alexametrics
21.6 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Setelah 49 Tahun, Pamekasan Kembali Jadi Tuan Rumah MTQ Jatim

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Timur kembali digelar tahun ini. Pada pelaksanaan MTQ XXIX, Kabupaten Pamekasan ditunjuk sebagai tuan rumah. Kali ini merupakan kedua kalinya Kota Gerbang Salam ditempati kompetisi qurani tersebut.

KH. Fadli Ghazali mengatakan, pada pelaksanaan MTQ 1972, dia termasuk panitia yang menangani seksi publikasi dan dokumentasi. Sementara ketua seksi publikasi dan dokumentasi dipercayakan kepada almarhum KH. Munir Zarnuji.

Kiai Fadli menceritakan, Kabupaten Pamekasan dipilih sebagai tuan rumah karena lokasinya dianggap lebih strategis. Sebab, di tanah kota batik ini berdiri gedung keresidenan yang sekarang berganti nama bakorwil. Saat itu gubernur Jatim dipimpin RP Mohammad Noer. Sementara bupati Pamekasan dijabat Letkol CPM R Haliudin.

Baca Juga :  Mobdin M 513 AP Dipakai Latihan Mengemudi

MTQ kali pertama di Madura dilaksanakan di Pamekasan. Kemudian, di Sumenep juga pernah setelah Reformasi, kenang Kiai Fadli Jumat (1/10).

Jika dihitung, jarak antara pelaksanaan MTQ pertama dengan tahun ini berselang 49 tahun. Selama hampir setengah abad banyak perkembangan serta kemajuan dalam pelaksanaan MTQ. Terutama dalam variasi bidang perlombaan. Dulu yang ikut sekitar 27 kabupaten/Kota, paparnya.

Jika dibandingkan 1972, Kiai Fadli mengungkapkan, MTQ tahun ini banyak tambahan cabang perlombaan. Sebab, saat dia menjadi panitia, sekitar dua cabang lomba yang digelar. Yakni, hifdzil Quran dan tilawatil Quran dengan kategori dewasa, remaja, dan anak-anak. Cabang lomba MTQ dulu tidak sebanyak sekarang, ujarnya.

Baca Juga :  Jembatan Pasar 17 Agustus Semakin Rusak

Meski cabang lombanya sedikit, tidak menghilangkan kemeriahan pelaksanaan MTQ dan antusiasme peserta. Selain itu, ada interaksi sosial antarpesantren, baik dari dalam maupun luar Madura. Sebab, selain tinggal di tempat penginapan, rata-rata peserta MTQ tinggal di pesantren.

Dulu peserta dari luar daerah banyak yang menginap di pesantren. Sebab, pesertanya hampir semua dari pesantren, tuturnya.

Karena itu, Kiai Fadli menyarankan agar panitia MTQ XXIX memperhatikan fasilitas, sarana, dan prasarana yang dibutuhkan selama kompetisi berlangsung. Apalagi, cabang lomba cukup banyak sehingga memengaruhi jumlah peserta. Menurut dia, panitia harus bisa memastikan peserta mendapat tempat penginapan yang layak.

Fasilitas pendukungnya seperti toilet dan tempat parkir juga perlu disiapkan dengan maksimal, imbaunya. 

- Advertisement -

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Timur kembali digelar tahun ini. Pada pelaksanaan MTQ XXIX, Kabupaten Pamekasan ditunjuk sebagai tuan rumah. Kali ini merupakan kedua kalinya Kota Gerbang Salam ditempati kompetisi qurani tersebut.

KH. Fadli Ghazali mengatakan, pada pelaksanaan MTQ 1972, dia termasuk panitia yang menangani seksi publikasi dan dokumentasi. Sementara ketua seksi publikasi dan dokumentasi dipercayakan kepada almarhum KH. Munir Zarnuji.

Kiai Fadli menceritakan, Kabupaten Pamekasan dipilih sebagai tuan rumah karena lokasinya dianggap lebih strategis. Sebab, di tanah kota batik ini berdiri gedung keresidenan yang sekarang berganti nama bakorwil. Saat itu gubernur Jatim dipimpin RP Mohammad Noer. Sementara bupati Pamekasan dijabat Letkol CPM R Haliudin.

Baca Juga :  Realisasi Pamekasan Cantik Sedikit Terlambat

MTQ kali pertama di Madura dilaksanakan di Pamekasan. Kemudian, di Sumenep juga pernah setelah Reformasi, kenang Kiai Fadli Jumat (1/10).

Jika dihitung, jarak antara pelaksanaan MTQ pertama dengan tahun ini berselang 49 tahun. Selama hampir setengah abad banyak perkembangan serta kemajuan dalam pelaksanaan MTQ. Terutama dalam variasi bidang perlombaan. Dulu yang ikut sekitar 27 kabupaten/Kota, paparnya.

Jika dibandingkan 1972, Kiai Fadli mengungkapkan, MTQ tahun ini banyak tambahan cabang perlombaan. Sebab, saat dia menjadi panitia, sekitar dua cabang lomba yang digelar. Yakni, hifdzil Quran dan tilawatil Quran dengan kategori dewasa, remaja, dan anak-anak. Cabang lomba MTQ dulu tidak sebanyak sekarang, ujarnya.

Baca Juga :  RSUD Sudah Bebas Pasien┬áCovid-19

Meski cabang lombanya sedikit, tidak menghilangkan kemeriahan pelaksanaan MTQ dan antusiasme peserta. Selain itu, ada interaksi sosial antarpesantren, baik dari dalam maupun luar Madura. Sebab, selain tinggal di tempat penginapan, rata-rata peserta MTQ tinggal di pesantren.

Dulu peserta dari luar daerah banyak yang menginap di pesantren. Sebab, pesertanya hampir semua dari pesantren, tuturnya.

Karena itu, Kiai Fadli menyarankan agar panitia MTQ XXIX memperhatikan fasilitas, sarana, dan prasarana yang dibutuhkan selama kompetisi berlangsung. Apalagi, cabang lomba cukup banyak sehingga memengaruhi jumlah peserta. Menurut dia, panitia harus bisa memastikan peserta mendapat tempat penginapan yang layak.

Fasilitas pendukungnya seperti toilet dan tempat parkir juga perlu disiapkan dengan maksimal, imbaunya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/