alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

IAIN Madura Sukses Gelar Konferensi Internasional III

PAMEKASAN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar International Conference on Islamic Studies (ICONIS) III dan Call for Papers, Sabtu (2/11). Tema yang diusung The Best Practice of Islamic Moderation in Heterogeneous Society.

Acara tersebut bertujuan untuk terus mengampanyekan Islam moderat di tengah maraknya ekstremisme dan radikalisme berlatar belakang agama. Tema moderasi agama ini adalah tema tetap selama tiga kali berturut-turut ICONIS dilaksanakan.

”Beragam aliran dengan mudah keluar-masuk dari dan ke berbagai negara, tak terkecuali aliran dan gerakan radikalisme dan ekstremisme sehingga kita perlu membentengi diri,” kata Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim.

Menurut mantan pengurus cabang PMII Pamekasan itu, keragaman adalah niscaya. Tidak mungkin dihilangkan. ”Indonesia, sama juga Malaysia, merupakan negara plural-multikultural, sehingga moderasi beragama menjadi penting dibangun,” terangnya.

Dalam konferensi internasional tersebut, pihak IAIN Madura mendatangkan tiga cendekiawan muslim sebagai pembicara. Yakni, Director of Islamic Higher Education, Ministry of Religious Affairs Prof. Dr. M Arskal Salim GP. M.Ag. Kemudian Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof. Dr. Mujiburrahman, M.A.

Selain itu, tokoh cendekiawan asal Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia turut menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Yakni Head of Department of Fiqih and Usul, Academy of Islamic Studies Dr. Luqman Bin Haji Abdullah.

Baca Juga :  Iconis IV IAIN Madura Angkat Tema Tradisi Islam Madura

Acara yang dibuka dengan tarian khas Sumenep, yakni muwang sangkal, tidak serta-merta bisa diikuti oleh semua akademisi. Kendati terbuka untuk umum, acara tersebut hanya boleh diikuti mereka yang makalahnya lulus seleksi.

Dalam acara yang berlangsung mulai 1–3 November itu terdapat 145 pengusul makalah. Namun, hanya 65 pengusul yang lolos seleksi dan dapat mempresentasikan makalahnya di ICONIS III dan Call for Papers tersebut.

Para panelis tersebut berasal dari 19 perguruan tinggi yang tersebar di dalam dan luar negeri. Di antaranya dari IAIN Lhokseumawe, Aceh; Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta; Universitas Muhammadiyah, Malang; UIN Sunan Ampel, Surabaya; Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta; dan lainnya.

Delegasi dari Universitas Malaya juga datang sebanyak tiga orang panelis untuk ikut serta dalam konferensi tersebut. Sementara panelis terbanyak berasal dari IAIN Madura, yakni 26 panelis. Terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim. Dia menyampaikan apresiasinya yang begitu tinggi kepada IAIN Madura karena telah berupaya untuk konsisten dalam melaksanakan konferensi internasional.

Baca Juga :  Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Madura Deklarasi di IAIN Madura

”Ini tentu tidak serta-merta bisa dilakukan tanpa ada persiapan, tanpa ada kesiapan, dan kesediaan dari pelaksana, dalam hal ini pimpinan IAIN Madura dan segenap civitas academica di dalamnya,” terangnya.

Menurutnya, tema yang diusung dalam konferensi internasional tersebut merupakan tema besar dari Kementerian Agama dan aktivitas di seluruh 4.000 lebih satuan kerja di bawah kementerian. Bagi Kementerian Agama, moderasi beragama sebagai DNA.

”Dalam setiap aktivitas programnya, termasuk bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di bawah naungan Kementerian Agama, harus mengikutsertakan visi misi moderasi beragama,” jelasnya.

Prof. Dr. M. Arskal Salim juga menyampaikan bahwa pada 2020–2024, rancangan teknokratik atau rencana strategis kepemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin adalah memasukkan moderasi beragama sebagai kegiatan pokok. ”Moderasi beragama adalah cara untuk menjaga, memelihara, dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sambungnya.

Dia juga mengarahkan IAIN Madura dengan segala persiapannya untuk segera bertransformasi dari IAIN menjadi UIN Madura. ”Rektor IAIN sudah melakukan upaya-upaya strategis dalam menyiapkan proses ini, dan ini sudah ada tanda-tandanya,” tandasnya. (c2)

PAMEKASAN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar International Conference on Islamic Studies (ICONIS) III dan Call for Papers, Sabtu (2/11). Tema yang diusung The Best Practice of Islamic Moderation in Heterogeneous Society.

Acara tersebut bertujuan untuk terus mengampanyekan Islam moderat di tengah maraknya ekstremisme dan radikalisme berlatar belakang agama. Tema moderasi agama ini adalah tema tetap selama tiga kali berturut-turut ICONIS dilaksanakan.

”Beragam aliran dengan mudah keluar-masuk dari dan ke berbagai negara, tak terkecuali aliran dan gerakan radikalisme dan ekstremisme sehingga kita perlu membentengi diri,” kata Rektor IAIN Madura Mohammad Kosim.


Menurut mantan pengurus cabang PMII Pamekasan itu, keragaman adalah niscaya. Tidak mungkin dihilangkan. ”Indonesia, sama juga Malaysia, merupakan negara plural-multikultural, sehingga moderasi beragama menjadi penting dibangun,” terangnya.

Dalam konferensi internasional tersebut, pihak IAIN Madura mendatangkan tiga cendekiawan muslim sebagai pembicara. Yakni, Director of Islamic Higher Education, Ministry of Religious Affairs Prof. Dr. M Arskal Salim GP. M.Ag. Kemudian Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof. Dr. Mujiburrahman, M.A.

Selain itu, tokoh cendekiawan asal Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia turut menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Yakni Head of Department of Fiqih and Usul, Academy of Islamic Studies Dr. Luqman Bin Haji Abdullah.

Baca Juga :  IAIN Madura Persiapkan Diri Jadi UIN Madura

Acara yang dibuka dengan tarian khas Sumenep, yakni muwang sangkal, tidak serta-merta bisa diikuti oleh semua akademisi. Kendati terbuka untuk umum, acara tersebut hanya boleh diikuti mereka yang makalahnya lulus seleksi.

Dalam acara yang berlangsung mulai 1–3 November itu terdapat 145 pengusul makalah. Namun, hanya 65 pengusul yang lolos seleksi dan dapat mempresentasikan makalahnya di ICONIS III dan Call for Papers tersebut.

Para panelis tersebut berasal dari 19 perguruan tinggi yang tersebar di dalam dan luar negeri. Di antaranya dari IAIN Lhokseumawe, Aceh; Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta; Universitas Muhammadiyah, Malang; UIN Sunan Ampel, Surabaya; Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta; dan lainnya.

Delegasi dari Universitas Malaya juga datang sebanyak tiga orang panelis untuk ikut serta dalam konferensi tersebut. Sementara panelis terbanyak berasal dari IAIN Madura, yakni 26 panelis. Terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Acara tersebut dibuka langsung oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim. Dia menyampaikan apresiasinya yang begitu tinggi kepada IAIN Madura karena telah berupaya untuk konsisten dalam melaksanakan konferensi internasional.

Baca Juga :  Tak Ada Jalan Restorative Justice

”Ini tentu tidak serta-merta bisa dilakukan tanpa ada persiapan, tanpa ada kesiapan, dan kesediaan dari pelaksana, dalam hal ini pimpinan IAIN Madura dan segenap civitas academica di dalamnya,” terangnya.

Menurutnya, tema yang diusung dalam konferensi internasional tersebut merupakan tema besar dari Kementerian Agama dan aktivitas di seluruh 4.000 lebih satuan kerja di bawah kementerian. Bagi Kementerian Agama, moderasi beragama sebagai DNA.

”Dalam setiap aktivitas programnya, termasuk bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di bawah naungan Kementerian Agama, harus mengikutsertakan visi misi moderasi beragama,” jelasnya.

Prof. Dr. M. Arskal Salim juga menyampaikan bahwa pada 2020–2024, rancangan teknokratik atau rencana strategis kepemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin adalah memasukkan moderasi beragama sebagai kegiatan pokok. ”Moderasi beragama adalah cara untuk menjaga, memelihara, dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sambungnya.

Dia juga mengarahkan IAIN Madura dengan segala persiapannya untuk segera bertransformasi dari IAIN menjadi UIN Madura. ”Rektor IAIN sudah melakukan upaya-upaya strategis dalam menyiapkan proses ini, dan ini sudah ada tanda-tandanya,” tandasnya. (c2)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/