alexametrics
21 C
Madura
Sunday, June 26, 2022

Eduwisata Mangrove Harus Perhatikan Pengelolaan Sampah

PAMEKASAN – Tahun ini pemerintah akan memanfaatkan hutan mangrove di bibir pantai Desa Lembung, Kecamatan Galis. Hutan bakau itu akan disulap menjadi destinasi wisata baru yang sarat pendidikan. Namun, keberadaan sampah di sekitar pantai masih menjadi kendala.

Aktivis Padepokan Raden Umro Moh. Zayyadi mengatakan, destinasi wisata di Kota Gerbang Salam belum mampu menarik wisatawan luar daerah. Karena itu, perlu pembangunan wisata baru yang menarik agar wisatawan mau berkunjung ke Kota Gerbang Salam.

Menurut dia, pembangunan eduwisata mangrove termasuk destinasi yang jarang ditemukan di Pulau Madura. Pemerintah harus serius mengembangkan potensi alam tersebut. ”Destinasi hutan bakau ini akan menarik jika dikemas dengan baik,” katanya kemarin (3/2).

Keberadaan eduwisata mangrove juga akan berdampak pada lingkungan sekitar. Di antaranya, membangun perekonomian masyarakat sekitar. Hutan bakau ikut menjaga kualitas air yang bagus untuk ekosistem laut. Keberadaan hutan mangrove juga mengantisipasi timbulnya erosi di laut.

Baca Juga :  Besaran Suntikan Dana Pemprov untuk Penanganan Covid-19 Masih Dibahas

”Dengan adanya eduwisata mangrove, setidaknya ada tiga fungsi mangrove yang bisa dirasakan. Pertama, fungsi ekologis untuk menjaga kualitas air laut. Kedua, fungsi ekonomis bagi masyarakat sekitar dan terkahir fungsi fisik untuk menjaga erosi laut,” tutur dosen Unira tersebut.

Zayyadi menyampaikan, eduwisata mangrove dapat dikembangkan sebagai pendekatan pembelajaran berbasis mangrove. Pengunjung tidak hanya menikmati kesejukan di hutan mangrove. Lebih-lebih, mereka juga bisa belajar potensi pohon mangrove.

Untuk itu, Zayyadi berharap sistem pengelolaan ekowisata mangrove benar-benar maksimal. Apalagi tempatnya di pesisir pantai yang sering menjadi tempat berlabuhnya sampah. ”Yang perlu diantisipasi, keberadaan sampah di laut. Pengelolaan sampah, baik organik maupun nonorganik dari pengunjung perlu adanya sistem yang baik. Dengan begitu, keberadaan dan kebersihan hutan mangrove dapat terjaga,” ucapnya.

Baca Juga :  Disbudpar Ajukan Pembahasan Raperda Ripparkab

Pendiri Kelompok Tani Hutan Sabuk Hijau Slaman mengakui bahwa keberadaan sampah di tempat wisata menjadi sorotan. Jika eduwisata mangrove beroperasi, pihaknya memastikan di sekitar wisata akan steril dari sampah. Sebab, hal itu bisa mengganggu ekosistem laut.

Slaman menjelaskan, sampah di sekitar pantai akan dikelola dengan baik. Pihaknya bakal mengusulkan ada petugas khusus yang betugas mengolah sampah. Sampah yang potensial didaur ulang akan dijual agar menjadi sumber penghasilan. ”Pengunjung di sekitar hutan mangrove harus menjaga kebersihan,” tukasnya. (bil)

PAMEKASAN – Tahun ini pemerintah akan memanfaatkan hutan mangrove di bibir pantai Desa Lembung, Kecamatan Galis. Hutan bakau itu akan disulap menjadi destinasi wisata baru yang sarat pendidikan. Namun, keberadaan sampah di sekitar pantai masih menjadi kendala.

Aktivis Padepokan Raden Umro Moh. Zayyadi mengatakan, destinasi wisata di Kota Gerbang Salam belum mampu menarik wisatawan luar daerah. Karena itu, perlu pembangunan wisata baru yang menarik agar wisatawan mau berkunjung ke Kota Gerbang Salam.

Menurut dia, pembangunan eduwisata mangrove termasuk destinasi yang jarang ditemukan di Pulau Madura. Pemerintah harus serius mengembangkan potensi alam tersebut. ”Destinasi hutan bakau ini akan menarik jika dikemas dengan baik,” katanya kemarin (3/2).


Keberadaan eduwisata mangrove juga akan berdampak pada lingkungan sekitar. Di antaranya, membangun perekonomian masyarakat sekitar. Hutan bakau ikut menjaga kualitas air yang bagus untuk ekosistem laut. Keberadaan hutan mangrove juga mengantisipasi timbulnya erosi di laut.

Baca Juga :  Komisi IV Sebut Promosi Wisata Tak Ada Hasil

”Dengan adanya eduwisata mangrove, setidaknya ada tiga fungsi mangrove yang bisa dirasakan. Pertama, fungsi ekologis untuk menjaga kualitas air laut. Kedua, fungsi ekonomis bagi masyarakat sekitar dan terkahir fungsi fisik untuk menjaga erosi laut,” tutur dosen Unira tersebut.

Zayyadi menyampaikan, eduwisata mangrove dapat dikembangkan sebagai pendekatan pembelajaran berbasis mangrove. Pengunjung tidak hanya menikmati kesejukan di hutan mangrove. Lebih-lebih, mereka juga bisa belajar potensi pohon mangrove.

Untuk itu, Zayyadi berharap sistem pengelolaan ekowisata mangrove benar-benar maksimal. Apalagi tempatnya di pesisir pantai yang sering menjadi tempat berlabuhnya sampah. ”Yang perlu diantisipasi, keberadaan sampah di laut. Pengelolaan sampah, baik organik maupun nonorganik dari pengunjung perlu adanya sistem yang baik. Dengan begitu, keberadaan dan kebersihan hutan mangrove dapat terjaga,” ucapnya.

Baca Juga :  Pengembangan Wisata Terhalang Status Tanah

Pendiri Kelompok Tani Hutan Sabuk Hijau Slaman mengakui bahwa keberadaan sampah di tempat wisata menjadi sorotan. Jika eduwisata mangrove beroperasi, pihaknya memastikan di sekitar wisata akan steril dari sampah. Sebab, hal itu bisa mengganggu ekosistem laut.

Slaman menjelaskan, sampah di sekitar pantai akan dikelola dengan baik. Pihaknya bakal mengusulkan ada petugas khusus yang betugas mengolah sampah. Sampah yang potensial didaur ulang akan dijual agar menjadi sumber penghasilan. ”Pengunjung di sekitar hutan mangrove harus menjaga kebersihan,” tukasnya. (bil)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/