alexametrics
24.3 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Serapan Tembakau Sangat Rendah

PAMEKASAN – Pemerintah harus lebih tegas terhadap pabrikan. Realisasi serapan tembakau seharusnya sejalan dengan target. Tetapi, ada tiga pabrikan yang pembeliannya sangat sedikit. Pemerintah terkesan membiarkan.

Anggota DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, sejumlah pabrikan memberikan sinyal segera tutup pembelian. PT Gudang Garam salah satu perusahaan yang dikabarkan akan menghentikan pembelian dalam waktu dekat.

Beberapa gudang lain juga dikabarkan akan menyetop pembelian. Alasannya, serapan melebihi target. Tetapi, setelah ditelisik, data yang dimiliki Disperindag Pamekasan, ada tiga pabrikan yang pembeliannya sangat rendah.

Yakni, PT Bentoel Prima, PT Djarum, dan PT Wismilak (lihat grafis). Hingga menjelang tutup gudang, pembelian di tiga pabrikan itu stagnan. ”Pembeliannya sangat rendah,” katanya kemarin (3/10).

Ironisnya, Harun menyebut pemerintah terkesan membiarkan. Padahal, pembelian di tiga pabrikan itu stagnan terjadi beberapa pekan terakhir. Melihat tren pembelian, tidak ada perubahan yang signifikan.

Seharusnya, disperindag selaku organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertugas mengawasi industri tembakau bertindak. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan meminta klarifikasi terhadap pabrikan yang bersangkutan.

Jika ada kendala, bisa dibantu mencari jalan keluar. Tetapi jika dibiarkan, petani menjadi korban. Tembakau bisa tidak terserap secara total. ”Pemerintah jangan tinggal diam, bantu petani,” desaknya.

Baca Juga :  JPRM Bagikan 500 Masker untuk Agen dan Loper

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyampaikan, jika serapan di tiga pabrikan tidak mengalami perubahan, dewan akan turun langsung. Masing-masing pabrikan akan dimintai keterangan. Jika alasannya terkesan hanya mengada-ada, wakil rakyat akan bertindak.

Salah satunya, melayangkan rekomendasi kepada bupati untuk menjatuhkan sanksi. Pemerintah berhak mengintervensi perusahaan demi kesejahteraan rakyat. Jika pengusaha tidak mau mengikuti aturan pemerintah, pencabutan izin bisa dilakukan.

Bagi Harun, sudah saatnya pemerintah bertindak membela petani. Selama beberapa tahun terakhir, petani kerap dirugikan. Industri tembakau tidak menguntungkan. Sementara hasil tembakau menjadi harapan besar bagi petani dalam menyambung hidup.

Dewan tidak akan tinggal diam. Berbagai upaya akan dilakukan. Salah satunya, meminta agar pabrikan memperpanjang masa pembelian selama target serapan belum tercapai. ”Kasihan petani, kalau bukan pemerintah yang membela, siapa lagi,” katanya.

Petugas lapangan PT Djarum Rokhim mengatakan, pembelian tetap dilakukan. Diupayakan, pembelian tembakau petani sesuai dengan target serapan tahun ini. Selama masih ada tembakau yang kualitasnya masuk kriteria, akan dibeli.

Sebab, PT Djarum memperhatikan keberlangsungan petani. Harga yang dipatok disesuaikan dengan kualitas daun emas itu sendiri. ”Selama kualitasnya masuk, kami tetap beli, karena (kami) masih memikirkan keberlanjutan usaha petani,” tandasnya.

Baca Juga :  Tak Sampai Setahun, Belasan TKI Meninggal

Kabid Perlindungan Konsumen dan Kemetrologian Disperindag Pamekasan Imam Hidayat mengatakan, PT Wismilak tutup sejak beberapa waktu lalu meski serapan belum terpenuhi. Kemudian, serapan PT Bentoel belum sesuai target lantaran jadwal buka lambat.

Informasi yang diperoleh, ada persoalan di internal perusahaan. Tetapi, perusahaan itu tetap melakukan pembelian. Sementara PT Djarum serapannya lumayan tinggi dan tetap menyerap tembakau.

Pemerintah berupaya agar serapan pabrikan sesuai target. Beberapa waktu lalu, pemerintah bersurat ke PT Gudang Garam untuk memperpanjang masa pembelian. Respons perusahaan yang bermarkas di Kediri itu sangat baik.

Masa pembelian diperpanjang meski serapan di atas target. Perusahaan raksasa itu akan tetap melakukan pembelian hingga 6 Oktober. ”Kami terus berupaya agar serapan tembakau sesuai target,” katanya.

Direktur PT Wijaya Sentosa Abadi (WSA) Bernath Brondiva membenarkan pembelian diperpanjang. Jadwal semula, perusahaan milik PT Gudang Garam itu akan menghentikan pembelian pada 29 September 2019.

Namun, pemerintah berkirim surat kepada direksi untuk memperpanjang masa pembelian. Surat tersebut dikabulkan. ”Mengenai jadwal pasti buka sampai kapan, belum dapat tembusan. Tapi yang jelas masa pembelian diperpanjang,” tandasnya.

PAMEKASAN – Pemerintah harus lebih tegas terhadap pabrikan. Realisasi serapan tembakau seharusnya sejalan dengan target. Tetapi, ada tiga pabrikan yang pembeliannya sangat sedikit. Pemerintah terkesan membiarkan.

Anggota DPRD Pamekasan Harun Suyitno mengatakan, sejumlah pabrikan memberikan sinyal segera tutup pembelian. PT Gudang Garam salah satu perusahaan yang dikabarkan akan menghentikan pembelian dalam waktu dekat.

Beberapa gudang lain juga dikabarkan akan menyetop pembelian. Alasannya, serapan melebihi target. Tetapi, setelah ditelisik, data yang dimiliki Disperindag Pamekasan, ada tiga pabrikan yang pembeliannya sangat rendah.


Yakni, PT Bentoel Prima, PT Djarum, dan PT Wismilak (lihat grafis). Hingga menjelang tutup gudang, pembelian di tiga pabrikan itu stagnan. ”Pembeliannya sangat rendah,” katanya kemarin (3/10).

Ironisnya, Harun menyebut pemerintah terkesan membiarkan. Padahal, pembelian di tiga pabrikan itu stagnan terjadi beberapa pekan terakhir. Melihat tren pembelian, tidak ada perubahan yang signifikan.

Seharusnya, disperindag selaku organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertugas mengawasi industri tembakau bertindak. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan meminta klarifikasi terhadap pabrikan yang bersangkutan.

Jika ada kendala, bisa dibantu mencari jalan keluar. Tetapi jika dibiarkan, petani menjadi korban. Tembakau bisa tidak terserap secara total. ”Pemerintah jangan tinggal diam, bantu petani,” desaknya.

Baca Juga :  Penggunaan Masker Belum Merata

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyampaikan, jika serapan di tiga pabrikan tidak mengalami perubahan, dewan akan turun langsung. Masing-masing pabrikan akan dimintai keterangan. Jika alasannya terkesan hanya mengada-ada, wakil rakyat akan bertindak.

Salah satunya, melayangkan rekomendasi kepada bupati untuk menjatuhkan sanksi. Pemerintah berhak mengintervensi perusahaan demi kesejahteraan rakyat. Jika pengusaha tidak mau mengikuti aturan pemerintah, pencabutan izin bisa dilakukan.

Bagi Harun, sudah saatnya pemerintah bertindak membela petani. Selama beberapa tahun terakhir, petani kerap dirugikan. Industri tembakau tidak menguntungkan. Sementara hasil tembakau menjadi harapan besar bagi petani dalam menyambung hidup.

Dewan tidak akan tinggal diam. Berbagai upaya akan dilakukan. Salah satunya, meminta agar pabrikan memperpanjang masa pembelian selama target serapan belum tercapai. ”Kasihan petani, kalau bukan pemerintah yang membela, siapa lagi,” katanya.

Petugas lapangan PT Djarum Rokhim mengatakan, pembelian tetap dilakukan. Diupayakan, pembelian tembakau petani sesuai dengan target serapan tahun ini. Selama masih ada tembakau yang kualitasnya masuk kriteria, akan dibeli.

Sebab, PT Djarum memperhatikan keberlangsungan petani. Harga yang dipatok disesuaikan dengan kualitas daun emas itu sendiri. ”Selama kualitasnya masuk, kami tetap beli, karena (kami) masih memikirkan keberlanjutan usaha petani,” tandasnya.

Baca Juga :  Pembangunan Pabrik Gula Tak Jelas

Kabid Perlindungan Konsumen dan Kemetrologian Disperindag Pamekasan Imam Hidayat mengatakan, PT Wismilak tutup sejak beberapa waktu lalu meski serapan belum terpenuhi. Kemudian, serapan PT Bentoel belum sesuai target lantaran jadwal buka lambat.

Informasi yang diperoleh, ada persoalan di internal perusahaan. Tetapi, perusahaan itu tetap melakukan pembelian. Sementara PT Djarum serapannya lumayan tinggi dan tetap menyerap tembakau.

Pemerintah berupaya agar serapan pabrikan sesuai target. Beberapa waktu lalu, pemerintah bersurat ke PT Gudang Garam untuk memperpanjang masa pembelian. Respons perusahaan yang bermarkas di Kediri itu sangat baik.

Masa pembelian diperpanjang meski serapan di atas target. Perusahaan raksasa itu akan tetap melakukan pembelian hingga 6 Oktober. ”Kami terus berupaya agar serapan tembakau sesuai target,” katanya.

Direktur PT Wijaya Sentosa Abadi (WSA) Bernath Brondiva membenarkan pembelian diperpanjang. Jadwal semula, perusahaan milik PT Gudang Garam itu akan menghentikan pembelian pada 29 September 2019.

Namun, pemerintah berkirim surat kepada direksi untuk memperpanjang masa pembelian. Surat tersebut dikabulkan. ”Mengenai jadwal pasti buka sampai kapan, belum dapat tembusan. Tapi yang jelas masa pembelian diperpanjang,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/