alexametrics
20.5 C
Madura
Sunday, May 29, 2022

Wisata Jeruk Lebih Menguntungkan Petani

PAMEKASAN – Petani jeruk di Desa Panaguan tidak lagi repot berjualan ke pasar atau mencari pengepul. Petani tinggal menunggu masyarakat datang membeli di tempat, sekaligus berwisata.

Dua tahun lalu, petani bersaing menjajakan jeruk yang dipanen dari lahannya. Mereka berkompetisi memikat hati pembeli di pasar. Sebagian ada yang dijual kepada pengepul dengan harga lebih murah dibanding dijual sendiri.

Aktivitas tersebut tidak lagi terjadi sejak tahun lalu. Petani tidak menjual jeruk ke pasar. Mereka tidak pula menjual buah dengan nama latin citrus X sinensis itu kepada pengepul. Petani tinggal menunggu serbuan masyarakat.

Sejak tahun lalu, lahan jeruk di Dusun Sakata dan Dusun Alas Tengah, Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu disulap menjadi destinasi wisata oleh petani. Wisata petik jeruk, begitu masyarakat menyebutnya.

Akses menuju lokasi wisata petik jeruk beraspal. Roda dua maupun roda empat bisa melalui jalan tersebut dengan nyaman. Pelayanan petani kepada pengunjung sangat ramah. Tidak ada penarikan karcis masuk.

Pengunjung boleh memakan jeruk sepuasnya di lahan tersebut. Tapi, tidak boleh dibawa pulang. Jika membawa pulang harus bayar. Harganya sangat terjangkau sehingga membuat pengunjung terkesan.

Alin Purnomo, pemilik lahan jeruk mengatakan, rata-rata masyarakat tidak menjual jeruk ke pasar atau kepada pengepul. Mereka memilih diam menunggu wisatawan berkunjung. Setiap pekan, hampir seratus orang berkunjung membeli jeruk.

Mereka tertarik lantaran bisa memetik sendiri. Pengunjung bisa memilih jeruk yang akan dipetik sesuai selera masing-masing. ”Sudah dua tahun kami jadikan wisata petik jeruk,” katanya kemarin (2/7).

Pengunjung diberi pelayanan baik. Mereka diberi kebebasan memakan jeruk di tempat secara gratis. Bagi yang ingin membeli, harganya terjangkau. Harga yang dipatok sama dengan di pasar.

Bedanya, kondisi jeruk lebih segar karena baru dipetik. Kemudian, pengunjung bisa memilih sesuai selera. ”Penghasilan yang kami terima lebih banyak dibanding dijual ke pasar maupun dijual kepada pengepul,” katanya.

Alin menyampaikan, semusim petani bisa meraup pendapatan Rp 17 juta. Jika dijual kepada pengepul, maksimal hanya memperoleh Rp 10 juta. Dengan demikian, rata-rata petani jeruk menjadikan lahannya sebagai destinasi wisata.

Baca Juga :  Retribusi Api Alam Jadi Pemasukan Desa

Pengunjung agrowisata hasil gagasan petani itu tidak hanya dari Pamekasan. Masyarakat dari kabupaten lain seperti Sumenep dan Sampang banyak yang berkunjung. ”Biasanya rombongan sekolah dan masyarakat umum yang berkunjung,” katanya.

Musim jeruk itu dari Juli sampai Agustus. Jika musim bagus, bisa bertahan sampai September. Ada dua dusun yang disulap menjadi destinasi wisata. Yakni, Dusun Sakata dan Dusun Alas Tengah.

Alin memiliki tiga petak kebun yang ditanami jeruk. Satu petak di Dusun Sakata dan dua petak di Dusun Alas Tengah.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengapresiasi kreativitas petani. Lahan jeruk yang disulap menjadi destinasi wisata itu memiliki dampak positif terhadap perekonomian.

Baca Juga :  Siring Kemuning Akan Masuk Paket Wisata Madura

Warga sekitar bisa membangun usaha makanan bagi wisatawan yang berkunjung. Kemudian, akan tumbuh lahan parkir yang dapat menyumbang pendapatan warga. Petani juga diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk berjualan.

Sahur berharap, potensi wisata itu bisa dikembangkan lebih baik. Dengan demikian, akan lebih banyak wisatawan yang berkunjung sehingga dampak ekonomi semakin terasa. ”Daerah lain seperti Malang, ada wisata petik apel, di sini wisata petik jeruk, kami sangat mengapresiasi,” tandasnya.

PAMEKASAN – Petani jeruk di Desa Panaguan tidak lagi repot berjualan ke pasar atau mencari pengepul. Petani tinggal menunggu masyarakat datang membeli di tempat, sekaligus berwisata.

Dua tahun lalu, petani bersaing menjajakan jeruk yang dipanen dari lahannya. Mereka berkompetisi memikat hati pembeli di pasar. Sebagian ada yang dijual kepada pengepul dengan harga lebih murah dibanding dijual sendiri.

Aktivitas tersebut tidak lagi terjadi sejak tahun lalu. Petani tidak menjual jeruk ke pasar. Mereka tidak pula menjual buah dengan nama latin citrus X sinensis itu kepada pengepul. Petani tinggal menunggu serbuan masyarakat.


Sejak tahun lalu, lahan jeruk di Dusun Sakata dan Dusun Alas Tengah, Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu disulap menjadi destinasi wisata oleh petani. Wisata petik jeruk, begitu masyarakat menyebutnya.

Akses menuju lokasi wisata petik jeruk beraspal. Roda dua maupun roda empat bisa melalui jalan tersebut dengan nyaman. Pelayanan petani kepada pengunjung sangat ramah. Tidak ada penarikan karcis masuk.

Pengunjung boleh memakan jeruk sepuasnya di lahan tersebut. Tapi, tidak boleh dibawa pulang. Jika membawa pulang harus bayar. Harganya sangat terjangkau sehingga membuat pengunjung terkesan.

Alin Purnomo, pemilik lahan jeruk mengatakan, rata-rata masyarakat tidak menjual jeruk ke pasar atau kepada pengepul. Mereka memilih diam menunggu wisatawan berkunjung. Setiap pekan, hampir seratus orang berkunjung membeli jeruk.

Mereka tertarik lantaran bisa memetik sendiri. Pengunjung bisa memilih jeruk yang akan dipetik sesuai selera masing-masing. ”Sudah dua tahun kami jadikan wisata petik jeruk,” katanya kemarin (2/7).

Pengunjung diberi pelayanan baik. Mereka diberi kebebasan memakan jeruk di tempat secara gratis. Bagi yang ingin membeli, harganya terjangkau. Harga yang dipatok sama dengan di pasar.

Bedanya, kondisi jeruk lebih segar karena baru dipetik. Kemudian, pengunjung bisa memilih sesuai selera. ”Penghasilan yang kami terima lebih banyak dibanding dijual ke pasar maupun dijual kepada pengepul,” katanya.

Alin menyampaikan, semusim petani bisa meraup pendapatan Rp 17 juta. Jika dijual kepada pengepul, maksimal hanya memperoleh Rp 10 juta. Dengan demikian, rata-rata petani jeruk menjadikan lahannya sebagai destinasi wisata.

Baca Juga :  Mayat ABK KM Cahaya Bahari Jaya Kembali Ditemukan Mengambang

Pengunjung agrowisata hasil gagasan petani itu tidak hanya dari Pamekasan. Masyarakat dari kabupaten lain seperti Sumenep dan Sampang banyak yang berkunjung. ”Biasanya rombongan sekolah dan masyarakat umum yang berkunjung,” katanya.

Musim jeruk itu dari Juli sampai Agustus. Jika musim bagus, bisa bertahan sampai September. Ada dua dusun yang disulap menjadi destinasi wisata. Yakni, Dusun Sakata dan Dusun Alas Tengah.

Alin memiliki tiga petak kebun yang ditanami jeruk. Satu petak di Dusun Sakata dan dua petak di Dusun Alas Tengah.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengapresiasi kreativitas petani. Lahan jeruk yang disulap menjadi destinasi wisata itu memiliki dampak positif terhadap perekonomian.

Baca Juga :  Retribusi Api Alam Jadi Pemasukan Desa

Warga sekitar bisa membangun usaha makanan bagi wisatawan yang berkunjung. Kemudian, akan tumbuh lahan parkir yang dapat menyumbang pendapatan warga. Petani juga diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk berjualan.

Sahur berharap, potensi wisata itu bisa dikembangkan lebih baik. Dengan demikian, akan lebih banyak wisatawan yang berkunjung sehingga dampak ekonomi semakin terasa. ”Daerah lain seperti Malang, ada wisata petik apel, di sini wisata petik jeruk, kami sangat mengapresiasi,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/