alexametrics
28.9 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Pendidikan Orang Tua Sangat Berperan

Nikah Dini Didominasi Siswa SMP

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Pernikahan dini menjadi sorotan banyak pihak. Pro dan kontra terjadi di kalangan masyarakat. Di Pamekasan, nikah di usia muda didominasi oleh lulusan SMP sederajat, yakni 93 kasus. Calon pengantin lulusan SD juga relatif banyak.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pamekasan mencatat, terdapat 152 anak di bawah umur yang mengajukan dispensasi nikah. Dari ratusan pemohon, 141 di antaranya adalah perempuan.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Pamekasan Nurul Fauziyah mengatakan, hampir setiap hari instansinya melayani permohonan rekomendasi pernikahan dini. Mereka berasal dari berbagai latar pendidikan.

Hingga Juli, 28 calon pengantin merupakan lulusan SD sederajat. Sebanyak 93 lainnya adalah lulusan SMP sederajat dan 31 pemohon merupakan lulusan SMA sederajat. ”Memang yang paling banyak itu lulusan SMP,” kata Nurul saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (2/8).

Menurut Nurul, latar belakang pendidikan bagi calon pengantin cukup berpengaruh terhadap kesiapan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Karena itu, penting mempersiapkan diri sebelum memutuskan untuk menikah, apalagi belum cukup umur.

Pemerintah menetapkan usia minimal 19 tahun bagi calon pengantin bukan tanpa alasan. Sebab, di usia tersebut seseorang dinilai sudah memasuki tahap dewasa dan siap menjalani pernikahan. ”Secara fisik maupun mental, usia tersebut cukup proporsional,” sambungnya.

Baca Juga :  Satlantas Belum Terima Juknis Smart SIM

Pemkab Pamekasan tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi permasalahan nikah dini. Setiap ditanya alasan menikah muda, rata-rata orang tua pemohon beralibi bahwa anaknya sudah siap menikah dan tak ingin terjerumus terhadap pergaulan bebas. Mau tidak mau harus mengeluarkan rekomendasi.

Nurul mencontohkan, beberapa pemohon memang mengaku hasil dari perkenalan sendiri. Namun, sikap mereka ketika mengikuti konseling menunjukkan adanya keterpaksaan dalam pernikahan. ”Keterlibatan orang tua dalam menjodohkan anak itu masih ada,” ucapnya.

Pemerintah gencar bersosialisasi untuk meminimalkan terjadinya pernikahan dini di Pamekasan. Baik ke lingkungan sekolah maupun ke desa-desa. Harapannya, masyarakat memahami potensi yang dialami dalam pernikahan dini.

Ketua Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan M. Sahibuddin menanggapi, nikah di usia belajar sangat disayangkan. Meski tujuannya untuk melindungi anak dari pengaruh kenakalan remaja saat ini. Keputusan untuk menikahkan anak di usia muda bukanlah solusi terakhir.

Sekolah berfungsi untuk memberikan pendidikan moral terhadap siswa. Pendidik harus mampu memotivasi anak didik untuk bisa mencapai cita-cita. ”Saya yakin dari sekian banyak pemohon tersebut, masih ada yang memiliki keinginan lain,” imbuhnya.

Sahibuddin menyesali keputusan calon pengantin untuk melakukan pernikahan dini, baik disengaja maupun dari unsur paksaan pihak tertentu. Baginya, usia di bawah 19 tahun itu merupakan masa emas dalam mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Baca Juga :  Tidak Ada Rute di Maps hingga Ban Hancur

Dia meyakini bahwa latar belakang pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap didikan anak di rumah. Karena itu, penting bagi calon pengantin untuk menamatkan pendidikan minimal 12 tahun atau SMA sederajat. ”Syukur-syukur bisa sampai lanjut sarjana,” tuturnya.

Sementara itu, sosiolog Pamekasan Novie Chamelia menjelaskan, fenomena nikah dini tidak bisa dilihat dari satu sisi. Melainkan, dari beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya pernikahan tersebut. Jadi, permasalahan tersebut tidak timpang sebelah di mata masyarakat.

Kejadian nikah di usia muda umumnya didasari faktor ekonomi. Pernikahan dini itu berbanding lurus dengan tradisi ngala tompangan alias untuk mengembalikan uang amplop. Kondisi ini marak terjadi di berbagai daerah. Mulai dari pelosok desa hingga wilayah perkotaan.

Kedua, minimnya literasi tentang pernikahan. Pengetahuan dan pengalaman tentang pernikahan itu harus menjadi bekal dalam mengarungi rumah tangga. ”Sehingga bukan sekadar niat untuk menjalankan sunah agama,” jelas pendiri Civitas Kotheka Pamekasan itu.

Ketiga, faktor lingkungan juga memengaruhi terjadinya pernikahan dini. Masyarakat sudah memaklumi kondisi tersebut. Kemudian, tidak adanya tawaran alternatif sebagai solusi. ”Mayoritas masyarakat menganggap pernikahan itu sebagai jalan keluar atau solusi dari sebuah permasalahan hidup,” tandasnya. (afg/han)

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Pernikahan dini menjadi sorotan banyak pihak. Pro dan kontra terjadi di kalangan masyarakat. Di Pamekasan, nikah di usia muda didominasi oleh lulusan SMP sederajat, yakni 93 kasus. Calon pengantin lulusan SD juga relatif banyak.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pamekasan mencatat, terdapat 152 anak di bawah umur yang mengajukan dispensasi nikah. Dari ratusan pemohon, 141 di antaranya adalah perempuan.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Pamekasan Nurul Fauziyah mengatakan, hampir setiap hari instansinya melayani permohonan rekomendasi pernikahan dini. Mereka berasal dari berbagai latar pendidikan.


Hingga Juli, 28 calon pengantin merupakan lulusan SD sederajat. Sebanyak 93 lainnya adalah lulusan SMP sederajat dan 31 pemohon merupakan lulusan SMA sederajat. ”Memang yang paling banyak itu lulusan SMP,” kata Nurul saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (2/8).

Menurut Nurul, latar belakang pendidikan bagi calon pengantin cukup berpengaruh terhadap kesiapan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Karena itu, penting mempersiapkan diri sebelum memutuskan untuk menikah, apalagi belum cukup umur.

Pemerintah menetapkan usia minimal 19 tahun bagi calon pengantin bukan tanpa alasan. Sebab, di usia tersebut seseorang dinilai sudah memasuki tahap dewasa dan siap menjalani pernikahan. ”Secara fisik maupun mental, usia tersebut cukup proporsional,” sambungnya.

Baca Juga :  Perbaikan Jalan Belum Dongkrak Pengunjung

Pemkab Pamekasan tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi permasalahan nikah dini. Setiap ditanya alasan menikah muda, rata-rata orang tua pemohon beralibi bahwa anaknya sudah siap menikah dan tak ingin terjerumus terhadap pergaulan bebas. Mau tidak mau harus mengeluarkan rekomendasi.

Nurul mencontohkan, beberapa pemohon memang mengaku hasil dari perkenalan sendiri. Namun, sikap mereka ketika mengikuti konseling menunjukkan adanya keterpaksaan dalam pernikahan. ”Keterlibatan orang tua dalam menjodohkan anak itu masih ada,” ucapnya.

Pemerintah gencar bersosialisasi untuk meminimalkan terjadinya pernikahan dini di Pamekasan. Baik ke lingkungan sekolah maupun ke desa-desa. Harapannya, masyarakat memahami potensi yang dialami dalam pernikahan dini.

Ketua Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan M. Sahibuddin menanggapi, nikah di usia belajar sangat disayangkan. Meski tujuannya untuk melindungi anak dari pengaruh kenakalan remaja saat ini. Keputusan untuk menikahkan anak di usia muda bukanlah solusi terakhir.

Sekolah berfungsi untuk memberikan pendidikan moral terhadap siswa. Pendidik harus mampu memotivasi anak didik untuk bisa mencapai cita-cita. ”Saya yakin dari sekian banyak pemohon tersebut, masih ada yang memiliki keinginan lain,” imbuhnya.

Sahibuddin menyesali keputusan calon pengantin untuk melakukan pernikahan dini, baik disengaja maupun dari unsur paksaan pihak tertentu. Baginya, usia di bawah 19 tahun itu merupakan masa emas dalam mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Baca Juga :  Cantrang Resmi Dilarang, Nelayan Meradang

Dia meyakini bahwa latar belakang pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap didikan anak di rumah. Karena itu, penting bagi calon pengantin untuk menamatkan pendidikan minimal 12 tahun atau SMA sederajat. ”Syukur-syukur bisa sampai lanjut sarjana,” tuturnya.

Sementara itu, sosiolog Pamekasan Novie Chamelia menjelaskan, fenomena nikah dini tidak bisa dilihat dari satu sisi. Melainkan, dari beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya pernikahan tersebut. Jadi, permasalahan tersebut tidak timpang sebelah di mata masyarakat.

Kejadian nikah di usia muda umumnya didasari faktor ekonomi. Pernikahan dini itu berbanding lurus dengan tradisi ngala tompangan alias untuk mengembalikan uang amplop. Kondisi ini marak terjadi di berbagai daerah. Mulai dari pelosok desa hingga wilayah perkotaan.

Kedua, minimnya literasi tentang pernikahan. Pengetahuan dan pengalaman tentang pernikahan itu harus menjadi bekal dalam mengarungi rumah tangga. ”Sehingga bukan sekadar niat untuk menjalankan sunah agama,” jelas pendiri Civitas Kotheka Pamekasan itu.

Ketiga, faktor lingkungan juga memengaruhi terjadinya pernikahan dini. Masyarakat sudah memaklumi kondisi tersebut. Kemudian, tidak adanya tawaran alternatif sebagai solusi. ”Mayoritas masyarakat menganggap pernikahan itu sebagai jalan keluar atau solusi dari sebuah permasalahan hidup,” tandasnya. (afg/han)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/