpes Muba, Ra Tohir juga pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pulau Jawa. Dalam Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren disebutkan, Ra Tohir pernah nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Almarhum juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Darun Najah, Malang.

Pendidikan formal Ra Tohir diawali dari MI di lingkungan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata. Lalu, melanjutkan ke MTs dan MA di pondok yang sama. Setelah itu melanjutkan kuliah di STAI Al-Khairat. Sementara strata duanya diselesaikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semasa hidupnya Ra Tohir juga pernah menjadi rektor STAI Al-Khairat.

Di buku yang sama juga disebutkan bahwa Ra Tohir merupakan inisiator program-program akselerasi di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Selain itu menjadi pembina Silaturahmi Ulama Pantura Madura (SILU).

Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren adalah buku yang ditulis Ra Tohir. Buku bersampul kuning itu diterbitkan akhir 2017 dan dibedah di Pekan Ngaji III pada Selasa malam (23/1/2018). Panitia menghadirkan perwakilan Asosiasi Pemikir Bata-Bata (APB) Iksan Kamil Sahri mewakili penulis dan novelis Tasaro GK sebagai pembanding.

Baca Juga :  Muba Lakukan Kunjungan Balasan ke UKM

Dikutip dari RadarMadura.id, buku tersebut membahas sosok putra kiai (lora) dari berbagai sisi. Di antaranya, status lora dalam bingkai sosial budaya, pola pendidikan lora serta potret pendidikan lora. Selain itu, buku 123 halaman itu mengupas motivasi belajar lora, religiusitas lora, dan judul lain yang masih berkaitan dengan identitas lora.

Iksan Kamil Sahri mengungkapkan, lora berada di dua kutub magnet yang saling tarik-menarik. Satu sisi memiliki peran dan tangung jawab sebagai pengganti ayahnya. Bukan hanya dalam sektor kompetensi agama, juga dalam bidang keilmuan lain.

Di sisi lain lora adalah sosok yang dihormati dan tidak ada yang berani melawan. Sebagai makhluk sosial, sedikit banyak bepengaruh pada kepribadian dan mental lora. ”Buku ini sangat menarik untuk dikaji dari berbagai sudut pandang. Khususnya tentang proses regenerasi kiai, sehingga mampu mengemban pesantren peninggalan ayahnya,” terangnya seperti dilansir RadarMadura.id pada 25 Januari 2018.

Iksan menjelaskan, kompetensi keilmuan lora bergantung pada model dan gaya belajar. Meskipun dianggap memiliki kompetensi inteligensi melebihi masyarakat atau santri tidak menjadi jaminan bisa pandai. Bahkan, kamampuan lora kadang juga biasa-biasa dan di bawah rata-rata. 

Baca Juga :  Tuan Guru Bajang Lecutkan Semangat Ribuan Santri

”Maka, belajar adalah kunci agar dia pintar atau alim. Dengan demikian, dia kelak bisa menjadi pengganti ayahnya sebagai kiai,” terang lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya yang mengeditori buku tersebut.

Karena itu, dalam konteks pendidikan, menjadi lora berarti juga tekanan. Sebab yang bersangkutan harus menjadi orang yang saleh dan alim dibandingkan dengan santri kebanyakan. Khususnya, dengan santri yang berasal dari daerahnya sendiri.

”Dalam buku ini disinggung menjadi lora bukanlah jaminan menjadi orang hebat. Jika disadari dan dikelola dengan baik, tekanan ini menjadi motivasi tersendiri bagi lora giat belajar,” jelas Iksan.

Buku ini hasil penelitian kepada santri di Ponpes Muba. Terutama santri yang berstatus lora untuk menggambarkan status mereka mengenai minat belajarnya. ”Buku ini diharapkan bisa memberi masukan konseptual bagi pembaca, santri, kiai dalam rangka meningkatkan motivasi belajar santri. Lebih-lebih bagi yang berstatus lora,” kata pria yang mengenal Ra Tohir sebagai sosok muda revolusioner itu.

Sebelum Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pimpinan Pesantren, Ra Tohir juga menulis buku Risalah Haji dan Umrah (Pustaka Muba, 2015). (luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/